Bel pertanda masuk sekolah sudah berbunyi semenjak beberapa menit lalu. Tampak, sekumpulan murid yang sibuk membubarkan diri menuju kelas masing-masing untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar di sana.
Semua siswi yang memasuki kelas tidak luput dari pandangan Dean yang sudah mendudukkan diri dengan nyaman di tempatnya. Mencari keberadaan seseorang yang sedari beberapa hari yang lalu menghilang setelah ditemukan pingsan di koridor. Apakah gadis itu masih sakit?
Tatapan laki-laki itu menunjukkan kegelisahan yang mendera. Kentara dari bola matanya yang bergerak tidak beraturan.
Namun, seseorang yang Dean cari tidak kunjung terlihat. Malahan sosok dengan blazer hitamlah yang tampak dari balik pintu pada barisan terakhir. Membuat laki-laki itu mengembuskan napas kasar. Ini sudah hari ketiga matanya tidak menangkap sosok Nanai di SMA Cemara.
Akan tetapi, buru-buru ia melupakan pemikirannya mengenai gadis itu. Dirinya tidak ingin terlihat terlalu peduli pada rivalnya itu. Untuk apa? pikirnya.
"Dean, PR lo, udah?" tanya Rama yang bertempat di belakang bangkunya. Mengejutkan Dean dari lamunan yang sedari tadi menguasai.
Untuk sesaat, Dean terdiam. Lalu, beberapa waktu kemudian laki-laki itu meraih sebuah buku bertuliskan namanya sebagai identitas beserta mata pelajaran yang dimaksud dari dalam tas. Menyerahkan buku itu kepada Rama tanpa membalasnya dengan sepatah kata pun.
"Guys, jamkos! Gurunya pergi kondangan," kata salah seorang yang menjabat sebagai ketua kelas di kelasnya. Sontak, semua murid berteriak kesenangan. Berlarian ke sana ke mari, menikmati waktu tanpa pelajaran yang jarang sekali terjadi. Bahkan hampir tidak pernah, sebab para guru yang menurut mereka terlalu rajin.
Berbeda dari yang lain, Dean hanya diam di tempat. Jika biasanya laki-laki itu memanfaatkan waktu jam kosong untuk belajar dan belajar lagi, kali ini tidak. Untuk sekarang, ia sedang tidak ingin melakukan apa-apa, termasuk membuka buku yang sebelumnya menjadi kebiasaan ketika saat seperti ini.
Entahlah, Dean sendiri tidak mengerti dengan dirinya sekarang. Daripada memikirkan sebuah hal yang tidak pantas dipikirkan, laki-laki itu bangkit dari duduknya. Mulai melangkahkan kaki jenjangnya menuju luar kelas. Bukannya berniat untuk membolos, melainkan Dean hanya ingin mencari udara segar agar bisa memacu semangatnya kembali. Semacam motivasi untuk diri sendiri.
"Deano Erland Fairhante!"
Seruan yang cukup tegas itu menghentikan langkah Dean. Laki-laki itu baru saja keluar dari pintu kelas dan belum jauh dari tempatnya berasal, tetapi panggilan yang terdengar membuatnya harus mengurungkan niat untuk menyegarkan diri.
"Iya, ada apa, Pak?" tanya Dean setelah berada di hadapan Pak Baskara. Meskipun terlihat oleh seorang wakil kepala sekolah, tetapi raut Dean sama sekali tidak menunjukkan kekhawatiran. Sebab, Dean tahu betul, pria paruh baya itu tidak berniat untuk menegurnya.
"Bisa ikut saya?"
Setelah mendapat anggukan dari muridnya itu, Pak Baskara mulai berjalan menuju ruanganya yang terletak di antara gedung serbaguna dan ruang tata usaha. Diikuti Dean yang mengekor di belakang.
Bila boleh jujur, Dean sendiri tidak tahu apa yang akan kepala sekolahnya itu lakukan padanya. Namun, Dean sudah menduga apa yang akan terjadi setelah ini.
****
Sebuah mobil memasuki gerbang rumah dengan konsep modern-minimalis, lengkap dengan beberapa jenis tanaman yang tersebar di halaman rumah itu. Sosok laki-laki dengan seragam yang masih tertempel di tubuhnya turun dari mobil dengan membawa sebuah amplop di genggamannya.
Untuk sesaat Dean termenung, menatap dalam amplop dengan logo SMA Cemara lengkap bersama alamat sekolah itu. Penasaran akan isi di dalamnya. Namun, karena amplop itu merupakan sebuah amanah, membuat Dean segera memalingkan wajah. Menatap rumah megah itu, kemudian melangkah menuju pintu yang terbuka sebagian.
Mengingat tata krama yang sering diajarkan, baik di sekolah maupun dalam lingkup keluarga. Dean terlebih dulu mengetuk pintu itu, menunggu seseorang di dalam sana membukanya.
"Permisi, saya teman sekolahnya Nanai. Nanainya ada?" tanya Dean pada wanita paruh baya yang membukakan pintu itu.
"Sebentar, ya." Karena mengerti akan maksud dari laki-laki berseragam sekolah itu, wanita paruh baya tadi berbalik. Berniat memanggilkan putrinya untuk menemui laki-laki berseragam itu.
"Eh, ini dengan, Nak siapa?" Desvia kembali berbalik, sebab tidak mengetahui nama laki-laki itu. Selain itu, dirinya juga cukup penasaran ketika melihat penampilan laki-laki itu yang terkesan begitu rapi dan berwibawa meskipun masih menduduki bangku sekolah.
"Saya—"
"Dean?"
Baik Dean maupun Desvia, mereka sama-sama terkejut dan kompak menoleh ke arah tangga. Kehadiran seorang gadis dengan wajah pucat yang berjalan ke arah mereka, mengambil perhatian keduanya.
Suara lemah itu terdengar mengejutkan. Apalagi melihat penampilan gadis itu yang cukup memprihatinkan. Dengan mengenakan hoodie tebal serta penampilan yang acak-acakan, membuat Dean meyakini bahwa gadis itu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja.
"Baru juga mau dipanggil. Nak Dean, masuk aja!" seru Desvia menyadari keadaan yang mendadak hening setelah kehadiran Nanai di sana.
Dikarenakan merasa tidak lagi penting adanya dirinya, Desvia lantas meninggalkan keduanya. Membiarkan Dean dan Nanai berbincang sesukanya. Tanpa terganggu dengan kehadirannya di situ.
"Dean, ada apa?" Nanai bertanya setelah mendudukkan bokongnya di sofa. Tenggorokannya yang sedikit nyeri, membuat suaranya tidak sekeras biasanya.
"Lo kapan berangkat ke sekolah?" Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Dean. Sehingga, laki-laki itu tidak dapat menahannya. Padahal niat Dean hanya ingin menyampaikan amanah dari Pak Baskara lalu pulang ke rumah.
"Gue?"
"Sorry!"
Permintaan maaf Dean itu malah membuat gadis itu melengkungkan senyum. "Kenapa?"
"Nggak apa-apa. Gue sebenarnya ke sini hanya mau ngasih ini," kata Dean lalu menyerahkan amplop yang sejak tadi berada di tangannya. "Dari Pak Baskara," lanjutnya. Menyadari kebingungan di wajah pucat gadis itu.
"Oke."
Balasan singkat Nanai itu membuat percakapan mereka berhenti. Mungkin akan selesai sampai di sana jika saja gadis berwajah pucat itu tidak kembali mengeluarkan suaranya yang begitu pelan.
"Kasian yang nggak ada saingan berat." Meskipun sudah berniat mengubah tujuannya belajar, tetapi sifat sombong gadis itu seolah tidak pernah hilang. Membanggakan diri sebagai yang terbaik, kendati selamanya tidak akan seperti itu.
"Saingan berat? Baru juga kalah, udah mulai sombong aja."
Mendengarnya, raut wajah Nanai berubah. Hal tersebut mengingatkannya tentang penyebab dirinya jatuh sakit seperti ini. Ditambah ia yang tidak kuat dingin, jadi sakitnya bertambah lama sebab cuacanya yang memang sedang tidak bersahabat.
"Oh, iya. Gue lupa kalau bukan apa-apa lagi sekarang."
Gadis itu memalingkan wajahnya. Menoleh ke samping yang berlawanan dengan keberadaan Dean. Tidak ingin laki-laki itu menangkap ekspresinya saat ini."Lo nggak pulang?" tanyanya.
Bukan niat Nanai untuk mengusir, hanya saja dirinya ingin kembali beristirahat saat ini. Supaya, besok pagi bisa kembali segar dan bersekolah seperti biasa. Sialnya, ia harus bersiap dengan kata-kata yang mungkin menyakitkan keluar dari mulut para murid SMA Cemara.
"Hm ...!"
Meskipun kata itu terdengar singkat, tetapi mengisyaratkan akan sesuatu hal yang terpendam. Laki-laki itu bangkit, bersiap untuk pergi dari rumah itu.
"Thanks, Dean," tandas Nanai dengan netra yang terfokus dengan kepergian laki-laki itu. Menatap punggungnya yang mulai menjauh. Tersenyum.
****
Dean ke rumah Nanai, nih, wkwkwk. Gimana, ya, kelanjutan cerita ini? Nantikan kelanjutannya minggu depan, ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
Reswara (END)
Teen FictionMemiliki kadar otak di atas rata-rata menimbulkan rasa bangga terhadap diri sendiri. Keinginan untuk terus menjadi yang teratas akan selalu hadir, memancing munculnya persaingan di antara manusia-manusia pintar yang tidak dapat dimengerti. Berbagai...
