Bagian Sembilan

132 15 0
                                        

Hai...Hello...👋👋👋

Author hadir lagi nih bawa part baru..

Langsung aja dibaca ya,

Semoga dapat menghibur ya,,

Bye...bye..

.
.
.
.
.

"Author pov"

Sesuai ucapan liana tadi siang, yang menyanggupi undangan dari jena dan shua. Sekarang liana dan nino berjalan beriringan untuk menuju ke tempat keluarga jena menginap. Ternyata keberadaan villanya hanya beberapa meter dari hotel yang liana tempati, sehingga liana lebih memilih berjalan kaki sambil menikmati waktu malam hari.

Masalah nino, awalnya nino menolak dan tidak mengizinkan liana untuk berkunjung ke villa keluarga mereka. Bahkan untuk menyebut namanya saja, nino sangat tidak sudi. Karena mereka, gagal sudah rencana nino untuk menikmati waktu liburan dengan orang terkasih.

Flashback on...

“Kak seriously? Kakak tau kan, kalau aku ga suka dengan adanya pengganggu. Apalagi pengganggunya seperti mereka.” Ucap nino menekan kata mereka

“Aku serius no, aku tau itu no. Aku ga bisa buat ngehindar kan? Kamu ga suka ya sama permintaan aku?” Tanya liana menggunakan jurusnya sambil menatap nino sedih, udah cukup lelah buat liana membujuk nino

Sehabis liana dan nino berpamitan, nino langsung membawa liana ke hotel. Liana fikir nino setuju dengan liana yang mengiyakan ajakan majikkannya tadi, ternyata pikiran liana salah. Karena setelah sampai dikamar, nino langsung mengintrogasi liana.

Bahkan sampai sekarangpun liana berusaha mati-matian untuk membujuk nino, karena nino akan lebih keras kepala dari wonu dan akan sulit dibujuk jika mengenai hal yang ia tak suka.

“Bukan itu maksudku kak, sejak kapan aku bisa ga nolak permintaan kak liana. Maksud aku, harus banget di hari spesial kita jadi gagal karena ada pengganggu seperti mereka?” Ucap nino dengan nada teramat lembut, karena ia tidak ingin menyakiti hati kesayangannya

“Maaf..Maaf banget, aku minta maaf, aku pun tak ingin merusak hari spesial kita. Tapi mau bagaimana lagi no, nasi sudah menjadi bubur. Aku harus datang, untuk menjaga citra baik aku di mata mereka. Sampai sini kamu bisa ngerti kan? Aku mohon, ngertiin aku, aku ga mau semuanya gagal no, Pleasee..” Ucap liana menatap nino lirih

“Please kak, jangan kaya gini. Aku ga bisa dan ga suka kalau kak liana kaya gini.” Ucap nino menangkup pipi tembam liana

“Jadi kamu mau ikut aku nanti?” Tanya liana berbinar

“Yaaa, aku mau karena kak liana. Ga mungkin dan ga akan aku biarin kak liana buat sendiri kesana, aku takut kak..” Ucap nino tersenyum menatap liana

“Yes, makasih nino. Gapapa kamu kaya kepaksa gitu, asal kamu ikut.” Ucap liana tersenyum senang dan mencium pipi nino

“Tapi ada syaratnya kak.” Ucap nino membuat liana menatap nino dengan muka bertanya, membuat nino memekik gemas

“Syarat apa no?” Tanya liana penasaran

“Kak liana harus cari waktu lain buat ganti waktu kita hari ini, bagaimana?” Ucap nino mecubit gemas karena tingkah liana

“Deal, aku setuju asal kamu mau ikut aku. Aku bakal cari waktu buat kita liburan berdua nanti.” Ucap liana membuat nino tersenyum menang, ga sabar buat nino untuk memberi tahu wonu dan mengejekknya

“Deal kak, aku pegang janji kak lili.” Ucap nino tersenyum

“Oke, makasih sekali lagi no soal kamu mau ikut aku.” Ucap liana

“Iya kak sama-sama, apapun itu asal kak liana selalu bahagia seperti ini akan aku lakukan. Sekalipun itu hal yang aku ga suka.” Ucap nino terkekeh

“Untungnya mereka ga tau kalau kamu adik wonu, kamu kenapa coba malah ngenalin diri kamu sebagai adik aku?” Tanya liana penasaran

“Ck.. Kak kalau kamu bilang aku adik temen kamu apa pendapat mereka coba nanti tentang kamu.” Ucap nino gemas dengan respon liana

“Astaga aku ga kepikiran sampe kesitu tau, huaa... kamu udah nyelamatin aku lagi no. Makasih banget pokoknya.” Ucap liana memeluk nino

“Kak liana itu berarti banget buat aku tau, udah sekarang kak liana istirahat dulu. Aku balik ke kamar aku dulu ya.” Ucap nino setelah pelukan liana lepas

“Kita istirahat bareng aja gimana? Aku pengen peluk kamu, kangennnn..” Ucap lucu liana membuat nino tersenyum senang, makin ga sabar buat ia panas-panasin sang abang

“Kalau anak baik, emang selalu dapet ke beruntungan.” Ucap nino dalam hati

“Boleh kak, aku juga pengen peluk kak liana. Kangen juga sama kakak imut nino.” Ucap nino terkekeh

“Oke ayo kita tidur, kalau sore ada waktu kita keliling mau tidak? Soalnya aku belum puas buat keliling tadi.” Ucap liana dalam pelukan nino

“Oke kakak cantinya nino, jadi sekarang ayo kita istirahat dulu.” Ucap nino dianggukin patuh liana

“Aku suka kalau kamu manja kaya gini hanya ke nino kak.” Ucap nino lirih sambil menatap liana, lalu ikut menyusul liana ke alam mimpi

Flashback off...

“Senyum dong no, masa ditekuk gitu sih mukanya." Ucap liana sambil berjalan beriringan nino yang menggenggam tangan mungil liana

"Iya...iya... kak liana yang cantik." Ucap nino berhenti didepan liana sambil memamerkan senyum gantengnya

"Nah gini dong, kan makin ganteng kamunya no." Ucap liana mencubit pipi nino

"Ck.. kak udah aku bilang, aku bukan anak kecil lagi." Ucap nino membuat liana terkekeh

"Okeyyy, aku minta maaf hehe... Janji deh, kita disana ga akan lama. Acara selesai, kita langsung pulang." Ucap liana menyodorkan jari kelingkingnya

"Deal, aku setuju banget malah..." Ucap nino tersenyum

"Iya... aku tau jawaban kamu no hehe." Ucap liana membalas senyum nino

"Ayo kita lanjutkan jalannya, udah mau sampe nih." Ucap liana sambil menunjukkan handphonenya yang menampilkan google map

"Iya kakak cantiknya nino." Ucap nino gemas

Setelahnya mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka menuju villa tempat jena dan keluarganya berada.

"Author pov end"

.
.
.
.
.

TBC
Lanjut atau engga???

Gimana sama ceritanya???

Ada pesan yang ingin disampaikan???

Gemes tidak dengan interaksi nino dan liana??

Maaf jika typo bertebaran...
Jangan lupa untuk vote and komen biar authornya semangat ngelanjutin ceritanya...

RuMiTTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang