Satu part menuju tamat :)
.
.
.
Dua hari digunakan untuk istirahat total, ia tidak beranjak dari kamar apartemen sebelum dokter pribadi membolehkannya. Hanya kejenuhan yang menjadi teman, tidak ada suara yang membuatnya tertawa riang. Beruntung ia membawa kotak musik hadiah ayahnya saat berusia sepuluh tahun, kotak berisi kumpulan lagu One Direction. Ia menyetel berlanjut membuat ruangan tidak sepi.
Deja vu.
Jika dulu ia dijaga oleh ayahnya dengan perhatian 22/7, kini tugas diambil alih oleh Louis selaku kekasih. Ia menemani siang dan malam tanpa beranjak dari sisinya selain panggilan alam dan memasak.
Kalian tidak salah.
Selama ia sakit, Louis berusaha keras menyiapkan hidangan meski garam berlebih atau api terlalu besar hingga sedikit hangus. Lelaki itu tidak terlihat diam, banyak kegiatan yang ia lakukan meskipun tidak lupa mendampingi.
Tipikal suami idaman, bukan?
"Boo, kemarilah!" ujar Hollie, ia mengayunkan tangan pada Louis. Pria itu duduk di pinggir jendela dengan batang rokok yang terselip di jemari, ia menyesap dan menghembuskan ke luar ruangan secara perlahan. Pria itu menoleh, ia tersenyum namun tidak pindah posisi.
"Kau butuh sesuatu? Atau kau ingin aku antar ke mama mandi?" tanya Louis ringan, ia tidak sadar ucapannya cukup memalukan bagi seorang wanita seperti Hollie.
"Tidak ... Maaf kau selalu sibuk mengurusiku selama dua hari, aku akan bantu jika sudah benar-benar pulih," lirih Hollie, ia melilit jari resah.
"Kau kenapa sih selalu keren? Aku ingin memotretmu dengan rokok di tanganmu," rengek Hollie, Louis tertawa renyah. Ia memutar badan dan berpose ke arah Hollie dengan gawai di tangan. Ia mengambil beberapa gambar, jempolnya teracung setelah mendapat banyak foto.
Dering telepon menginterupsi, ia mengetuk dahi gemas begitu sadar sudah melupakan pesan penting ayahnya. Ia menerima dan membuatnya loudspeaker, Louis berpindah ke sisi Hollie begitu dengar suara serak basah dan cukup lambat.
Suara khas Harry Styles.
"Daddy! Oh my! Maaf banget, aku lupa menghubungimu!" sapa Hollie histeris, ia mengatup tangan dan mengayunkan beberapa kali. Muncul gelak tawa dari seberang, dua orang tawa keras.
"Asik naena sama Louis, ya? Ups!" ledek seseorang, ia yakin berasal dari Christ. Tidak ada yang berani berbicara vulgar dan kasar selain sahabat kecil sekaligus saudara angkatnya itu.
"Hasilnya gimana? Udah jadi?" lanjutnya, Hollie mendengus pelan. Wajahnya memanas, ia yakin Louis kini menahan tawa. Suara desisan terdengar jelas dan mengusik gadis batinnya yang baru bangun.
"Christ! Jaga ucapanmu! Ia adikmu!" ujar Harry tegas, tetapi meninggalkan kesan humor.
"Iya, Dad! Aku tidak akan mengulangi lagi!" ujar Christ.
"Aku lagi santai di kamar dengan Boo, besok baru jalan-jalan ke pantai dekat apartemen," ujar Hollie membalas pertanyaan Christ, ia tidak mau dicap sebagai adik durhaka karena mengabaikannya.
"Dasar pemalas! Louis suka sama lo atas dasar apa coba? Pasti belum mandi, kan? Masih ileran, kan?" cecar Christ.
Hollie mendengus pelan, ia menghidu baju dan detik berikutnya merasa mual. Ia melempar gawai asal lalu berlari menuju closet yang ada di dalam kamar dan mengeluarkan semua isi perutnya. Ia dengar derap cepat dan merasakan pukulan kecil di punggung dan bahu, satu treatment baru yang diberi Louis setiap ia mengalami hal serupa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Daddy's Sugar [END]
FanfictionDaddy's series 1. Louis × Hollie. 🔽🔽🔽🔽🔽🔽 "Saya hanya kenal kamu sebagai anak dari rekan saya, jadi berhenti merengek seakan saya adalah kekasihmu!" Louis Tomlinson. "Daddy Boo, apa yang membentur kepalamu hingga isinya eror semua? Hanya anak d...
![Daddy's Sugar [END]](https://img.wattpad.com/cover/291189045-64-k788479.jpg)