Terlupakan

45 39 141
                                    

Hampir saja mata mereka saling menatap namun terhalang oleh para pekerja lain yang membawa lukisan yang alhasil menghalangi mata mereka untuk saling terkoneksi.

Dengan sedikit memiringkan kepala, Gita merasa familiar dengan orang yang sekilas dilihatnya. "Apakah pernah melihatnya sebelumnya?"

Gita berjalan memasuki lift menuju lantai 4. Belum sempat lift tertutup sempurna, seseorang menghalangi pintu lift sehingga terbuka kembali.

"Boleh aku masuk?"

Gita yang menyadari itu hanya menganggukkan kepala sebagai tanda setuju darinya.

Wanita yang mengenakan dress ungu dengan blink-blink silver sebagai motif utamanya masuk ke dalam lift dengan sebuah kotak hitam ditangannya tampak cantik dan anggun.

Gita merasa insecure dengan penampilannya yang tak terlihat cantik ataupun anggun bak princess.

Wanita itu menyadari sesuatu yang menggangu dirinya meski Gita tidak melakukan apapun. "Kau! Pegawai baru?"

Pertanyaan itu keluar dengan nada datar yang orang biasa pun akan sadar bahwa ada orang lain yang tidak menyukai dirinya sedang bertanya. "Iya, kenapa?"

"Tidak ada. Kau tampak asing di mataku,"

Tentu saja asing, kita kan baru pertama kali bertemu bodoh.

Gita yang merasa hawa sekitarnya semakin dingin menggosokkan kedua tangannya sambil sesekali mengusapkannya di area sekitar leher.

"Kampungan," ucapnya sambil melirik kearah gadis di sebelahnya.

Ucapan yang keluar dari mulut wanita itu berhasil ditangkap jelas oleh Gita, bukan karna suaranya yang terlalu tinggi dan juga terlalu rendah tapi karna jarak diantara mereka yang dekat terlebih sunyi yang lebih mendominasi.

Gita yang menyadari maksud dari perkataannya hanya bisa diam tanpa mengambil tindakan apapun yang akan  hanya merugikannya.

Saat tiba di lantai 4, Gita keluar lebih dulu meninggalkan wanita bermulut silet itu sendirian di dalam lift.

Saat keluar dari lift, Gita berjalan perlahan hingga pintu lift benar-benar tertutup dan berbalik arah, "Emangnya lu ga sadar apa, ke kantor pakai dress yang sama sekali enggak cocok iih." Sambil menggoyangkan bahu bak geli terhadap sesuatu dan sempat menendang pintu lift itu.

Saat melakukan aksinya, Gita dibuat kaku oleh suara seseorang yang menarik fokusnya.

"Hkm, sedang apa anda disini?"

Gita yang menyadari itu langsung berbalik dan hanya mengeluarkan senyuman kikuknya.

"Gawat, hari pertama udah kepergok nendang lift, gimana nasibku selanjutnya," batin Gita sambil menundukkan tatapannya.

-

Di suatu ruangan yang didominasi oleh warna putih serta alat-alat berwarna silver disertai seseorang yang menggunakan kacamata tengah duduk memeriksa sebuah berkas yang berada di hadapannya.

Tampak raut wajah cerdas dan tampan dari caranya mengamati berkas tersebut hingga suara ketukan pintu membuyarkan fokusnya.

"Masuk," ucapnya.

Terlihat seseorang yang menggunakan pakaian yang sama memasuki ruangan putih itu.

"Oh ayolah, sekali saja berhenti menatap kertas-kertas itu," keluhnya.

"Mau apa kau ke kantorku?" ucapnya.

"Tidak ada. Hanya ... " pungkasnya sengaja dipotong.

"Hanya?"

Seru Berujung TanyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang