11. Sakit

495 36 1
                                        

Hope you like it
and
Happy reading~

----oOo---

"Oh ... Jadi anaknya emang begitu. Kenapa nggak dinasehati aja? Pasti dia bisa ngerti, kok," saran Arumi setelah mendengar cerita tentang Garda dari Geni yang pagi ini datang ke rumahnya untuk mengajak putrinya pergi ke sekolah bersama.

"Susah Bunda, anaknya keras kepala. Bahkan Geni sama temen-temen udah beberapa kali nasehatin. Tapi ya gitu ... selalu gagal," jelas Geni. Giginya bergemelatuk mengunyah keripik singkong buatan Arumi.

"Namanya juga remaja. Kalau masih labil ya begitu, emosian, susah berpikir dengan kepala dingin, udah biasa. Wajar," ujar Arumi. Memberikan dua gelas susu sapi segar ke hadapan Geni dan juga Aerin. "Minum dulu susunya!"

"Jadi Bunda terima gitu, anaknya dapet kekerasan kayak gini? Nih, lihat nih! Aerin sampai bonyok Bundaaaa," marah Aerin tidak terima. Menunjukkan setiap luka lebam di tubuhnya.

"Bunda sebagai seorang ibu ya nggak terima, lah!" sanggah Arumi tak mau kalah.

"Kok Bunda nggak marah?" cicit Aerin.

"Anaknya aja nggak ada di sini, gimana Bunda mau marah? Iya kan Geni?" tegas Arumi mencari pembelaan.

Geni yang ditanya hanya bisa manggut-manggut mengiyakan. Sedangkan Aerin mengerucutkan bibirnya sedikit merasa kesal, tapi ... yang dikatakan Bundanya tidaklah salah.

"Geni, ayo berangkat!" ajak Aerin setengah memaksa. Padahal gadis itu belum menyentuh gelas susunya barang sekali.

Geni yang kala itu sedang meminum susunya, gelagapan hingga tersedak. Susu yang masih ada di dalam mulutnya tersembur sehingga membasahi seragam sekolahnya.

"Uhuk ... Uhuk ... Bent-Uhuk," racaunya terbatuk-batuk.

"Ayoooo!" Aerin menarik paksa lengan Geni agar laki-laki itu segera bangkit.

"Aerin, itu temennya masih minum!" tegur Arumi namun tidak dihiraukan. Anak itu keburu menarik Geni keluar bagaikan hewan. Kemudian menatap segelas susu yang masih penuh itu dan mendesah pelan, "hhh, nggak diminum lagi?"

----oOo----

"Kecelakaan? Kapan?" pekik Aerin dari balik helm kuning berkarakter Spongebobnya.

Aerin benar-benar terkejut ketika Geni mengatakan jika Garda mengalami kecelakaan. Tapi Aerin tidak terlalu heran sih, Garda kan suka seenaknya di jalanan. Buktinya, laki-laki itu pernah hampir menabraknya saat dia sedang menyebrangi zebra cross.

Setenang mungkin Geni menjawab, "Semalem. Sekitar jam ... 9 atau 10."

"Terus gimana? Ada korban jiwa nggak? Sekarang kira-kira dia gimana? Dia pasti seenaknya mangkanya bisa kecelakaan. Iya, 'kan?" tanya Aerin memberondong.

Geni terkekeh, pikirnya Aerin itu anaknya pendiam dan tidak banyak bicara. Tapi nyatanya salah. Gadis yang diboncengnya kini rupanya sangatlah cerewet.

"Gue kemarin sama Ezi yang jemput dia. Nggak ada korban jiwa. Garda baik-baik aja, cuma tangannya aja yang keseleo sama lecet-lecet dikit," jawab Geni dengan sabar.

"Oh ... gitu," lirih Aerin. "Oh iya! Denger-denger, lo orang Jateng juga, ya?"

"Cie ... stalking nih ceritanya?" goda Geni.

GARDA: EvanescentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang