Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
--
Bughh...
Bughh...
Beberapa pukulan mendarat mulus di wajah tampan milik Raga. Bibirnya sedikit mengeluarkan darah segar. Ia tak berusaha membalas pukulan yang di berikan Gibran untuknya.
Radit dan Kenzi kelabakan sendiri. Gibran tak ada henti-hentinya memukuli Raga dengan brutal. Ia berusaha menjauhkan Gibran dari Raga, namun hasilnya nihil. Gibran sama sekali tak menghiraukan keduanya. Ia tetap memukuli Raga.
"Gib udah! Lo bisa bunuh Raga kalau kek gini ceritanya!" Sentak Kenzi sembari menarik paksa Gibran.
Ia mendorong Gibran keras, sampai tubuhnya terhuyung ke belakang. "Ngga kayak gini kalau mau selesain masalah. Kalau di antara kalaian pake cara emosi, ngga akan pernah ada habisnya masalah kalian. Yang ada malah semakin besar."
Gibran berusaha meredam emosinya. Ia menatap Raga dengan tatapan menusuk.
"Brengsek Lo!" Gibran memekik kencang.
Raga diam, Ia hanya melirik Gibran. Tak melawan dan tak melakukan apapun. Ia pasrah dengan apa yang dilakukan Gibran padanya.
"Kenapa Lo diem? Kalau ada orang tanya itu jawab, asu!" Sentaknya lagi, tetapi Raga sama sekali tak membuka suaranya.
Gibran yang geram, mencengkeram kerah baju Raga. "Kalau Lo ngga suka sama Dara, setidaknya Lo ngga usah sakiti dia, anjing! Dia ngga sekuat yang Lo kira." Gibran menghempas kuat tubuh Raga.
Gibran mengacak rambutnya frustasi. Ia kelepasan, dan emosi. Bahkan Ia sudah membuat Raga, sepupunya babak belur, dan tergeletak tak berdaya di tanah.
Gibran berjongkok, mensejajarkan diri dengan Raga. "Kenapa Lo lakuin itu ke Dara? Apa dia punya salah sama Lo? Apa pernah dia berbuat hal-hal yang menurut Lo itu udah kelewat batas?" Tanya Gibran beruntun, tetapi nada bicaranya menjadi lebih rendah dari sebelumnya.
Raga menggeleng lemah. "Sorry." Satu kata yang mampu di ucapkan oleh Raga. Saat ini, Raga berada di titik paling berat dalam hidupnya.
"Lo ngga bisa jawab, kan? Kenapa? Lo nyesel? Merasa bersalah, hah?" Tetap tidak mendapat sahutan dari Raga.
"Lo sakiti hati setulus Dara, Lo hancurin perasaannya, Lo rusak mentalnya! Kalau misalnya gue ngga balik ke Indonesia, dan ini semua ngga terbongkar, apa Lo akan nyesel? Apa Lo akan berada di titik ini, hah?" Sambungnya berdecak kesal.
"Apa pernah gue sebagai Abang Lo, ngajarin Lo buat ngerusak mental cewek? Pernah ngga?" Raga hanya menjawab dengan gelengan kepala.
Perlahan tapi pasti, Raga mendongak menatap manik mata tajam milik Gibran, dengan tatapan sayu. Tatapan yang sama sekali tak pernah di perlihatkan kepada siapapun.
"Lakuin apapun yang bisa membuat Lo puas! Lo mau bunuh gue, silakan! Lo mau hajar gue sampai babak belur kek gini lagi, silakan! Itu semua ngga sebanding dengan apa yang pernah gue lakuin ke Dara. Lo bener Ken, penyesalan pasti akan hadir. Dan kini, gue sedang berada di titik itu." Gibran dan yang lain tersentak mendengar penuturan Raga.
"Dan gue juga mengaku kalah, kalah akan perasaan gue ke Dara. Dengan seiring berjalannya waktu, perlahan perasaan itu muncul dengan sendirinya." Lagi-lagi penuturannya membuat siapapun yang berada disana terkejut.
"Kenapa Lo diem Gib? Ayo pukul gue! PUKUL GUE BANGSAT!" sentaknya keras.
Gibran tergugu. Ini pertama kalinya Ia melihat Raga dalam keadaan se-mengenaskan ini. Wajah yang di penuhi lebam, dengan baju yang di penuhi oleh bercak darah karena ulahnya, dan tatapan mata yang penuh penyesalan.
"KENAPA KALIAN SEMUA DIEM? AYO KEN, PUKUL GUE! LO JUGA SERING PUKULIN GUE KARENA DARA 'KAN, DIT? AYO PUKUL SEKARANG!" ujar Raga sembari memukul kepalanya sendiri dengan keras.
"LO APA-APAAN ANJING?" sentak Gibran sembari memegangi dengan paksa tangan Raga, yang Ia gunakan untuk memukuli kepalanya.
"Pukul gue, ayo pukul gue! Kalau bisa bunuh gue Gib! Dara udah benci sama gue, gue ngga pantes buat Dara. Gue terlalu brengsek buat Dara." Air matanya meluruh tanpa seizinnya.
Ini pertama kalinya Ia menangis hanya karena seorang gadis. Dia adalah Dara. Dara yang membuatnya seperti orang gila. Kehadiran Dara dalam hidupnya, adalah anugerah terindah yang tuhan berikan padanya. Ia bisa menjadi lebih baik.
Tetapi, saat Dara mengatakan bahwa Ia sudah menyerah akan dirinya, ada getaran aneh dalam dirinya.
Yang kalian lihat, Raga terlihat seperti orang yang tidak memiliki beban hidup dan tenang-tenang saja, saat Dara tak lagi mengganggunya. Tetapi itu semua salah! setiap malam, Raga seperti orang tak waras. Uring-uringan tak jelas, dan sering mengurung diri di kamar.
Sejak saat itu, Ia memang sudah merasakannya. Tetapi gengsinya terlalu besar.
"Gue benci sama diri gue sendiri. Gue brengsek, bodoh, tolol, gue-" Gibran memeluk tubuh Raga erat.
"Cukup! Lo emang brengsek, Lo bodoh, tapi gimanapun juga, Lo tetap adik laki-laki gue yang selalu gue bangga-banggakan." Ujar Gibran lirih.
Ia masih memang masih emosi, namun Ia berusaha meredam itu semua. Ia tak tega melihat kondisi Raga yang terlihat begitu kacau dan-- rapuh.
Air mata Raga mengalir deras. Ia memejamkan matanya menikmati rasa sesak di dada yang kian menjadi-jadi.
"Bantu gue, bantu gue buat minta maaf ke Dara. Gue mohon!" Ucapnya lirih dengan suara paraunya.
Saat ini dunia bisa melihat. Seorang Raga yang di kenal dengan wajah sangar nan dingin, lalu tatapan mata tajamnya, kini berubah 180 derajat.
Wajahnya kini terlihat sangat tak terawat, kantung mata yang sangat kentara dan tatapan mata sendu.
Tuhan, ini sakit sekali. Aku percaya, bahwa karma is real!
--
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Kurang dapet ya feel-nya? Kemarin ga up, karena gpnya kuota. Hari ini, niatnya mau double up, tapi ga jadi, maaf.