30. Sebuah Akhir

197 5 0
                                        

Gadis dengan balutan seragam sekolah itu mengulurkan tangannya ke udara. Membiarkan telapak tangannya basah akan tetes demi tetes air hujan yang mengguyur kota sore itu. Membiarkan dinginnya hembusan angin menerpa kulit seputih saljunya.

Sudah dua jam lamanya dia menunggu kedatangan bis selanjutnya, karena ketinggalan bis sebelumnya. Tidak ada ojol yang menerima pesanannya, lantaran hujan yang memang turun dengan begitu derasnya. Menghembuskan angin kencang yang seakan menusuk kulit.

Dia sendirian di sini. Ditemani rasa sepi yang kian mendera, bersama penyesalan karena menolak tebengan Adelyn.

Namun perhatiannya teralihkan pada sebuah mobil yang tiba-tiba berhenti di hadapannya. Itu mobil Adelyn.

Aerin tersenyum, namun saat seseorang keluar dari sana, Aerin dibuat mundur beberapa langkah. Dadanya bergemuruh hebat.

"Hello, baby girl!" Seseorang itu tersenyum sampai-sampai kedua matanya membentuk bulan sabit yang manis.

"Adelyn mana?!" teriak Aerin. Namun laki-laki di depannya tetap tersenyum seperti orang gila. "ADELYN MANA, BRAGA?!!"

"DON'T CALL ME WITH THAT FUCKIN' NAME, BITCH!!" Baron mencengkeram leher Aerin seolah ingin meremukkan leher gadis itu saat itu juga.

Aerin yang kesulitan bernapas, memukul-mukul lengan kekar Baron yang sama sekali tak mau melepaskannya.

Baron benci panggilan itu. Baron benci harus mengingat lagi hari di mana keluarganya terbantai di hari ulang tahunnya.

Kue ulang tahun, pelukan hangat Mama, Kado ulang tahun dari Papa, dan ucapan selamat ulang tahun untuk Braga. Ingatan yang berusaha ia lupakan mati-matian.

Baron melepas cengkeramannya pada leher Aerin. Membuat gadis itu jatuh tersungkur ke tanah dengan terbatuk-batuk.

Baron memegangi kepalanya yang tiba-tiba saja terasa sangat pusing. Suara-suara aneh itu datang lagi. Bisik-bisik yang seakan-akan bisa memecahkan gendang telinganya saat itu juga. Dan saat telinganya mulai berdenging, Baron menatap Aerin nyalang. Mendekat ke arah gadis itu.

Laki-laki itu seakan tanpa kendali. Menjambak rambut Aerin sehingga membuat gadis itu berteriak kesakitan. Aerin berani bersumpah, rambutnya seperti akan dirontokkan bersamaan.

"Kok belom mati? Harusnya kan setelah ditembak mati, ya?" racau Baron tidak jelas. Sedangkan Aerin sudah menitikkan air matanya. Mencengkeram lengan Baron harap-harap dilepaskan.

"Baron, please ...," mohon gadis itu tiada henti. Menangis putus asa karena mau bagaimanapun, tidak akan ada yang menolongnya. Jalanan sangat sepi.

"Mereka berisik Ma, katanya Mama jahat."

PLAKK

"Ackk" Satu tamparan hinggap di pipi Aerin. Keras sekali sampai-sampai meninggalkan bekas kemerahan yang kentara di sana.

"Braga salah apa, Ma? Mereka kenapa ganggu Braga? Mama nggak boleh tidur, ya ..."

"Baron please ..."

PLAKK

"Mama sama Papa jahat! Aku nggak gila!"

Wajah cantik itu kini tak karuan. Sudut mata dan bibirnya sobek karena tamparan yang sangat keras itu. Luka lebam di mana-mana menambah kesan pilu. Air matanya menganak sungai tak mampu lagi terbendungi. Seakan pasrah antara hidup dan mati.

"Lebih bagus batu atau kertas, Ma, biar menang? Ma? Mama?" Baron masih meracau tidak jelas, mengguncang tubuh lemah Aerin yang hampir kehilangan kesadarannya.

"Batu?" gumam laki-laki itu. Menyeringai.

BUAGHHH

Dan tanpa aba-aba, Baron melayangkan satu pukulan pada pelipis Aerin. Membuat gadis itu kontan tak bisa berteriak dan mulai kehilangan kesadarannya.

Kamu telah mencapai bab terakhir yang dipublikasikan.

⏰ Terakhir diperbarui: Apr 25, 2024 ⏰

Tambahkan cerita ini ke Perpustakaan untuk mendapatkan notifikasi saat ada bab baru!

GARDA: EvanescentCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang