21 - Olimpiade Sains Nasional

42 5 0
                                        

Dean tampak murung. Di antara pembatas rooftop gedung, matanya menatap sendu. Di pengakuannya tidak lagi terdapat buku ataupun kertas-kertas latihan soal, melainkan hanya ada kekosongan yang tak berarti. Minatnya menguasai mata pelajaran matematika mendadak sirna.

Hampa, semuanya telah berbeda.

Mungkin benar, sekeras apapun dirinya berusaha adalah kegagalan sebagai sahabatnya. Bukan gagal karena tidak dapat mengungguli para pesaingnya. Namun, gagal untuk mendapatkan keluarga serta teman sejati.

Mereka hanya datang saat membutuhkan, lalu satu per satu akan menghilang seiring dengan waktu yang mendekatkannya pada kehancuran. Seolah ditelan malam kala senja telah berujung.

Entah, tidak ada yang bisa dijelaskan mengenai perasaan Dean saat ini. Ia pun tidak tahu akan tetap melanjutkan rencananya esok hari atau tidak. Ia tidak tahu apakah ia akan menyerah sekarang atau tetap mengikuti olimpiade besok dan menerima kekalahannya. Ia tidak tahu akan mampu menghadapi sang mama yang begitu mengharapkan kemenangannya di rumah sana. Dean tidak tahu dirinya mampu.

Akan tetapi, Dean rasa ia tidak akan pernah mampu mewujudkan impian mamanya mempunyai anak sempurna. Karena meskipun pintar, ia tidak setara dengan Wiliam James. Ia hanyalah remaja SMA yang penuh hasrat—sebelum beberapa jam lalu hilang karena ucapan seseorang. Ucapan yang seharusnya sudah terlupa, tetapi kali ini begitu membekas dalam benaknya. Menimbulkan sesak yang teramat kentara.

Pandangannya tak terarah, air mukanya sedatar meja. Bibirnya mengatup tanpa kata, perutnya yang kosongnya tidak terasa apa-apa meskipun belum terisi semenjak tengah hari. Pikirannya kalut, bimbang menguasai.

"Mengapa semuanya membela Kaira? Kenapa nggak ada yang peduli sama gue?!"

Antara mengalah demi kebahagiaan sang adik yang artinya menambah serta melipatgandakan penderitaannya. Atau ... tetap egois dan membiarkannya terus berjalan dengan penuh persaingan.

Lelah, Dean lelah belajar.

Lelah bersaing.

Lelah menjadi bahan untuk perbandingan.

Lelah dimanfaatkan meskipun ia perlu teman.

Namun, menyerah bukan pilihan yang tepat untuk saat ini.

Lantas karena hal tersebut, seorang gadis memanfaatkan untuk memprovokasi. Datang dengan otak liciknya dan kepintaran berbicara lidahnya. Berharap sekali saja laki-laki itu mendengarkan dan menuruti inginnya.

"Ayolah, Dean, kita ini saudara."

Suara langkah kaki berhenti tepat di sampingnya. Akan tetapi, Dean berusaha abai. Beranjak dari tempatnya tanpa kata. Membiarkan Kaira termagu seorang diri.

****

Seorang laki-laki berdiri tegap dengan tangan yang terkepal kuat. Binar matanya berubah kelabu, begitu menampakkan akan ketersiksaannya berada dalam ruangan nan luas ini. Bukan karena dingin AC yang diatur hingga tujuh belas derajat celcius atau pengaruh ketegangan di sekitarnya, melainkan akibat dari sebuah hal yang tak seharusnya dilakukan.

Keringat dingin mengucur, membasahi dahi-dahi laki-laki itu. Jantungnya berdegup, seolah darah mengalir lebih deras. Pikirannya kacau, tubuhnya seakan remuk redam, rautnya menunjukkan kekhawatiran yang berlebih.

Namun, ketika sebuah tangan menyentuh pundaknya air mukanya berubah dingin. Seolah sulap yang dalam sekejap dapat mengubah ketakutannya menjadi senyum merekah. Tangannya yang tadinya mengepal, mengendur seketika. Bersikap seakan tidak terjadi apa-apa, memangnya apa yang terjadi?

Abimana, laki-laki itu menoleh dan menemukan sosok Dean di balik tubuhnya. "Ada apa?" tanyanya seolah tak mengerti.

Mata Dean menatap nyalang pada sosok teman masa kecilnya itu. "Gue tahu apa yang lo rencanakan sebenarnya. Bisa-bisanya lo lakuin ini buat perempuan egois macam Kaira?"

"Yang lo bilang perempuan egois itu adik lo!"

"Setelah lo nggak mampu maksa gue buat menyerah dan membiarkan Kaira mendapatkan mendali itu, sekarang lo melakukan hal tidak sesuai aturan seperti ini?" Tangan Dean terangkat, menepuk pipi sosok di depannya pelan. "Dasar bodoh!"

"Justru karena gue masih punya hati, gue melakukan ini. Perasaan dan logika itu harus seimbang, bro! Jangan memaksa perasaan untuk tunduk kepada logika."

Dean mendekat, tangannya ia turunkan. Tersenyum penuh arti, lantas berucap, "Logikanya, soal matematika tidak dapat diselesaikan dengan hati, melainkan otak yang bekerja."

"Lo masih sama dan nggak berubah dari dulu," tuntas Abimana sebelum namanya dipanggil untuk masuk ke ruangan lain tempatnya mengerjakan. Ruangan yang sama dengan tempat Kaira.

Suasana berubah hening, Dean mencoba mengontrol emosinya sebaik mungkin. Mencoba memfokuskan diri sebelum kakinya melangkah menapaki lantai menuju ruangan tempatnya seharusnya berada.

Duduk pada tempat namanya tertulis, lalu mengerjakan soal dalam diamnya. Meskipun ia tahu kecurangan yang dilakukan teman masa kecilnya serta adiknya, dirinya lebih memilih diam dan membiarkan. Karena hal tersebut tidak menjadi masalahnya dan tidak akan pernah menjadi urusannya.

Dean menghela napas panjang. Tangannya dengan lincah mencorat-coret kertas, lalu menyalin jawaban pada lembar jawab. Kecepatan berpikir dan reflek gerakan tangannya tidak dapat diragukan lagi meskipun tidak dalam kondisi tenang.

Dari dua jam setengah waktu yang diberikan oleh panitia untuk mengerjakan soal olimpiade, dalam satu setengah jam Dean sudah hampir menyelesaikan seluruh jawabannya. Namun, sebab sudah terlalu lelah dengan persoalannya sendiri, laki-laki itu lantas beranjak. Berjalan ke depan dan menyerahkan lembar jawabnya kepada panitia.

"Terima kasih," katanya, lalu hendak meninggalkan ruangan sebelum kakinya tiba-tiba menjadi kaku, tubuhnya beku. Netranya bersitubruk dengan gadis itu. Gadis yang juga menjadi rivalnya selama ini. Bagaimana bisa dirinya tidak mengetahui gadis itu berada satu ruangan dengannya.

Tak sama dengan reaksi Dean, Nanai justru tersenyum merekah. Sama sekali tidak terkejut dengan penampakan di hadapannya. Lantas, beberapa detik kemudian dirinya turut beranjak. Menyerahkan lembar jawabnya, lalu berjalan melewati Dean begitu saja menuju pintu keluar.

"Apa yang mau lo lakuin?" tanya Dean saat mereka sama-sama telah berada di luar.

Sebuah desiran hangat tiba-tiba menjalar ketika netra mereka kembali bertemu. "Bukan apa-apa." Nanai tersenyum tipis.

"Jangan bohong, gue tahu makna tatapan saat di ruangan tadi."

Gadis itu berusaha mengatur napasnya. Matanya ia pejamkan sesaat, mencoba untuk menguasai diri. "Gue nggak bakal ngelakuin apapun, Dean."

Setelah tadi berpusing ria dengan soal olimpiade, saat ini Nanai sudah tidak memilili kekuatan untuk hal lain. Termasuk menanggapi laki-laki itu. Oleh karena itulah setelah mengatakan kelimat tadi, Nanai melangkah menjauh. Tidak ingin menjelaskan apapun yang membuatnya semakin kehabisan energi.

"Manusia nggak ada yang bisa dipercaya."

Gadis itu merasa punggungnya tertahan, sehingga mau tidak mau dirinya harus menghentikan langkah. "Termasuk lo?" tanyanya seraya menurunkan tangan laki-laki itu dari punggungnya. "Egoistis!"

Dean diam, tak menanggapi. Pikirannya sibuk mencerna dialognya bersama gadis itu. Lagipula kenapa ia harus khawatir?

Semuanya sudah ia atur sedemikian rupa, apakah harus hancur hanya karena prasangka? Terlepas dari benar atau tidaknya prasangka itu, tetapi laki-laki itu tidak ingin ada celah sedikitpun untuk seseorang menghancurkannya.

Pada akhirnya pengorbanan antar saudara itu tidak benar-benar ada. Malahan itu semua adalah kata pelindung untuk sebuah keegoisan. Keegoisan untuk memenangkan pertempuran, untuk pujian yang tidak selamanya bisa datang.

"Apa yang gue lakuin itu salah?"

****

Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya, ya? Kecurangan apa yang dilakukan Abimana dan apa motifnya? Lalu apa yang dilakukan Dean dan diketahui oleh Nanai? Saksikan kelanjutan kisahnya pada bab selanjutnya!

Reswara (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang