Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
--
Ting!
Bunyi ponsel Gibran yang menandakan ada pesan masuk, memecahkan keheningan diantara mereka.
Aldarazalea: Hai Gib
Aldarazalea: Nnti plng sklh km ad wktu g?
Gibrandnt: Ada.
Gibrandnt: Emng knp?
Aldarazalea: Aku mau mnta tlng sm km, nnti tlng anterin aku k gramedia bs?
Gibrandnt: Oh blh
Gibrandnt: Mau beli ap?
Aldarazalea: Mau beli novel
Gibrandnt: Ok!
Read.
"Siapa?" Gibran mendongak menatap Raga.
Ia tak mungkin memberi tahu sepupunya itu, bahwa yang meng-chat dirinya adalah Dara.
"Temen." Ujarnya yang tentu saja berbohong.
Raga mengangguk mengerti.
--
Bel pulang baru saja berbunyi. Dara berjalan santai menyusuri koridor yang mulai sepi oleh kerumunan siswa SMANDA yang berbondong-bondong untuk pulang.
Nana dan Ara sudah pulang terlebih dahulu. Karena Nana yang akan ada acara keluarga, dan Ara yang di suruh langsung pulang oleh orang tuanya.
Dara dapat melihat Gibran yang berdiri di samping mobilnya. Ia celingukan, mencari keberadaan seseorang. Ia bernapas lega, kala ia tak mendapati orang yang sedang di carinya.
Ia melangkahkan kakinya riang dan tersenyum ke arah Gibran. Tak berbeda dengannya, Gibran juga tersenyum ke arahnya.
Saat sudah berada tepat di depan Gibran, senyum yang sedari tadi terpatri di wajah cantiknya, tiba-tiba saja memudar. Kala melihat Raga dari arah berlawanan dengannya, sedang berjalan ke arah mereka.
"Hai," sapa Raga tersenyum tipis ke arah Dara.
Dara menatap Raga tanpa minat.
"Mau pulang bareng?" Tanya Raga tiba-tiba.
Gibran melotot. Kalau Raga berniat pulang bersama dengan Dara, berdua. Lalu, bagaimana nasib dirinya.