Sebelum baca, absen umur kamu yukk 😉
Me: 25
***
Beberapa hari kemudian aku dipindahkan ke paviliun khusus sebagai tempat trauma healing, sekaligus menjadi tempat interogasi pihak berwajib tentang kebenaran yang terjadi di atas kapal sebelum aku ditemukan.
"Saya nggak ingat." Ucapku untuk kesekian kali. Setiap pagi, sehabis sarapan seorang perawat berwajah keibuan akan mendatangiku dengan pertanyaan yang sama.
"Okay... Vio cepat sembuh ya." Dan ucapan yang sama selalu ia berikan saat tidak mendapatkan jawaban yang ia inginkan. Aku menghirup nafas panjang. Dadaku rasanya sesak tiap kali mencoba menggali ingatanku tentang apa yang terjadi setelah kecelakaan itu.
"Oh ya, nanti akan ada tamu spesial buat kamu, Vio. Siap-siap ya.." Kata perawat tadi sebelum menggeser kursinya dan beranjak pergi dari kamarku.
Aku memejamkan mata dan tanpa terasa air mata keluar dari sudut mataku. Entah mengapa aku merasa seperti rindu. Tapi tidak tahu kepada siapa. Aku sudah bertemu dengan anggota keluargaku, dan hal itu sama sekali tidak menyurutkan rasa sesak di dadaku.
Dengan tenaga yang terkuras setelah sesi introgasi pagi tadi, aku menyeret langkahku kembali ke ranjang dengan seprei putih. Merebahkan tubuhku di atasnya lalu berbaring miring menghadap tembok. Dan suara isakanku terus bergema di kamar ini hingga aku tertidur.
Sore harinya, sehabis mandi aku mendengar suara ketukan di pintu kamar.
"Ya." Balasku karena tahu siapapun itu di luar sana akan masuk sendiri ke dalam kamar, karena kamar ini tidak memiliki kunci yang bisa memberikanku privasi. Bahkan aku menyadari ada sebuah kamera cctv yang terpasang di atas lemari pakaian, menangkap setiap sudut kamar ini tanpa kecuali.
"Kakak bawa tamu nih..." Seorang suster dengan senyum lebar melangkah masuk ke dalam kamar. di belakangnya muncul sahabatku, Aurora dan kakaknya, Mas Rimba. Mas Rimba? Mendadak kepalaku berdenyut saat menyebut namanya di kepalaku.
"Vio!!!" Seru Aurora dengan tangis yang berderai di pipinya. Gadis berambut pendek itu sudah membawaku ke dalam pelukannya.
"Thank's God, Kita semua selamat." Aurora melepas pelukannya sambil menyeka pipinya yang basah.
"Iya, syukurlah." Balasku pendek. Aku senang ternyata Aurora juga selamat dari kecelakaan itu.
"We need space. Bisa suster pergi dulu?" Tanya Aurora pada suster yang msih berdiri mengamati interaksi mereka. Suster itu tergagap namun sedetik kemudian ia tersenyum kecil dan keluar dari kamar. Aurora membawaku duduk di tepi ranjang.
"Kamu sudah lihat berita?" Tanya Aurora dengan ekspresi berubah menjadi keras. Aku bisa melihat nada bergetar dari suaranya.
Aku menggeleng pelan. Aku mencuri lihat ke arah Mas Rimba yang masih mematung dengan kedua tangan yang tersembunyi di saku celana. Wajahnya yang selalu berjambang tipis di ingatanku sekarang tampak bersih dari bulu-bulu itu, sehingga membuatnya tampak lebih muda. Namun, tubuhnya yang tinggi tampak jauh lebih kurus dan kulitnya semakin gelap. Aku mengomentari penampilan kakak sahabatku itu dalam hati.
"Seluruh kru kapal di mana kamu dan Mas Rimba ditemukan ternyata tewas dengan darah keluar di seluruh lubang tubuhnya." Aku mendengarkan ucapan Aurora dengan napas tertahan.
"Dan beberapa kalangan sedang membuat asumsi bahwa kamu dan Mas Rimba yang sengaja meracuni mereka semua." Aku melebarkan mata tidak percaya. Tidak mungkin kami melakukan itu.
"Aku..." Ucapanku menggantung saat kulihat Mas Rimba bergerak ke arahku lalu duduk di sofa di dekat Aurora.
"Aku tidak mengingat apapun." Sambungku pelan. Melihat Mas Rimba sedekat ini membuat jantungku berdebar-debar. kutundukkan wajahku, semoga Aurora dan Mas Rimba tidak menyadari wajahku yang menghangat.
KAMU SEDANG MEMBACA
Terdampar (END)
RomansaVioletta tidak menyangka perjalanan study tour ke Australia yang sangat ia nanti-nantikan justru berakhir petaka. Pesawat yang mereka tumpangi hilang kontak dan jatuh di perairan Papua. Untungnya Violetta bisa selamat meski ia harus terdampar dengan...
