Terpesona

1.5K 150 43
                                    

BENCI JATUH CINTA Part 13
.

         Larut, tentu saja. Malam semakin larut. Andin sangat terlelap meski beberapa saat terus membolak-balikan tubuhnya ke samping kanan, kemudian ke samping kiri. Hingga ia membuka matanya perlahan dan mengerjap ngerjap.

"Apa? Bagaimana kau ada di sini?"

Andin beringsut dan kaget ketika sosok itu tiba-tiba ada di sebelahnya. Ia tersenyum manis dan mengerlingkan sebelah matanya.

"Aldebaran Alfahri, kamu...."

"Ini sudah siang nona cepat bangun!" perintah Al. "Saya sudah siapkan semua. barang barang, sudah dimasukkan ke bagasi juga."

Andin kaget dan bingung, bisa bisanya dia tidur sepulas itu. Rupanya sudah pagi. Hampir saja dia mengira sedang bermimpi.

"Dari mana kamu masuk? pintu kamar aku kunci semalam,." Andin terheran.

"Kemarin saya minta kunci cadangan ke resepsionis. begitu saja tidak tahu," ledek Al.

"Berarti semalam kamu?"

"Iya semalam aku menginap di sini. Kasur ini empuk juga ya," ujar Al.

Andin mencubit gemas pinggaiAk," berani sekali kamu begitu."

"Memastikan supaya kau aman Nona, tenang saja aku tidak macam-macam."

"Memangnya kau ini bodyguardku apa?" Al menyunggingkan senyuman.

"Cepat mandi nona, atau kau ingin aku mandikan. Setengah jam lagi saya tunggu," seru Al yang memberikan handuk pada Andin. Andin mendelik dan meliriknya kesal.

"Hoh,aku lupa kau  memang begitu 'kan, tidak punya sopan santun." Al tak menggubris, ia hanya tersenyum tipis.

Satu jam kemudian, Al menunggu Andin di lobi. Betapa terkejutnya, Matanya membelalak dan aturan napasnya seolah ingin berhenti. Terpesona dan terpukau tentunya dengan penampilan Andin yang tidak biasanya. Pandangannya tak henti menatap Andin, meski Andin menghampiri dan menaik turunkan tangannya d hadapan pria itu.

"Hey, Aldebaran Alfahri ... Tuan Aldebaran Alfahri!" sahutnya kencang. " Sudahlah, aku masuk mobil sekarang." ucapnya lagi.

Al tersadar, ia seperti melihat bidadari saja atau memang begitu terpesona dengan istrinya itu. "Dia terlihat cantik sekali," lirihnya pelan.

Sepanjang perjalanan Al tak henti mencuri pandang dengan melirik ke arah Andin. Gadis di sampingnya itu benar-benar sudah menghipnotisnya. Apa dia sudah jatuh cinta ya pada istrinya itu. Andin justru semakin membuat panas suasana, dirinya mengibaskan rambut dan men touch up make up nya. Linear nya terlihat indah, goresan lipstik memoles indah di ujung bibirnya.

"Tolong hentikan," ujar Al yang tiba-tiba menghentikan laju mobil.

"Kenapa berhenti? kita belum sampai 'kan?" tanya Andin heran.

"Saya tidak bisa fokus menyetir kalau kamu bersikap seperti itu."

"Bersikap bagaimana maksudmu?"

"Itu, seperti itu." Telunjuk Al mengarah pada alat makeup Andin.

"Memangnya kenapa? aku kan sedang merapikan riasan wajah. gimana, sudah cantik belum?" Andin malah menggoda Al.

"Jangan memancingku nona."

"Hih, siapa yang memancing sih. memancing itu di sungai. untung kau bukan ikan, kalau ikan pasti sudah ku pancing terus ku goreng ku lahap sampai tulang tulang nya sam---"

"Diamlah!" Al meletakkan ujung jari telunjuknya di bibir Andin. Andin refleks melepaskannya.

"Iih...."

Benci Jatuh CintaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang