"Dingin~" Inupi kembali keruang tengah setelah mandi untuk menemui Chifuyu dan Kazutora yang tadi ditinggalkannya. "Ehh..." dia mematung melihat pemandangan didepan matanya itu. Apa yang dua orang itu lakukan dirumah orang sebagai tamu? dia membalikkan badannya untuk pura-pura tidak melihat apapun lalu kembali ke kamarnya dengan kecepatan kilat.
"Apa yang— ahh mereka gila" dia mendelusupkan kepalanya di bawah bantalnya.
Chifuyu bangkit dari posisinya lalu matanya memandang sekelilingnya, dia tadi merasa ada bayangan hitam yang baru saja terlihat.
"Aku fikir tadi ada Inupi"
"Bajuku kebuka nih, kamu dah gila?" rengek Kazutora yang ternodai.
"Dihh aku? Kamu yang gila, sini deket-deket lagi" kata Chifuyu menggodanya lagi.
"Pokoknya salahmu" bantah Kazutora menggembungkan pipinya.
"Dasar Kang nyalahin orang, ku hamilin juga nih" Chifuyu merauk wajah Kazutora lalu berlari menuju kamar Inupi untuk memanggilnya.
-
"Ada apa?" tanya Chifuyu melihat Inupi yang bergulung-gulung tak jelas di kasurnya.
"Udah?" tanya Inupi.
"Udah kok, ehh? udah apanya" jawab Chifuyu kikuk.
"Gak papa deh"
"Yok keluar" ajak Chifuyu menarik tangan Inupi dan membawanya keruang tengah kembali.
"Yosh! Kamu pulang aja gih, aku bakal nemenin Inupi disini" tegas Chifuyu melemparkan jaket pada Kazutora.
"Eh tega, diluar hujan" elaknya.
"Kan pake mobil, lagian siapa tau nanti malam ada petir atau apa, kasihan sama penderita Brontophobia kaya Inupi, jadi kamu pulang aja ya~" pinta Chifuyu dengan sangaaat lembut.
*Brontophobia : takut halilintar/petir.
Di part 1 sdh aku tekankan tntng Inupi yg gbsa tidur krn takut petir.
"Gimana kalau aku juga ikut tidur bareng kalian, kan lebih aman kalau banyak orang" usulnya mengelus tangan Chifuyu.
"GAK!!" gertak Chifuyu mendorong-dorong Kazutora untuk pergi.
"Ya udah iya iya. Oyasumi~ dan jangan macam-macam sama Inupi ya Puyyy" katanya penuh drama lalu pergi.
Mereka berbaring dikasur dengan posisi Inupi memeluk erat tangan Chifuyu karena ketakutan oleh suara petir yang terus menyambar. Chifuyu yang merasa kalau ketakutan Inupi mulai meningkat itu mencoba untuk menenangkannya, "Tenang Inupi, gak ada yang perlu ditakutkan" katanya.
"Nee Chifuyu, Draken ada bilang sesuatu gak ke kamu?"
"Gak ada tuh, dia cuma bilang kalau dia bakal sibuk kerja, jadi dia jarang bisa jengukin kamu, terus dia titipin kamu ke aku, gitu aja. Hihi kamu udah kayak barang aja ya"
"Aku ngerepotin gak sih"
"Ehh enggak lah, kita semua sayang sama kamu Inupi"
Mendengar perkataan Chifuyu, Inupi seketika merasa lega kembali. Sebenarnya dia masih memiliki keluarga selain Draken, dia diusir dari rumah karena dianggap beban, Inupi mudah jatuh sakit, membuatnya selalu keluar-masuk rumah sakit, perlu biaya untuk itu, jadi dianggap pemborosan dan akhirnya dia diusir dari rumah, Draken lah yang menjaganya selama ini, dibantu dengan Chifuyu yang akan merawat Inupi jika sakit. Tidak mau membebani Chifuyu yang bukan siapa-siapanya, Inupi memilih untuk membantu Chifuyu di Toko.
"Inupi makin cantik, jadi gak tahan eh. Dia mirip kakaknya" batin Chifuyu menatap wajah Inupi. Mirip sekali dengan mantan kekasihnya. Inui Akane.
-⚡-
"Hujannya deras ya, belum lagi petirnya" Mikey terduduk lemas dikursi dengan ukuran yang lebih besar dari tubuhnya.
"Kenapa? Dorayaki mu habis lagi?" tanya Sanzu yang duduk di atas meja Mikey.
"Kenapa kalo ngomong sama kamu selalu gak nyambung?" tanya Mikey datar.
"Mikey, badanmu kurusan. Woy Takeomi, sabu mana sabu" kata Sanzu kepada Takeomi yang sibuk sendiri.
"Makan membuatmu lelah mengunyah, cara ini lebih instan" sahut Takeomi ditengah sibuknya dia dengan banyaknya bungkusan sabu dihadapannya.
"Hei pak tua, lebih baik kau rawat kerutanmu itu" Sanzu melemparkan suntikan yang sudah dia isi dengan obatnya, itu suntikan awet muda katanya.
"Tolong ingatkan aku kalau dia adalah adikku" batin Takeomi.
"Loh kemana yang lain?" tanya Rindou yang baru datang, dia segera duduk dipangkuan Sanzu.
"Lagi mantap-mantap" jawab Sanzu memeluk Rindou yang berada di pangkuannya itu.
"Kalian? kenapa enggak?" tanya Mikey membuat Sanzu tertawa.
"Mikey, terlalu berlebihan jika melakukan itu setiap waktu, bagi orang sepertinya tidak papa, tapi bagi orang sepertiku akan ada masalah" jawab Rindou datar.
"Kau yang terus-terusan menggodaku, jangan salahkan aku jika aku horny" Sanzu merasa benar.
Kali ini dia tidak berbohong, Rindou lah yang terus menempelinya dan meminta yang tidak-tidak, dia hanya mengikuti permainan Rindou padanya dan akhirnya Rindou akan menyalahkan dirinya jika bagian tubuhnya terasa sakit. Walaupun begitu, Rindou selalu mengulangi perbuatannya itu.
"Ku pikir kamu ikut Ran" kata Mikey membuat Rindou terdiam.
"Lupa hmm..." balas Rindou.
"HAHAHAHA..." Mochi memasuki ruangan itu dengan tawa, nampak bahagia sekali.
"KORA!! kan dah sering diingetin, jangan ngakak diruangan ini, suaramu nyeremin" Sanzu melempar botol alkohol yang sudah kosong kearah Mochi, untung saja Mochi sempat menghindar dan botol itu pecah sia-sia.
"Jangan suruh aku buat bersihin ini" Kakucho yang datang bersama Mochi itu segera pergi saat matanya melihat pecahan botol itu, daripada terkena apes.
"Kalian ngapain ke sini? Si Ran udah datengin Koko belum?" tanya Mikey khawatir, anak buahnya hanyalah orang-orang tak becus yang ketika disuruh pasti akan menunda-nunda.
"Yang pasti dia udah pergi. Nah perginya kemana kita gak tau" jawab Mochi duduk disebelah Takeomi.
"Palingan juga ngapel dulu ke tempat Neng Mitsu—" sambung Sanzu mendapat kecupan dari Rindou agar berhenti bicara, daripada Sanzu menuduh Kakaknya sembarangan. Ya kecupan yang berakhir dengan hot kiss membuat orang yang ada disana hanya bisa menelan ludahnya saat melihat.
-🧬-
"Nghh... Ahh..."
"Mendesahlah Inupi"
to be continued...
YO!🗿
KAMU SEDANG MEMBACA
Just Me and You
FanfictionDilamar setelah bertemu selama kurang dari 2 menit, itupun mereka belum saling kenal dan seminggu setelahnya sudah resmi menikah. Mampukah keduanya menerjang setiap malam untuk tidur di bed yang sama tanpa kecanggungan? Mereka menikah bukan karena s...
