13|HARAPAN

1.6K 141 122
                                    

Rayuan demi rayuan Gus Lutfi lontarkan, untuk meluluhkan kemarahan istrinya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rayuan demi rayuan Gus Lutfi lontarkan, untuk meluluhkan kemarahan istrinya. Maira benar-benar merajuk dan tak mau menatapnya. Sebelumnya Maira tak pernah merajuk, karena memang dirinya pun tak pernah menggoda seperti tadi. Biasanya Gus Lutfi hanya mengingatkan makan, istirahat, dan ibadah saja. Tak pernah sekali pun memberikan gombalan. Hal itu tentu saja membuat Gus Lutfi kebingungan saat istri kecilnya merajuk.

"Humaira, maaf," cicit Gus Lutfi.

"Rara. Cantik. Raranya Mas Fi. Maafin mas dong, iya mas tahu, mas salah. Maaf ya, Rara," ucap Gus Lutfi.

"Hm." Maira hanya berdeham pelan.

"Masih ngga dimaafin nih?"

"Ngga!"

"Yah ...." Bahu Gus Lutfi merosot.

Maira terkekeh geli. Dia mengubah posisinya menghadap sang suami. Dengan senyum nakal Maira berkata, "Mas Fi mau dimaafin? Turutin Rara dulu dong!"

"Tentu! Rara mau apa? Mau es krim? Mau coklat? Boneka? Bunga? Jajan? Pocky love? Bilang saja sama mas. Ooh, atau mau seblak? Biasanya cewe kan suka banget seblak kalau lagi ngambek," tanya Gus Lutfi bersemangat.

Maira tertawa pelan. Lucu sekali suaminya ini. Tanpa sadar Maira memukul paha suaminya, membuat Gus Lutfi spontan memekik. Pukulan Maira tak main-main.

"Rara! Ngga usah mukul juga kali, sakit nih." Gus Lutfi mengusap-usap bagian yang terkena pukulan istrinya.

"Hehe, maaf, Mas Fi, Rara ngga sengaja," ucap Maira dengan sisa tawanya.

"Oh iya, Rara mau hari ini Mas Fi nemenin Rara ke mana pun Rara pergi. Setelah makan di dekat alun-alun, Rara mau Mas Fi nganterin Rara ke Gramedia buat beli buku," tambah Maira.

"Rara mau beli buku apa? Oh ya, kata Bunda Rara suka banget novel, Rara mau beli novel? Nanti mas belikan, sepuasnya," ujar Gus Lutfi.

Netra biru hazel Maira berbinar melihat ada kesempatan emas di depannya. Sudah lama dia menginginkan sebuah novel, tetapi statusnya sebagai santri menjadi penghalang. Karena di pesantren semua santri dilarang membawa novel.

"Mau, Mas, Rara mau!" seru Maira kegirangan.

"Iya, nanti beli, ya. Sekarang kita cari sarapan dulu, kasihan perutnya belum diisi, nanti sakit."

Gus Lutfi mengusap lembut kepala istrinya yang tertutup khimar, lalu membenarkan posisi duduknya sebelum melajukan mobilnya meninggalkan area pesantren. Istri kecilnya sudah duduk anteng di sampingnya. Maira sangat patuh pada titahnya dan itu sebuah keberuntungan bagi Gus Lutfi. Memiliki istri salehah dan penurut adalah impian semua laki-laki.

"Rara mau sarapan pakai apa?" tanya Gus Lutfi.

"Apa ya enaknya?"

Maira menatap kanan dan kiri jalan. Mereka sudah mendekati alun-alun dan sudah terdapat banyak pedagang makanan serta jajan di sana. Netra hazel Maira berhenti di sebuah gerobak dagangan, yang menjual bakso dan mi ayam. Itu adalah makanan kesukaan Maira.

Habibi&Humaira [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang