Aku bersyukur gigitan ular di kakiku berangsur membaik. Meskipun belum sembuh sepenuhnya, namun aku sudah tidak merasakan sakitnya saat kugunakan berjalan.
Sore ini aku sedang bediri di balkon rumah pohon tingkat ke 6, lantai yang sedang kutempati ini adalah rumah yang diberikan padaku dan Mas Rimba sebagai kado pernikahan yang akan diselenggarakan nanti malam.
Memikirkan tentang pernikahan, perutku kembali mulas. Aku gugup. Apa yang bisa diharapkan dari gadis 17 tahun yang minim hubungan percintaan?
"Ngapain?" Sebuah suara mengejutkanku. Aroma mas Rimba yang sudah kuhafal membuat darahku berdesir.
"Cuma lihat-lihat."
"Oh. Kirain lagi mikirin pernikahan kita nanti malam." Mas Rimba ikut memerhatikan lalu lalang orang-orang yang telanjang sedang menatap bermacam-macam makanan dan buah-buahan. Seperti sebuah festival.
"Aku heran deh, Mas. Rumah-rumah di sini kan nggak seberapa, tapi kenapa yang aku lihat tuh bisa banyak banget ya?"
"Oh itu.."
Mas Rimba menggaruk dagunya, pura-pura sedang berfikir.
"Kenapa Mas?"
"Kata dokter Frans, penduduk suku Qriqoa kebanyakan tinggal di bawah tanah. Tapi aku masih belum tahu sih kayak apa bentukannya." Aku melebarkan mata mendengar informasi baru dari Mas Rimba.
"Beneran itu Mas?"
"Katanya sih gitu." Mas Rimba mengangkat bahunya acuh. Pria itu melempar pandangan ke arah hutan, di sana tampak sebuah bukit yang cukup landai. Tampak beberapa cahaya obor dari arah sana.
"Apa kabar Aurora sekarang?" Gumam Mas Rimba pelan. Aku menoleh ke samping, meneliti stuktur wajahnya yang terlihat sempurna dari samping, kemudian beralih ke matanya yang nampak redup.
"I don't know." Balasku dengan nada bergetar. Kebersamaan kami sedikit banyak mengalihkan perhatianku dari "kecelakaan" itu. Dan memikirkan kondisi sahabatku yang tidak kuketahui membuat kepalaku berdenyut hebat. Aku bahkan hampir lupa, bahwa Mas Rimba sebelum terdampar bersamaku merupakan seorang kakak laki-laki yang sangat overprotective pada adik satu-satunya. Bahkan... dulu dia selalu mengabaikanku karena perhatiannya hanya tertuju pada Aurora.
"Pasti Aurora nggak akan nyangka, ntar malem aku akan nikahin Masnya yang jadi idola satu sekolahan." Aku tertawa hambar. Mas Rimba merangkul tubuh telanjangku yang sekarang sudah kebal dengan cuaca setelah meminum ramuan khas suku Qriqoa.
"We only have each other from day 1 here." Mas Rimba menangkup pipi kiriku dengan telapak tangannya yang besar. Mengalirkan kehangatan yang memberikan ketenangan.
"Mas Rimba udah yakin, mau nikah sama aku di sini?"
"Kenapa harus tidak yakin?"
"Mas Rimba kan nggak cinta beneran sama aku."
"Dari mana kamu tahu?"
"Dari... Aurora. Dia pernah bilang kalau Mas Rimba masih gagal move on dengan seseorang." Kataku tanpa balas menatap Mas Rimba yang tengah menatap nanar padaku.
***
Persiapan upacara pernikahan kami sudah hampir selesai. Sejak matahari terbenam, aku dan Mas Rimba dipisahkan untuk mandi di lain tempat. Beberapa wanita paruh baya membantuku menggosok badan dengan serabut akar tanaman. Kemudian mereka memaksaku untuk berendam di sebuah kolam kecil dari batu yang sudah diisi dengan susu sapi yang masih hangat.
Aku masih saja takjub bagaimana warga suku Qriqoa memperlakukan orang asing dengan sangat ramah, dan juga mereka tidak terlihat malu sama sekali saat beraktifitas tanpa pakaian yang melekan di badan mereka.
Merasakan angin membelai tubuhku saja, sudah membuatku merinding disko.
Tap-tap. Ibu-ibu berambut gimbal menepuk pundakku. Aku menunggu apa yang hendak ia katakan padaku dengan bahasa isyarat, karena aku sama sekali tidak mengerti bahasa mereka.
Ibu-ibu itu menunjuk tubuhku kemudian mengangkat jempolnya tinggi-tinggi. Ah...
"Terima kasih." Balasku dengan senyuman tulus. Ibu-ibu tadi sepertinya sedang memuji kulitku yang lembut dan berwarna terang.
Meskipun telanjang begini, aku jadi menaruh penghargaan lebih pada mereka karena sudah memperlakukan orang asing dengan sangat baik dan ramah. Karena dari yang pernah kutonton di film-film, masyarakat suku pedalaman biasanya sangat agresif dengan orang asing.
"Squqdqaqhq sqaqaqtqnqyqaq." Ibu yang tadi memujiku mengangkat tubuhku yang telanjang dengan mudahnya kemudian ia menurunkanku di sebuah balai kayu yang sudah dilapisi kasur kapuk.
Aku menerima handuk kering yang diberikan Ibu tadi dan segera mengeringkan tubuhku sendiri. Selanjutnya Ibu tadi mengolesi seluruh tubuhku dengan minyak yang baunya semerbak seperti bau vanilla. Manis.
"Sudah Siap?" Tanya dr. Frans yang tiba-tiba masuk ke tempat pemandian perempuan. Pria itu bersiul kecil menatap tubuhku dari kepala hingga ujung kaki. Secara refleks aku segera menyambar handuk untuk menutupi aset pentingku.
Dr. Frans terkekeh melihat tingkahku. Sedetik kemudian wajahnya kembali serius.
"Let's go." Ucapnya seraya menarik tanganku berdiri dan berjalan mengikuti langkahnya.
"Tenang saja. Di sini tidak akan ada yang berani macam-macam kepada wanita yang sudah resmi menikah. That's the rule." Dr. Frans tersenyum kecil. Anehnya, aku bergidik saat melihat senyumnya yang tampak palsu.
"Nanti kalian akan ditinggalkan di atas bukit berdua untuk bercinta. Setelah itu masukkan sisa-sisa cairan cinta kalian berdua ke dalam cawan suci yang disediakan yang akan disaksikan oleh kepala suku dan para tetua sebagai saksi setelah kalian memberikan tanda dengan menyalakan piala obor. Voilaa.. setelah kalian lolos uji cawan suci tersebut, kalian sudah resmi menikah." Ucapan dr. Richard membuat mataku membola. Uji cawan suci? Bercinta? Upacara pernikahan macam apa yang seekstrem itu?
"Tidak perlu bingung begitu. Ikuti saja nanti alurnya. kalian akan baik-baik saja. Semoga." Bukannya tenang, pernyataan terakhir dr. Frans justru membuatku makin khawatir. Apakah kami sedang salah menilai kebaikan suku pedalaman ini?
Kekhawatiranku semakin meningkat saat kulihat Mas Rimba juga tengah digiring menuju ke atas bukit, namun yang kulihat adalah matanya sedang diikat sebuah kain berwarna hitam.
"Mas Rimba." Panggilku. Namun pria itu seakan tidak mendengar.
"Semoga berhasil." Ucap dr. Frans dengan seringaian misteriusnya, kemudian ia meninggalkan aku dan Mas Rimba di atas bukit yang sudah dihias sedemikian rupa. Dengan sisa potongan pohon raksasa yang menyerupai tempat tidur sebagai lokasi kami nanti bercinta. What the.. mengapa rasanya kami seperti sedang menjadi tumbal persembahan begini sih?
***
TBC
KAMU SEDANG MEMBACA
Terdampar (END)
RomanceVioletta tidak menyangka perjalanan study tour ke Australia yang sangat ia nanti-nantikan justru berakhir petaka. Pesawat yang mereka tumpangi hilang kontak dan jatuh di perairan Papua. Untungnya Violetta bisa selamat meski ia harus terdampar dengan...
