"Maaf, tadi Radit ada urusan sebentar, jadi mama aku tinggal sebentar."
Ia terus berusaha mengajak bicara mamanya. Namun, mamanya tetap diam dan terus menangis.
Tak ingin lama-lama menjadi pusat perhatian, Ia segera membawa sang mama masuk ke dalam mobil, dan segera pulang ke rumah, agar mamanya bisa istirahat. Mungkin lelah, pikirnya.
Setelah sampai di rumah, Radit di banjiri banyak sekali pertanyaan dari ayahnya yang baru saja pulang dari kantor.
"Dit, mama kenapa nangis? Kamu apain mama kamu, hah?" Radit jengah. Ayahnya ini terlalu berisik, menurutnya.
"Radit ngga tau 'yah. Tadi Radit ada urusan sebentar, jadi mama Radit tinggal sendiri di rumah sakit. Waktu Radit balik, mama udah nangis." Jelas Radit panjang lebar.
Ayahnya yang di ketahui bernama Adi itu, menghela napasnya pelan.
"Ya sudah, kamu ambilin mama minum ya! Ayah bawa mama ke kamar dulu!" Radit mengangguk dan segera menuju dapur untuk mengambil minum.
Kamar.
Terdengar suara knop pintu terbuka. Terlihat Radit berdiri di ambang pintu dengan gelas berisi air putih yang berada di tangannya.
"Ini minum dulu, ma!" Cetus Radit sembari menyodorkan gelas berisi air putih tersebut.
Tak ada respon sama sekali dari ibunya. Ibunya terus saja menatap kosong ke depan. Adi menghela napas panjangnya.
"Sar?"
Panggil Adi namun tetap tak mendapat sahutan.
Adi menepuk bahu istrinya pelan. Saat itu juga, Sarah tersadar dari lamunannya.
"Kamu kenapa? Kamu tadi habis ketemu sama siapa, sih?" Tanya Adi lembut.
Lagi. Sarah meneteskan air matanya.
"D-dia putriku."
Deg.
Jantung Adi berdetak dengan cepat. Entah apa masalahnya. Putriku? Siapa putri yang di maksud oleh Sarah? Pikirnya.
"Sar, mungkin kamu lelah, jadinya kamu berhalusinasi seperti ini." Sanggah Adi mencoba menenangkan.
Sejujurnya, dalam hatinya juga merasa seperti ada yang mengganjal, setelah mendengar pernyataan Sarah, istrinya.
Sarah menggeleng tegas, "dia putriku, aku tadi bertemu dengannya! Tapi sepertinya, dia sangat membenciku. Aku bisa melihat dari sorot matanya." Ujarnya lirih di akhir kalimat.