❝ 𝘵𝘩𝘪𝘴 𝘴𝘵𝘰𝘳𝘺 𝘪𝘴 𝘢𝘣𝘰𝘶𝘵 𝘵𝘩𝘦𝘺 𝘧𝘢𝘭𝘭 𝘧𝘰𝘳 𝘦𝘢𝘤𝘩 𝘰𝘵𝘩𝘦𝘳. ❞
Entah sejak kapan genderang perang itu dinyalakan. Mungkin sejak Renee selalu mendapati Alex berusaha menjahilinya dalam tiap temu sapa. Sikap Renee yang keras, am...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Gebrakan kecil meja baru saja membuat satu tubuh terkesiap dari sikap terkantuk–kantuk. Sengaja, mungkin. Kelopak Renee menyipit kecil, sedikit menarik ingatan atas apa yang terjadi. Dia melakukan apa, ya, barusan? Oh....
"Ku pikir, ini kantor. Bukan gedung Motel."
"Terima kasih atas komplimenmu, Tuan Perekam Payudara Sapi," sahutnya. Tak begitu ramah. Memang, tak akan pernah kalian temukan keramah–tamahan di wajah si cantik ini. Khusus pada sosok yang lebih pantas ia sebut sebagai—
"I like that, Miss Ambitious. Cheers~" Alex mengajukan gelas kopinya ke udara, lalu mengambil sikap duduk tenang di hadapan.
—ya, pengganggu. Itu bukanlah hal satu kali yang Renee temukan acapkali mereka bersinggung temu. Entah apa saja ulah yang si pemilik rambut ikal hitam itu perbuat. Selalu bersifat tidak jelas—iseng, lebih tepatnya. Mungkin. Seakan tak mengganggunya satu kali saja bisa membuat napas pria itu tercekat di kerongkongan. Renee pernah tak mengindahkannya. Tapi, perlakuan itu semakin menjadi–jadi tak waras, hingga membuat seisi gedung berpikir mereka berkencan. Kencan? Whoa, yang benar saja?! Pria di bawah umur bukanlah seleranya! Kendati, Alex memang memiliki visual yang tak terbantahkan dan menjadi salah satu idola di kantor berita tempat ia berpijak, tapi ... Renee tetap tak akan luruh oleh pesona mentah tersebut. Titik!
Sial, membahas si aneh itu membuat ia melupakan apa yang seharusnya menjadi alasan ia memilih berdiam di lobby. Renee kembali fokus pada catatan di pangkuan, itu berisi materi pertanyaan yang harus ia kuasai untuk beberapa jam ke depan. Menjadi seorang News Anchor adalah impian yang telah ia nantikan sejak belia. Mewawancarai banyak tokoh terkenal, dengan sedikit beradu argumen pada satu segmen yang sering ditunggu–tunggu banyak pemirsa merupakan kondisi yang selalu ia nantikan. Dan kini, ialah sosok yang ditunggu itu. Sosok wanita bersetelan rapi, dengan tutur berbobot dan gestur penuh wibawa yang hadirnya selalu menjadi penantian utama di salah satu channel televisi kota kelahirannya dalam beberapa tahun terakhir.
Sekarang, Renee tak ingin membuang waktu. Semua harus terorganisir dengan baik, mengingat tokoh yang akan diundang adalah Walikota Kansas yang baru–baru ini dilantik. Tapi, lupakan semua keindahan fana itu. Perasaan risih baru saja hinggap tatkala mendapati Alex yang masih tak berkedip menatap ke arahnya, sembari sesekali menyesap kopi. Lagi–lagi...."What?" singgungnya.
"Nope." Alex menyahut santai, sembari mengajukan cheers yang kedua. Menahan tawa.
"Don't look at me like that. Please?" ringisnya paksa di akhir kalimat.