7 - Kalah

68 9 0
                                        

Pagi yang sangat membahagiakan bagi seorang Kaira dikarenakan lembar yang ia pegang adalah satu-satunya yang berisi tiga digit angka pada kolom nilai. Senyuman tercetak jelas pada wajahnya, menandakan dirinyalah yang paling bahagia di sini. Kemarin, nilainya sama dengan kedua saingannya di kelas. Jadi rencananya sekarang adalah merayakan kesempurnaan nilainya.

Kaira berjalan keluar dari kelas dengan raut gembira. Melirik ke arah Nanai yang menempati tempat di dekat pintu, tersenyum miring, menandakan dirinyalah pemenangnya sekarang. Membuat gadis itu menggeram kesal yang sialnya masih dapat tertangkap oleh indra pendengaran Kaira.

“Sumpah, ya. Gue udah mati-matian belajar buat ulangan hari ini dan kurang dua poin aja dapat seratus. Tapi, kenapa, sekarang susah banget?” Lagi-lagi, Nanai meracau mendapati hasil yang tidak sesuai dengan apa yang didambakan.

Kedua sahabat yang berada di dekatnya saling tatap, tidak mengerti lagi dengan sifat Nanai yang selalu menuntut kesempurnaan. Terkhusus dalam hal nilai.

“Udahlah, Nai. Mungkin aja dia sedang beruntung kali ini. Lain waktu pasti lo bakalan dapat nilai sempurna seperti biasanya,” balas Leave berusaha menenangkan. Lantaran telinganya sudah lelah mendengar nada kesal dari mulut Nanai.

“Coba, deh, lo berusaha lebih lagi. Pasti bisa.” Semangat yang diberikan Maudy itu tidak berpengaruh apa-apa terhadap gadis itu. Amarah yang terpendam bergejolak ingin dikeluarkan. Menyisakan beribu rencana yang telah siap untuk ditindaklanjuti.

“Jahat, nggak sih, kalau gue—“

“Apa?” tanya kedua sahabatnya bersamaan sebelum gadis itu sempat menyelesaikan kalimatnya.

Nanai yang mendapatkan respond seperti itu kemudian terdiam, ragu akan melakukannya atau tidak. Menurut pemahamannya, rencananya itu tidak terlalu kejam dan masih tergolong dalam hal wajar. Akan tetapi, dapat menimbulkan masalah yang besar untuknya mengingat gadis itu juga pintar sepertinya. Keraguan itu bertambah saat melihat wajah terkejut Leave dan Maudy ketika ia memberi tahu rencananya kepada mereka.

“Mending jangan, deh, Nai,” kata Maudy menasehati. Ia tidak ingin sahabatnya terjebak dalam masalah yang lebih besar.

“Gue masih nggak ikhlas, ya, berada di bawah dia.”

Mereka saling pandang untuk beberapa saat, sampai akhirnya mereka memutuskan sesuatu. “Ayo,” ajak Leave sebelum beranjak dari tempatnya.

Satu yang diharapkan, mereka tidak terjebak oleh rencana yang mereka buat sendiri. Meskipun ketiganya tahu, setiap tindakan pasti ada konsekuensiya tersendiri. Apalagi suatu tindakan yang termasuk dalam hal tidak baik yang mungkin saja menjadi boomerang untuk sang pelaku.

Namun, apa pun itu tidak dapat dicegah kecuali atas kemauan mereka sendiri.

****

Jam pulang sekolah pun tiba,  saatnya bagi murid SMA Cemara untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Saat-saat di  mana raut kebahagiaan timbul dengan hal sederhana, yakni kebebasan mereka dari pembelajaran yang menurut mereka sangat membosankan dan memusingkan. Akhirnya setelah seharian berkutat dengan buku dan alat tulis, sekarang mereka bebas dari itu. Jam terakhir dilalui dengan kantuk yang menguasai.

Lain halnya dengan beberapa orang yang bergegas menuju ruangan khusus setelah jam terakhir usai. Orang-orang yang dinilai lebih pintar dari lainnya. Merekalah yang nantinya akan membawa nama sekolah dalam sebuah kompetisi bergengsi.

Sekitar tujuh murid tengah menanti dengan sabar seseorang yang ditunggu. Dalam penantian itu, mereka berbicara mengenai beberapa persoalan. Salah satunya mengenai soal yang mungkin keluar pada saat kompetisi nanti. Mereka sudah cukup pintar untuk mengira-ngira hal tersebut.

“Kayaknya yang bentuk seperti ini nggak akan keluar, deh,” kata salah seorang menunjuk sebuah rumus trigonometri yang cukup mudah penyelesaiannya.

“Iya, sih. Soalnya gue lihat juga di contoh soalnya nggak ada.” Salah seorang lainnya turut menimpali setelah melihat soal yang dimaksud.

Sama halnya dengan mereka yang membahas perihal soal, rumus, bentuk penyelesaian, dan sebagainya. Nanai meneliti kembali pekerjaannya, memastikan semua sudah sesuai dengan jawaban yang diminta. Gadis  yang satu itu tidak ingin ada kesalahan satu pun.

“Nai, lo udah di kasih kisi-kisi?” tanya orang di sebelah Nanai. Temannya sewaktu sekolah menengah pertama dulu.

“Belum. Memangnya lo udah dapet?” Kali ini Nanai yang balik bertanya untuk memastikan.

“Ya, belumlah.”

Bersamaan dengan berakhirnya kalimat itu, Pak Baskara dan Bu Ratna memasuki ruangan. Sedikit berbasa-basi kepada para murid dengan tujuan mereka tetap enjoy sebab beberapa saat lagi keseriusan pasti akan terasa. Setidaknya, kedua guru itu dapat mendengar tawa mereka sebelum berkutat dengan materi dan soal yang sebentar lagi dibahas.

“Baik, sudah cukup becanda dan basa basinya. Mari kita mulai agar kalian juga bisa pulang lebih cepat. Atau ada yang mau menetap di ruangan ini sampai olimpiade berlangsung nanti?”

“Dean, Pak,” jawab salah seorang menunjuk Dean yang berada di sebelah Nanai. Gadis itu segaja mengambil posisi di dekat Dean untuk mendekati laki-laki itu. Dengan tujuan memuluskan rencananya untuk mencari kelemahan saingan terberatnya yang tidak lain dan tidak bukan adalah Dean sendiri.

“Benar, Dean?” tanya Pak Baskara untuk memastikan.

Tentu saja Dean menggelengkan kepala, menolak dengan keras tawaran bodoh itu. Walaupun bila di rumah Dean tidak merasa nyaman, ia tidak akan memilih tempat lain untuk mengistirahatkan tubuhnya. Bagaimanapun, rumah adalah tempatnya pulang.

“Saya kira ...,” gurau Pak Baskara. “Silahkan Bu Ratna untuk dimulai saja,” lanjutnya saat melihat tiak ada lagi tawa yang terdengar di ruangan itu.

“Oke. Sekarang coba buka buku kumpulan soal OSN yang kemarin kalian pinjam di perpustakaan,” pinta guru itu seraya mengedarkan pandangan pada muridnya satu per satu.

“Oh iya, saya mau tanya. Ada kendala tidak dengan tugas yang kemarin saya suruh kerjakan?” Kali ini kembali Pak Baskara yang mengeluarkan suara. Mengingat soal-soal yang ia tugaskan pada semua yang hadir di sanan

Tidak ada pergerakan atau suara dari mereka. Membuat kedua guru itu mengerutkan kening. “Serius tidak ada?”

“Sebentar, Pak. Saya masih bingung dengan soal bagian ini, kok, bisa gini, ya?” Nanai mulai menyampaikan kebingungannya terhadap salah satu soal matriks yang menurutnya masih asing sebab belum pernah ia pelajari. Kendati guru itu sudah menyatakan benar jawaban yang gadis itu tulis pada kertas di depannya. Namun, Nanai tidak ingin menerima mentah-mentah jawaban benar yang dirinya dapat tanpa memahami konsepnya.

“Ini sudah benar, kok. Nanti saya jelasin lagi, soalnya ini materi kelas sebelas,” balas Pak Baskara setelah meneliti pekerjaan Nanai.

But the way, kok, ini hanya tujuh orang, yang lainnya ke mana, ya? Dita, Vika, sama Kaira. Ada yang tahu kenapa mereka tidak ada di sini?”

Semuanya menggeleng karena tidak mengetahui keberadaan mereka ataupun alasan mereka tidak berada di tempat ini. Namun, bersamaan dengan itu, Dean mendapatan pesan dari seseorang. Entah pesan apa dan dari siapa, tetapi raut wajah Dean menunjukkan ada setidaknya secuil amarah.

Bangkit dari duduknya, kemudian menarik lengan gadis di sebelahnya setelah meminta izin kepada guru pembimbing.

“Ikut gue.”

****

Terima kasih sudah bersedia membaca cerita ini, jangan lupa tekan bintang di pojok, ya!

Reswara (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang