Memulai pagi dengan menyandang status sebagai murid Lexan High School, Elliza hari ini sudah mulai sekolah kembali.
Tentunya dengan izin dari Azriel yang beruntungnya, tidak melewati sesi perdebatan seperti saat di rumah sakit waktu itu.
Seperti biasa, Elliza berangkat bersama Azriel, namun bedanya hari ini ke empat kawan Azriel itu berangkat lebih dulu, Elliza yakin itu juga atas permintaan Azriel.
Rencananya hari ini, ia akan bertanya pada Aluna tentang siapa lelaki yang menolongnya kemarin.
ia yakin, gadis itu pasti tau, karna yang ia ingat, Aluna sempat keluar kelas dan terdengar memanggil seseorang, meskipun itu samar samar terdengar di telinga Elliza.
Sampai di tempat parkir motor, Elliza turun bermodalkan bantuan tangan Azriel yang lelaki itu sodorkan.
pandangannya memindai sekitar, tak aneh lagi saat mendapati beberapa orang memperhatikan mereka, dengan sesekali membuka mulut berbicara pada temannya.
Elliza sih masa bodo, ia sadar jika yang mereka tau dirinya menjalin hubungan dengan si Pemeran utama a.k.a si Cassanova Lexan High School.
Tepukan dua kali pada puncak kepalanya membuat Elliza tersadar, gadis itu menyengir pelan saat tau jika ia mengabaikan tangan Azriel yang terulur, lelaki itu ingin bergandengan tangan sembari membawa Elliza menuju kelasnya.
kebiasaan Azriel karna seperti yang lelaki itu bilang, jika ia ingin melindunginya dengan status mereka, Eliza tau kebanyakan orang tak akan mengganggunya dengan Ultimatum dari Azriel itu.
koridor sudah cukup ramai dengan lalu lalang siswa, maklum.. jam masuk kelas sudah hampir sepuluh menit lagi berbunyi.
sampai di depan kelas Azriel menghentikan langkah, tangan mereka yang tertaut membuat Elliza juga turut berhenti.
"Gue nganterin nya sampe sini aja, nanti istirahat biar Gue jemput, jangan kemana mana" peringatan Azriel itu di sambut gerakan mengangguk kepala Elliza, gadis itu bahkan memberikan gerakan hormat yang membuat Azriel tersenyum gemas
"Awas jangan bandel" Elliza mengerucutkan bibir, ingin membalas namun urung saat Azriel lebih dulu mengacak rambutnya dan berlalu begitu saja.
Gadis itu mengumpat dalam hati, namun tak urung semburat merah muncul di sekitar pipinya, menciptakan rasa hangat yang membuat Eliza menahan senyum.
kembali melangkah memasuki kelas, Elliza memasang wajah datarnya, senyumnya terukir tipis saat maniknya bersitatap dengan Aluna di balik bingkai kaca matanya,
selang sedetik keningnya mengernyit, tak biasanya Aluna merespon dengan kepala menunduk lebih dalam,
secanggung canggung nya Aluna padanya, biasa nya gadis itu akan turut membalas senyum walaupun itu terlihat kaku.
memilih mengabaikan, Elliza meneruskan langkah hingga duduk tepat disamping Aluna.
gadis itu masih tak mengeluarkan suara, Elliza fikir.. Aluna memberondongnya dengan berbagai pertanyaan seperti layaknya Bestie di cerita Wattpad yang sering ia baca.
nyatanya.. mungkin memang benar, hanya Eliza yang menganggap Aluna teman disini.
"Na, kemarin gue gak masuk ada tugas gak?" Elliza sengaja memulai obrolan, ia masih tau diri untuk berterima kasih setelah ini.
tangan Aluna yang meremas pena tak luput dari pandangan Elliza, gadis itu bahkan tak menjawab pertanyaan nya.
"Una?"
"ya?" kening Elliza mengerut semakin dalam saat Aluna terlihat menjawab dengan takut takut.
Elliza yakin ada yang tak beres dengan Aluna hari ini
KAMU SEDANG MEMBACA
Lizy's Diary
Fantasy# HARGAI KARYA AUTHOR DENGAN FOLLOW SEBELUM MEMBACA # Lizy's Dairy terkadang apa yang kita yakini tak ada adalah sesuatu yang bisa terjadi di dunia ini kehendak tuhan memang lebih berkemungkinan terjadi dari pada apa yang manusia fikirkan seperti re...
