"Hah? Serius?"
"Benar."
"Sekarang banget?"
Liam terkekeh geli, ia mengangguk antusias berbeda dengan sang penanya. Wajah sangat pucat, tangannya terkepal tanpa sengaja.
"Kau tidak bisa tunda atau batalin?"
"Kau takut?"
"Lime! Aku tidak takut! Kalianlah yang menggeretku kemari!"
"Jadi kau sebal karena kami sita kamu dari Hollie?"
"Bukan itu ish! Aku harap semua perasaan gak enak ini tidak benar terjadi, aku takut Hollie menderita."
"Hilih, sok gamau liat menderita tapi gamau jujur."
"Lime!"
Liam tertawa renyah membuat Louis geram, ia menepuk Zayn yang terlihat fokus mengamati dirinya. Niall ikut tertawa lebar melihat wajah Liam yang sungguh menggelitik perut.
"Ela dan teman lainnya tidak serius berkunjung hari ini, kan?"
"Benar! Kenapa? Kau takut?" goda Liam, dua alis naik-turun menggoda. Louis melonjak, ia menggeleng kepala beberapa kali.
"Tidak, Lime! Aku cemas!"
"Kau takut ditolak karena ada yang marah, kan?"
"Tidak!" bantah Louis setengah panik. Ia terperanjat kaget, tangan hampir menampar salah satu piring yang dibawa Harry dan membuatnya berserakan di atas keramik putih.
"Ada apa? Kok ramai gini?" ujar Harry, ia muncul dari arah dapur membawa dua piring snack.
"Itu ... Palingan masih canggung sama anakmu, Hollie," balas Liam santai, ia terkekeh melihat Louis semakin tegang. "Santai aja, Boo. Hollie gak bakalan gigit kayak harimau!"
"Hollie? Kau takut dia? Kenapa?" tanya Harry, ia mengambil kursi di tengah Zayn dan Louis lalu menempati. Niall mengambil alih piring nandos kesukaan lalu melahap antusias.
"Dia menjauhiku ... Aku baru bertemu dia kemarin dan ia ... Aku tidak yakin ia akan baik-baik saja. Maksudku, ia bisa saja merasa canggung," ujar Liam mencoba menjelaskan, wajah merah padam Louis bercampur panik semakin membuat Liam tertawa.
Harry ikutan tertawa lepas, ia geleng heran melihat kerabatnya yang bertingkah aneh seharian tapi ia juga merasa ada ganggu pikiran.
"Kirain apaan! Kau tidak perlu khawatir! Kami sudah menyiapkan bahan perbincangan yang akan sangat menyenangkan," ujar Harry, ia menggeleng kepala dengan cengiran terukir lebar.
"Kau lupa? Hollie menangis di bahunya dan kau marah! Bagaimana Louis bisa tenang?" bela Zayn, mengejutkan Liam dan Niall. Saking kagetnya, ia sedikit tersedak dan matanya merah menahan tenggorokan terara terbakar.
Zayn menepuk bahu Louis, hanya ia tidak tertawa. Baginya, Louis tidak lucu dan perasaan gundah juga pernah ia rasakan saat bertemu mantan pacar.
"Aku bersamamu, kawan. Kau tidak sendiri," ujar Zayn mencoba menenangkan, "Ia juga bersama temannya. Ada Niall dan Harry siap mencairkan suasana!"
"Ada apa? Memangnya kenapa? Kenapa kau panik saat tahu Hollie kemari?" ujar Harry, ia mengerutkan dahi saat Liam dan Zayn menatap balik.
"Memang Hollie tidak cerita padamu? Ayah macam apa kau, Harold?" ujar Louis gemas. Harry terdiam sejenak, ia menggeleng kepala dengan polosnya.
"Hollie dan Louis .... Bukannya kau ada di sana waktu Hollie bilang ia benci? Kau harusnya sudah paham!"
Louis menghela napas gusar, ia cukup kaget mendengar balasan Liam yang sangat keras. Harry tidak tersinggung, ia bahkan tertawa kecil.
KAMU SEDANG MEMBACA
Daddy's Sugar [END]
FanfictionDaddy's series 1. Louis × Hollie. 🔽🔽🔽🔽🔽🔽 "Saya hanya kenal kamu sebagai anak dari rekan saya, jadi berhenti merengek seakan saya adalah kekasihmu!" Louis Tomlinson. "Daddy Boo, apa yang membentur kepalamu hingga isinya eror semua? Hanya anak d...
![Daddy's Sugar [END]](https://img.wattpad.com/cover/291189045-64-k788479.jpg)