17 - Berita bahagia

43 5 0
                                        

"Nai!" panggil Maudy, membuat Nanai yang asik dengan ponselnya itu menoleh. "Gimana keadaan lo sekarang?"

"Lumayan, nggak seperti kemarin," balasnya dengan mata yang kembali terarah pada ponsel.

Memang benar, keadan Nanai dua hari yang lalu begitu memprihatinkan. Sampai-sampai ia tidak bisa bangun dari tempat tidur hanya untuk sekedar mengambil minum di atas nakas. Pusing yang mendera serta badan yang amat lemas, membuat Nanai tidak dapat melakukaan apa pun, kecuali merepotkan sang bunda.

Namun, yang namanya seorang ibu, pasti akan melakukan apa pun demi anaknya. Walau hal yang menurutnya sangat sulit sekalipun.

"Tapi, lo besok berangkat, 'kan?"

Nanai mengedikkan bahunya. Pertanda tidak tahu jawaban yang harus diberikan terhadap pertanyaan yang baru saja telontar.

Mendapati balasan yang sedemikian, hembusan napas terdengar dari mulut Maudy. "Ish, betah amat di rumah," cakapnya kesal.

"Bilang aja nggak ada teman sebangku." Perkatan Nanai itu sungguh related dengan yang dialami Maudy saat ini. Memang, tebakan gadis itu tidak pernah salah jika menyangkut tentang sahabatnya.

Termasuk dia yang sekarang sedang tidak tampak kehadirannya. Sebab karena begitu sibuknya atau memang tidak ingin bertemu, baik Nanai dan Maudy sudah tidak lagi ingin peduli akan hal itu. Seakan masalah yang terjadi sudah tidak dapat lagi terselesaikan.

"Tapi, sumpah, ya. Nggak ada lo kelas sepi banget."

Ungkapan itu sudah jelas sekali merupakan sebuah kebohongan. Dikarenakan, Nanai mengerti betul keberadaannya di sana sudah tidak lagi penting. Bukan hanya tidak dianggap, melainkan lebih parah dari itu. Diabaikan, dicaci, lalu ditinggalkan begitu saja. Seakan-akan dirinya tidak lagi beharga di sana. Atau memang benar begitu adanya?

"Bohong banget, sih. Gue nggak suka!"

Maudy kemudian diam saat raut berubah Nanai yang tertangkap matanya. "Sorry," pintanya, berharap ekspresi muram gadis itu hilang berganti dengan senyum tipis seperti biasanya.

Akan tetapi, yang Maudy dapat adalah Nanai yang bergerak merebahkan diri. Menutupi seluruh bagian tubuh gadis itu dengan selimut tebal yang terlihat begitu hangat dalam pandangannya.

Menyadari suasana yang berubah, Maudy bangkit dari duduknya. Melangkah menuju meja belajar Nanai yang terletak di dekat jendela. "Nai, pinjem buku paket lo. Biar ketularan pinternya, bosen gue dapet rangking bawah terus."

Pada kenyataannya, setiap kata yang terucap dari bibir Maudy, tidak dapat membuat tujuannya tercapai. Menginginkan Nanai yang kembali tertawa merupakan hal yang begitu sulit untuk dilakukan, tidak seperti sebelum-sebelumnya.

"Gue harus bilang berapa kali kalau semuanya itu sudah berubah." Kalimat itu sudah menunjukkan keputusasaan yang dirasakan Nanai. Hal tersebut cukup membuat Maudy terkejut. Sebab, tidak biasa-biasanya gadis yang berada satu ruangan bersamanya sekarang mengalami hal sedemikian. Biasanya, sekalah-kalahnya Nanai, gadis itu akan berusaha untuk mencapai lebih. Tidak seperti saat ini yang lebih sebagai tanda 'menyerah'.

"Tapi, yang berubah nantinya bisa berubah lagi. Tergantung seberapa besar usaha lo untuk kembali merubah perubahan itu."

Tetap, tidak ada suara yang terdengar oleh rungu Maudy dari balik selimut yang menutupi tubuh Nanai. Namun, Maudy yakin bahwa gadis itu belum terlelap apalagi tidur nyenyak. Terlihat dari pergerakan yang terjangkau netranya.

"Dunia ini berputar, kehidupan kita seperti tangga, ada naik turunnya. Maka dari itu, lo nggak akan bisa membuat semuanya tetap berada pada tempat yang sama. Dan lo nggak akan bisa merubah hal itu!" tegas Maudy dengan bokong yang ia tempelkan pada pinggiran meja belajar Nanai.

"Gue mau tidur. Kalau lo pengen pulang, pulang aja."

Balasan dari Nanai itu membuat Maudy membuang napas kasar. Seperti biasa, memberikan pengertian kepada gadis itu bukan hal yang mudah apalagi dapat dengan hanya satu kedipan mata dilakukan. Bahkan tiga tahun saja, Maudy tidak mampu.

Mungkin, untuk saat ini Maudy harus membiarkan gadis itu menikmati waktu istirahat. Daripada nanti semua yang dilontarkannya akan percuma. Masuk telinga kanan, keluar dari telinga kiri. Membuang waktu yang dinilai 'beharga' saja.

"Okay, silakan," balas Maudy pada akhirnya.

Karena tidak tahu akan berbuat apa lagi di sini, netra Maudy bergulir. Mencari objek untuk dijadikan pelampiasan kegabutannya, apa pun itu asal tidak merusak tempat ini.

Sampai matanya tertuju pada sebuah kertas yang terletak di atas nakas dengan ponsel milik Nanai di atasnya. Berjalan mendekat sebab rasa penasaran yang tidak lagi dapat dibendung.

"Ini apa, Nai?" tanyanya ketika sudah mendapatkan kertas itu. "Amplop." Maudy meralat perkataannya saat menyadari itu adalah amplop yang di dalamnya entah apa isinya?

Terhitung, lima puluh delapan detik kemudian, Nanai menyibakkan selimut sehingga hanya sebagian tubuhnya yang tertutup. Mengubah posisi yang tadinya tidur terlentang menjadi duduk bersila. Tidak lupa, tangannya langsung merebut paksa benda itu dari jari-jemari milik Maudy. Ia saja belum membukanya, jadi tidak ada orang lain yang boleh tahu lebih dulu isinya.

"Apaan, sih, itu?"

"Mana gue tahu, gue aja belum buka!" Tanpa menunggu lebih lama lagi, Nanai memulai aktivitasnya membuka amplop itu. Lalu, mengambil kertas di dalamnya dan membuka lipatannya. "Surat panggilan," gumamnya.

Kembali, mata Nanai meneliti setiap kalimat yang tertulis di sana. Namun, sebelum sempat selesai membaca keseluruhan isi surat itu, terlebih dulu Maudy merebutnya. Sehingga, yang ada di tangan Nanai hanya kekosongan tanpa ada apa pun yang tersisa, termasuk harapan yang juga turut hilang meninggalkan dirinya bersama kekecewaan serta keputusasaan yang mendalam. Hancur menjadi kepingan-kepingan yang tidak lagi tersisa.

"Nanai ...!! Lo masuk daftar peserta olimpiade lagi ...!!"

Teriakan Maudy itu begitu keras, sampai-sampai terdengar oleh Desvia yang tengah berada di kamar bersama suaminya, ayah dari Nanai. Tersenyum penuh arti, turut senang atas berita yang ia dengar. Meskipun dirinya tidak tahu akan kejelasan berita itu, memang benar atau tidaknya.

Berbeda dari sang ibunda yang dengan ketidakjelasan itu sudah mampu menciptakan senyum di wajahnya, maka tidak dengan Nanai. Gadis itu lagi-lagi merebut paksa kertas itu. Kembali membaca ulang tiap kalimat yang terdapat di dalamnya. "Serius?" tanyanya masih tidak percaya.

Bibir Maudy mengembang, bahagia dengan hal baik yang sahabatnya itu dapatkan. "Artinya, kesempatan untuk membuktikan kamu yang terbaik dengan cara yang baik dan dengan persaingan yang baik pula itu masih ada, Nai!"

"Ya, 'kan, emang udah seharusnya gue ikut berpartisipasi dalam ajang ini. Tapi, hanya karena masalah itu aja jadi membuat gue tersingkir."

"Masalah yang lo perbuat sendiri, 'kan?"

Nanai diam, kembali memikirkan hal yang telah diperbuatnya. "Tapi, nggak sepenuhnya gue salah, Dy. Dan lo tahu itu, lalu kenapa masih aja jadi pembahasan?"

Maudy hanya mengedikkan bahu. Tidak tahu akan bersikap seperti apa lagi. Mengambil tasnya yang tergeletak begitu saja di atas lantai. Lebih baik dirinya pulang sekarang.

"Congrats, ya. Gue harap lo nggak melakukan hal yang salah lagi," pesannya.

****

Hai para pembacaku tercinta, gimana kabarnya hari ini? Jika belum baik, gapapa, kok. Kita coba lagi besok, ya! Semangat!

Reswara (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang