11: Rahasia Pulau Qriqoa

18.2K 718 11
                                        

Helloo.. tolong ingatkan aku kalau ada typo, salah nama, dan kalimat yang rancu ya... terima kasih :)

***

"Selamat.. kalian telah sah menjadi pasangan suami istri." Dr. Frans menyalami kami dengan senyum evilnya. Saat ini aku dan Mas Rimba telah kembali ke rumah pohon setelah mengalami kejadian yang tidak menyenangkan di atas bukit tadi malam. Mas Rimba bahkan masih tampak linglung dan enggan bicara.

Entah kenapa aku merasa tidak nyaman dengan orang ini setelah apa yang ia lakukan pada Mas Rimba.

Memberi afrodisiak pada Mas Rimba lalu mengendalikannya dengan ilmu hitam hanya untuk upacara pernikahan yang creepy ini.

Aku bisa melihat raut senang dr. Frans yang seakan sedang menertawakan kami.

"Gimana, enak kan.. menikah di tempat ini?"

"Dr. Frans kenapa tidak memberitahu upacara pernikahannya seekstrem itu?" Seruku kesal. Mengingat bagaimana sakitnya saat Mas Rimba melakukannya dengan kasar dan seperti orang kerasukan. Atau betapa malunya aku karena harus memimpin permainan karena Mas Rimba menjadi seperti boneka jiwa yang diam saja dengan tatapan frustasi karena gairah yang memuncak.

"Ok sorry. Ini memang surprise buat kalian."

"Kalian pasti sudah menyadari bahwa suku Qriqoa ini bukan suku pedalaman biasa." Dr. Frans mengisyaratkan dengan matanya agar kami mengikuti pria itu ke luar ruangan.

Aku menggandeng Mas Rimba yang masih linglung seperti seorang majikan yang menggiring anjing peliharaannya. Mas Rimba benar-benar jadi sangat penurut dan mengabaikan sekitarnya.

"Pulau ini, pulau Qosara adalah salah satu pulau yang dianggap lenyap oleh dunia. Kamu tahu mengapa?" Dr. Frans membawa kami turun dengan lift kayu.

"Karena penduduk pulau ini yang menginginkan hal itu. Mereka pernah menjadi bagian dari masyarakat dunia, tetapi manusia kebanyakan menganggap budaya mereka tabu dan menyalahi norma yang ada. Well.. dari kebiasaan nggak pakai baju udah kelihatan betapa tabu mereka. Apalagi jika orang biasa mengetahui budaya mereka yang lainnya?"

Aku mengangguk membenarkan, tetapi rasa kesalku masih belum surut.

"Apa alasan mereka melakukan hal itu pada Mas Rimba?" Tanyaku akhirnya.

Dr. Frans menghentikan langkahnya di sebuah rumah kayu dan mengajak kami duduk di terasnya.

"Beneran kamu ingin tahu?" Dr. Frans malah melemparkan senyum misteriusnya.

Aku bergidik ngeri. Apa yang sebenarnya telah Mas Rimba alami semalam, sih?

Sedetik kemudian ingatan dr. Frans melayang kembali pada Malam pernikahan Rimba dan Violetta.

(Tulisan miring adalah flashback)

"Kau yakin dengan pilihanmu?" Tanya dr. Frans sekali lagi.

"Jika dokter hanya memberi pilihan untuk berhubungan badan dengan ditonton semua penduduk di sini atau merajah lidah agar bisa ditonton dari jauh, tentu saja saya akan memilih opsi ke dua." Terang Rimba dengan kalem. Pria itu tampak tenang menanggapi itu.

"Kau tidak takut? Kalian akan langsung mati jika tidak berhasil memuaskan hasrat penduduk di sini jika mereka menontonnya lewat sihir." Tanya dr. Frans lagi.

Rimba menampakkan senyum asimetrisnya yang khas.

"Performance kami akan memuaskan mereka." Ujar Rimba tanpa keraguan. Membuat dr. Frans tertawa puas.

Terdampar (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang