Happy reading, fren!
"Bang, nitip piring gue, ye, sekalian tolong cuciin." Ucup, cowok berambut keriting itu berucap sembari menyengir. Ia menaruh piring kotornya di sebelah ember dekat Bondan yang sedang sibuk dengan kegiatan mencuci piringnya.
Bondan mendongak sebentar, kemudian mendengus kesal. "Iye, iye. Karena gue anak yang baik hati dan tidak sombong, jadi gue cuciin sekalian."
Malam ini, Warung Abah lumayan ramai. Beberapa anak Artrada sedang berkumpul di sana, hanya sekadar untuk mengobrol dan bercanda ria layaknya keluarga.
Terkait Bondan yang sedang mencuci piring, itu sudah hal yang biasa. Mereka memang akan mencuci piringnya sendiri setelah makan di sana. Mereka tidak ingin membuat Abah dan istrinya kerepotan lebih banyak lagi. Oleh karena itu, jangan heran jika melihat anak geng motor ini melakukan aktifitas tersebut.
"Piring gue sekalian, Bon," teriak Tole dari arah belakang.
"SEMUANYA AJA GUE YANG NYUCI."
Tole menyengir seraya merangkul bahu Bondan. "Orang baik disayang Tuhan, Bon."
Bondan mendelik. "Tau gue! Makanya gue jadi orang baik, nih, nyuciin piring lo semua."
"Tenang, Bon, gue bantuin." Suara Bastian terdengar. Bastian menghampiri kedua cowok itu sembari membawa piring kotor miliknya. Ia baru saja selesai menyantap mie instan goreng kesukaannya. Memang tidak aneh, hanya makanan instan kemasan yang dapat dijumpai di hampir setiap toko, bahkan warung terdekat.
"Nah, ini baru namanya setia kawan, kawan. Bantuin nyuci bukan nyuruh nyuciin, Ucup," ucap Tole lantang menunjuk Ucup dengan wajah menyebalkan.
Bastian menendang bokong Tole yang sedang berdiri membelakanginya. "Lo juga nyuruh anying!"
"Adaw ... parah, Pak Bos, nendang-nendang bokong gue. Gimana kalo bokong gue ini tepos?!" pekik Tole sembari mengusap bokongnya pelan.
Mario menarik rambut Tole agar mendekat. "Udah, diem. Bacot mulu lo, Lele."
Sedangkan Bondan sedang menatap Bastian terharu. Bastian yang merasa diperhatikan pun menoleh, lalu mengernyit ngeri saat melihat raut wajah Bondan.
"Terima kasih, Pak Bos. Kau memang sahabat terbaik aku," ucapnya mengikuti salah satu suara animasi kartun yang kerap cowok itu tonton di televisi.
Bastian bergidik ngeri. Cepat-cepat ia menghindar dari pelukan cowok berdarah Sunda itu. Ditariknya kerah belakang jaket yang dipakai cowok itu. "Mending lanjutin kegiatan lo, Bon."
Bondan yang ditarik seperti anak kucing pun merengut sebal. Tangannya mengambil kembali piring yang tadi ia tinggalkan, melanjutkan kegiatan mencuci piringnya.
"Udah kayak bujangan yang kagak punya bini gue," gerutunya pelan.
"Pacar aja kagak punya lo, apalagi bini!" sahut Bastian.
"Ganteng doang, tapi nggak pernah ngaca," sindir Bondan pedas.
"Gue nggak ngaca aja udah ganteng. Kalau gue ngaca, takutnya cerminnya insecure lihat ketampanan gue." Bastian menyugar rambutnya ke belakang dengan senyum menjengkelkan.
Bondan menghentikan gerakan tangannya pada piring, kemudian menatap datar wajah menyebalkan ketuanya itu. "Nih, kalo misalkan gue lempar lo pake piring ini, kira-kira lo marah nggak, Bos?"
"Sialan."
Bondan menyengir lebar. "Canda, Bos."
"Mana berani gue sama Pak Bos gue yang ganteng ini, yang ada dipatahin duluan tulang gue," katanya dengan nada pelan di akhir kalimat.

KAMU SEDANG MEMBACA
SEBASTIAN [ON GOING]
Teen Fiction"Gue ramal, lo jadi jodoh gue. Fix no kecot." - Sebastian. Sebastian Sachdev Rendra, memiliki sifat tengil, kejam, dan sangat menyebalkan. Kadang ia juga bisa berubah menjadi sosok dingin dan seperti singa jika ketenangannya diganggu. Cowok humoris...