18 - Hasad

40 5 0
                                        

Ruangan yang tadinya sepi, mendadak ramai seketika. Kehadiran seseorang dengan rambut piranglah yang menjadi penyebabnya. Semua mata mengarah pada gadis itu saat dirinya masuk, lalu mengobrol mengenai keburukannya pada teman yang berada dekat dengan mereka.

Nanai kira hal tersebut sudah usai dan mulai terlupa pada ingatan para murid di sana. Namun, nyatanya tidak semudah itu. Kejadian yang menjadi awal mula kejatuhanya, sudah begitu membekas di hati mereka. Sedangkan hal yang membuatnya berada di titik teratas dengan mudah terlupa.

Walaupun di sekitar sekolah sudah tidak banyak yang membicarakan mengenai kejadian sore itu, tetapi di ruangan ini berbeda. Mungkin saja ingatan mereka  memang sangat tajam. Jadi, kejadian buruk beberapa hari pun masih teringat dengan begitu jelasnya.

Kendati demikian, Nanai tidak mau ambil pusing. Meski sulit, tetapi gadis itu mencoba abai dengan setiap pembicaraan mengenai dirinya yang terdengar oleh telinga.

"Baik, mungkin kalian bertanya tentang mengapa seorang Nanai kembali lagi ke dalam tim ini dan juga sebagai peserta yang mewakili sekolah dalam ajang OSN ... bersama kalian. Bukan seperti itu?" Pak Baskara mulai berbicara saat keadaan sudah sedikit menenang. Menyampaikan tentang alasannya kembali mengizinkan Nanai mengikuti olimpiade ini meskipun dikeluarkannya Nanai dari tim ialah sebagai hukuman.

Akan tetapi, karena hukuman yang diberikan dengan hal yang menjadi penyebab kejadian itu terjadi terdapat sebuah pebedaan yang cukup kentara, Pak Baskara menimbang kembali keputusannya. Kembali mendiskusikan hal tersebut dengan guru lain yang berhubungan.

Sebab lain yang menjadikan seorang Nanai kembali memiliki kesempatan adalah tanggal pelaksanaan yang dimajukan serta kadar kepintaran gadis itu yang tidak dapat diragukan lagi.

"Sebenarnya banyak alasannya. Baik dari saya maupun guru lainnya. Namun, hal yang paling mendasar adalah mengenai perubahan jadwal pelaksanaan OSN yang minggu lalu sempat saya jelaskan."

Semua menganggukkan kepala tanpa kecuali. Kembali memperhatikan Pak Baskara yang tengah berbicara dengan seksama.

"Jadi, pelaksanaan OSN nanti akan dilaksanakan dua minggu lebih cepat dari rencana awal. Yaitu pada tanggal dua puluh dua November yang sebelumnya pada delapan Desember. Tanggal yang telah ditetapkan merupakan keputusan panitia di sana."

Ketegangan jelas terlihat di wajah mereka, tetapi tidak dengan Dean, Kaira dan Nanai. Ketiganya malah terlihat lebih santai sebab tidak bebarengan dengan penilaian tengah semester. Setidaknya mereka dapat benar-benar memfokuskan diri pada salah satunya. Untuk memaksimalkan kedua hal yang sama-sama penting itu.

"Kenapa pada tegang? Harusnya enak lho, soalnya tidak bebarengan dengan PTS. Ya, nggak?" tanya Bu Ratna yang juga berada di sana.

Sebagian menganggukkan kepala pelan dengan raut wajah yang menunjukkan ketidakyakinan. Sebagian lainya menggelengkan kepala, tidak pernah menyangka bahwa perubahan jadwal pelaksanaan ini akan terjadi.

"Oke-oke, sepertinya kalian lumayan terkejut dengan hal tersebut."

Rentetan gigi yang tercetak jelas pada wajah kedua guru itu menimbulkan kekesalan tersendiri bagi sebagian murid di ruangan itu. Bagaimana tidak, tanggal yang baru saja diberitahukan adalah tanggal yang terdapat pada dua minggu setelah hari ini. Artinya, mereka hanya memiliki waktu sekitar satu minggu lebih untuk mempersiapkan diri sebelum menjalani karantina di asrama.

Selain membutuhkan kesiapan pikiran dan mental, fisik yang sehat juga tidak kalah penting. Mereka harus belajar, latihan dan latihan, juga menjaga pola makan mereka. Agar ketika hari di mana ajang tersebut dilaksanakan mereka tidak keteteran.

"Daripada pusing mikirin itu, sekarang lebih baik lanjut, belajarnya. Sama Bu Ratna selaku guru pembimbing kalian. Kurang lebihnya mohon maaf, saya tinggal dulu, ya. Lanjut untuk Bu Ratna." Pak Baskara kemudian bangkit dari duduknya. "Jangan lupa jaga kesehatan!" lanjutnya berseru.

Setelah kepergian Pak Baskara, sekarang yang tersisa hanya Bu Ratna dan para peserta didik sebagai anak bimbingnya. Memulai bimbingan dengan rumus sinus cosinus tangen yang sebenarnya tidak begitu rumit.

****

"Wah, senang sekali, ya. Sekarang bisa kembali ke ruangan ini," cakap Kaira dengan senyum miringnya.

"Memangnya kenapa? Gue masih merasa pantas berada di sini."

"Pantas? Percaya diri sekali, ya, lo!"

Nanai tidak menjawab.

Gadis itu sibuk memasukkan buku serta alat tulis lengkapnya ke dalam tas. Mengingat hari yang sudah sore membuat dirinya ingin segera sampai rumah dan kembali beristirahat.

"Nanai! Udah selesai? Ayo pulang ...." Leave yang berteriak ketika memasuki ruangan itu menghentikan suaranya. Menyadari ada orang lain selain Nanai yang berada di ruangan itu.

"Ya udah, yuk, pulang. Gue juga udah selesai, sumpek ada di sini," balasnya lantas beranjak. Menggandeng tangan Leave, menautkan antar jari-jemarinya dengan jari-jemari milik gadis itu.

Jika dilihat, hal tersebut tampak sebagai hubungan yang harmonis. Hubungan persahabatan yang sudah terikat dan akan sulit terlepas. Menjaga satu sama lain untuk mencapai tujuan yang berbeda secara bersama-sama. Bukankah hal itu yang diperlukan oleh manusia?

Mereka keluar dari ruangan itu dengan senyum merekah. Hal tersebut mengundang kekesalan Kaira yang tidak puas dengan keputusan sekolah, merasa ketidakadilan menerjangnya.

Kaira menatap kepergian mereka degan kejengkelan di hati yang tidak lepas dari kembalinya Nanai ke dalam tim. Tidak senang, karena pada akhirnya keberadaannyalah yang nantinya menjadi korban. Adanya Nanai, akan semakin membuat sulit gadis itu untuk mencapai tujuannya. Yaitu, menjadi yang terbaik di atas Dean. Supaya dapat membanggakan diri lagi di depan sang mama.

Lantaran kekesalan yang semakin memuncak, Kaira menggebrak meja di depannya dengan cukup keras. Menatap nyalang pada apa-apa benda yang tertangkap oleh netranya. Menghembuskan napasnya kasar, mengalihkan emosi yang tidak dapat diutarakan.

"Kenapa, sih, harus ada Nanai lagi dan lagi di dalam tim? Akan semakin sulit untuk gue mendapatkan yang nomor satu di antara yang lainnya! Gadis itu!" racaunya dengan meremat kuat rok yang sedang ia gunakan.

Kaira kemudian meraih ponselnya setelah merasa sedikit lebih tenang. Menghubungi seseorang untuk membantunya mencapai tujuan. Kaira tidak ingin kembali tersingkir dan berakhir kakaknyalah yang menjadi pemenang di hati sang mama.

"Bagaimapun caranya!" gumamnya kemudian beranjak dari sana.

Keangkuhan mulai menguasai pikiran dan ketika itulah sebuah hal yang tidak diinginkan malah terjadi.

****

Suara pintu berdecit mengalihkan fokus seorang pria dari layar monitor. Lantas, pria itu bangkit dari tempatnya untuk menghampiri sosok itu. "Lo yakin?" tanyanya yang hanya mendapat jawaban berupa anggukan kepala. "Tapi, lo terlihat masih ragu."

Sedikit termenung, sosok itu memejamkan mata. "Gue yakin!"

"Lo nggak takut, 'kan, bila sesuatu yang tidak diinginkan terjadi?"

Sosok itu mendelik pada pria di hadapannya. "Lo bilang lo ... hebat? Jangan sampai mereka tahu mengenai hal ini atau mereka ...!"

"Tapi, lo, 'kan, yang akan melakukan?"

"Ya. Mengapa tidak?" Setelah mengatakannya, sosok itu kemudian mengambil alih tempat pria tadi.

****

Siapakah mereka? Dan akan melakukan apa?
Nantikan pada bagian-bagian selanjutnya, ya!  Selamat malam dan selamat beristirahat.

Reswara (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang