Seperti hari Senin pada umumnya, semua orang kembali pada aktivitas mereka masing-masing.
Di sebuah bangunan kokoh yang digunakan sebagai tempat berkumpulnya para remaja menemukan jati diri mereka, ada satu tempat yang menjadi favorit kalangan remaja.
Di sana memperlihatkan segerombolan remaja tengah memperhatikan dan bersorak ria meneriakkan tim yang tengah mengadu skill di lapangan basket.
Para siswa yang memiliki tinggi dan wajah rupawan memang menjadi sorotan dimana-mana. Mereka memiliki pesona tersendiri, terlebih dalam bermain basket. Anak basket memang sering digemari saat masa SMA. Selain para pemainnya yang tampan, mereka juga memiliki kualitas yang patut diacungi jempol.
Ketika remaja lain menggandrungi pertandingan basket, lain hal dengan Gita yang malah asik sibuk sendiri dengan ponselnya. Tanpa sadar, bola yang seharusnya memasuki ring malah terbang bebas kearah lain dan menghantam keras tepat di kepala Gita.
'Akh!... ' sambil memegang salah satu sisi kepala yang terhantam sesuatu yang keras.
Tuing... Tuing... ( Pantulan bola )
Seketika pemain yang melempar bola berlari mendekati Gita yang terlihat kesakitan.
"Kamu gak apa-apa? Maaf tadi bolanya gak sengaja meleset dan kebetulan kamu disini. Sekali lagi saya minta maaf ya? Masih sakit? Mau aku antar ke UKS?"
"Gak, gak usah. Gak papa kok. Lagian sakitnya cuma sebentar. Gak perlu khawatir." Pergi meninggalkan tempat kejadian.
"Saya antar ke UKS ya!?"
"Gak perl-u" ucapnya shock ketika merasakan seseorang sedang berusaha menggendongnya, dan ya orang yang tadi kehilangan kendali atas bola basketnya tengah menggendong Gita tanpa izin.
Ketika manik mata mereka bertemu, Gita terkejut dengan orang yang kini tengah menggendongnya bukan karena mereka orang asing tapi yang lebih mengejutkan orang itu adalah Wahyu. Kulkas 7 pintunya.
"Saya antar kamu ke UKS ya! Saya takut kamu nanti bodoh karena saya." Ketusnya.
Gita yang masih ragu apakah yang dilihatnya memang benar kulkas 7 pintunya atau hanya halusinasinya akibat efek terkena bola.
Semua mata memandang dengan penuh tanda tanya dan sedikit dari mereka menyimpulkan bahwa mereka memiliki hubungan spesial.
"Maaf. Kalian lanjutkan saja latihannya, aku mau mengantarnya ke UKS!" Ucapnya yang mendapat anggukan dari tim basketnya.
Wahyu yang sampai di UKS menurunkan Gita di tempat tidur yang tersedia. Dengan sigap dia mengambil air untuk diberikan kepada Gita.
"Wahyu kamu apa apaan sih? Ngapain kamu pakai acara gendong aku segala?! Aku gak suka ya kamu kek gini! Kita emang temenan sekarang, tapi kamu gak bisa seenaknya kayak gini!"
"Maaf. Aku takut kamu kenapa-napa."
Dengan frustasi Gita tak bisa berkata apa-apa lagi selain siap menghadapi gosip dimana-mana.
Selang beberapa minggu, perbincangan WaGit mulai mereda diiringi akan berlangsungnya penilaian akhir semester genap yang akan dilaksanakan kurang dari seminggu.
Semua orang sedang sibuk melengkapi catatan dan mengerjakan latihan soal, berharap lancar saat ujian.
"Wildan! Catatan matematika mu lengkap kan? Aku boleh liat gak?" Salsa
"Aku gak bawak bukunya"
"Pas sampai rumah boleh minta tolong fotoin ga?"
"Nanti aku gak pulang ke rumah." Meninggalkan.
Wildan yang merasa terganggu memilih pergi ke luar kelas membawa barang-barangnya. Dengan santai dia jalan melewati lorong per lorong sambil meminum susu kotak melewati orang-orang yang berada disekitarnya. Jalannya terhenti ketika melihat ketua kelasnya tengah asik duduk sendiri di perpustakaan dan berniat menghampirinya.
"Gita!" Sambil menarik kursi tepat berlawanan arah dan menempatkan diri untuk duduk.
Gita yang menyadari didekati seseorang hanya melihat sekilas orang yang datang menghampirinya.
"Boleh ikut belajar disini gak?" Sambil membuka tas mengeluarkan bukunya dan mendapatkan anggukan tanda setuju dari lawan bicaranya.
Bukan Gita sombong atau bagaimana, tapi belajar bersama orang yang notable saingan kelas rasanya aneh. Wildan orang nomor satu dikelas, bahkan posisinya hampir gak pernah sekalipun berubah. Ghea yang katanya teman satu SMP sama Wildan pernah menceritakan bahwa Wildan ini anak yang bisa dibilang cerdasnya diatas rata-rata.
Katanya Gita bukan takut tersaingi tapi aneh aja belajar bersama orang cerdas, justru banyak yang ingin belajar sama orang cerdas biar kecerdasannya nular tapi nyatanya gak semudah itu ferguso.
Kecerdasan itu dicari bukan dicuri.
"Gita itu salah. Harusnya hasil dari ²log 64 itu 6." Mengambil pena dan mencoret kertas buram.
"Untuk soal ini, ²log 64 itu jadi ²log 2⁶ trus pangkat 6 nya letak di depan dikali sama ²log 2. Karna ²log 2 itu sama dengan satu maka hasilnya 6." -Wildan
"Owh. Okey. Eh tunggu, buk Mayang pernah ngejelasin ini? Kapan?"
"Beberapa bulan yang lalu. Oiya waktu itu kan ada rapat antar ketua kelas"
"Pantas di buku aku gak ada. Wil, boleh liat catatan mu gak?"
Dengan ekspresi jahil, Wildan mengambil buku catatannya dan memberikannya ke Gita tapi segera ditarik menjauh.
"Tunggu, masak sih ada orang minta catatan ke orang lain dan parahnya ngasihnya gratis lagi" menatap ke arah lain.
"Iya ntar aku traktir makan deh"
"Deal.!" Menyerahkan dengan sigap. "Nanti malam mau makan dimana kita?"
"Jangan nanti malam deh. Aku gak bisa."
"Malam lusa?"
"Gak bisa juga."
"Trus kapan dong??"
"Tunggu selesai ujian aja. Nanti aku beliin yupi."
"Jangan yupi deh. Terlalu manis. Nanti aku diabetes lagi, makan yang manis-manis sama orang manis"
Dengan cepat kotak pensil yang diam akhirnya melayang dan mendarat tepat di bahu Wildan tanpa menghindar sedikitpun.
Vote yuk biar author nya semangat ♡

KAMU SEDANG MEMBACA
Seru Berujung Tanya
Teen Fiction[FOLLOW SEBELUM MEMBACA] Budayakan Vote Saat Membaca #1 "Mungkin dengan mengatasnamakan suka, belum berakhir di titik yang namanya cinta." Wahyu adalah masalalu Gita yang kini menjadi masa kininya. Apakah kisah mereka akan berlanjut sampai ke masa...