Terlupakan 2

55 35 144
                                    

Malam itu dengan masih menggunakan seragam sekolah, Wahyu datang untuk terakhir kalinya.

Dengan rasa ragu dihatinya dia mengetuk pintu dan Dimas keluar dari balik sana.

"Wahyu?" Paniknya.

Melihat Dimas yang muncul Wahyu hanya bisa membentuk senyuman yang sangat jelas dibuat-buat. "Gita nya ada?"

"Gak ada. Ngapain coba dia di sini malam-malam," ketusnya

"Aku udah tau semua. Gak semua sih tapi cukup." Wahyu yang sudah tau bahwa hal ini akan terjadi. Sedikit tidak suka tapi mau menolak dengan apa.

"Rumah ini juga?"

"Ma'af kemarin sempat ngikutin. Gita nya ada?" Sebelumnya, Wahyu mengetahui cerita tentang Gita memang dari Gita nya langsung. Namun, bukan berarti Gita mengatakan seluk-beluk tentangnya. Hari itu, saat Gita untuk pertama kalinya menangis.

"Gak ada. Dia pergi sama Clarisa tuh," ketusnya. "Ada perlu apa?" Sambungnya sambil bersandar di dinding.

"Gak ada," ucapnya dengan ragu.

"Ya udah pulang deh, nanti masuk angin." Sambil menepuk pundak Wahyu.

"Aku mau nitip sesuatu boleh gak?"

"Nitip apa? Ke siapa?" Merubah posisinya menjadi berdiri tegap.

"Ini, ke Gita," ucapnya sambil memberikan sepucuk surat yang terbungkus amplop putih.

"Apa nih? Surat cinta?"

"Maybe," ucapnya sambil menggaruk bagian kepala. "Sama satu hal lagi, aku boleh minta tolong jagain Gita gak selama aku gak ada?" Tuturnya. "Udah itu aja, sisanya ada di amplop itu." Menunjuk ke arah amplop dengan matanya dan berbalik untuk pergi.

"Tanpa disuruh dan diminta pun, aku juga akan menjaganya," jawabnya malas.

Wahyu yang mendengar itu cukup lega karna ada yang bersedia menjaga Gita untuknya. Baginya, dengan adanya Dimas disisi Gita dia akan menjadi kakak ang melindungi adiknya. Diapun pergi meninggalkan Dimas yang masih berdiri ditempatnya.

Dimas yang merasa kesal bertambah kesal melihat sepucuk surat ditangannya dan dengan emosi meremas surat itu dan melemparkannya ke aspal.

"Dia pikir dia siapa?" Berjalan berbalik memasuki rumah dan mengunci pagar.

Belum sampai lima menit berlalu, Dimas kembali membuka pagar dan mengambil surat yang tadi dia lempar dan kembali masuk ke dalam.

Dengan mengingat hari itu berhasil membuat Dimas mengeluarkan keringat meski udara disekitarnya tidak terlalu panas.

"Apa dia mengatakan sesuatu tentang hari itu?" Batin Dimas saat mobil hitam itu melewatinya.

Setelah bertemu dengan orang yang sudah dilupakan dimasa lalu, Gita merasa tidak bersemangat saat kembali pulang. Hingga bunyi notif pesan di ponselnya menarik atensinya.

_______________________________________________

Unknown >

Gita
Ini nomor ku

Siapa?

Wahyu

:)

_______________________________________________

Seru Berujung TanyaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang