Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
--
Sudah 2 hari Dara tak menampakkan batang hidungnya di sekolah. Memang, Dirga sangat amat sangat protektif terhadap dirinya. Sampai-sampai, Ia tak di perbolehkan masuk sekolah.
Kini Dara sudah berada tepat di depan gerbang SMANDA. Dara di antarkan oleh Dirga, kakaknya. Banyak yang melihat interaksi antara keduanya. Termasuk Raga dkk.
"Siapa tuh? Keknya deket banget sama Dara?" Celetuk Radit sembari melirik Raga.
Raga menggeram, Ia tau, sahabatnya kini sedang meledek dirinya. Dengan langkah cepat, Raga beranjak pergi dari tempatnya berdiri, dan berlalu meninggalkan Kenzi dan juga Radit.
Disisi lain, Dara mendengus. Abangnya ini sangat cerewet.
"Ingat ya, Dar! Kamu kalau ke kantin, pilih makanan yang sehat. Jangan ngelakuin hal-hal diluar nalar pokoknya, ya."
"Di luar nalar gimana sih bang, maksudnya? Emang Dara dukun, pake acara ngelakuin hal-hal di luar nalar, segala, hah?" Ia memajukan bibirnya sebal.
"Ya pokoknya jangan ngelakuin hal yang aneh-aneh!"
"Iya."
Setelahnya, Dara berjalan memasuki area sekolah. Ia selalu tersenyum manis, Ia juga menyapa balik orang yang menyapanya.
2 hari hanya di dalam kamar saja, membuatnya bosan. Kini Ia kembali ke sekolah, dan akan melanjutkan perjuangannya demi mendapatkan hati seorang Raga. Si Dara batu banget sumpah!
Kali ini, Ia tak langsung menuju ke kelasnya. Ia terlebih dahulu menuju ke kelas Raga.
Beberapa waktu sebelumnya, Dara meminta Dirga membelikan oleh-oleh untuk sang pujaan hati. Dirga memang sudah mengetahui tentang Dara yang selalu mengejar Raga, sang most wanted SMANDA. Tetapi ya begitulah, tidak membuahkan hasil sama sekali.
Dirga sudah berulangkali melarang dan menasihati Dara, untuk tidak mengejar Raga. Ia juga sudah tau, bagaimana perlakuan Raga pada Dara selama ini. Dirga tau dari siapa? Siapa lagi kalau bukan sahabat laknatnya si Dara.
"Pagi Raga!" Setelah mendapat izin dari penghuni kelas, kini Dara sudah berada tepat di depan Raga, yang sedang menelungkup kan kepalanya.
Radit yang mendengar suara Dara pun, menoleh.
"Hai Ken, Dit, apa kabar?"
"Baik. Lo udah sembuh?" Kini Kenzi yang berbicara.
Dara mengangguk mengiyakan. Ia tak sadar, bahwa sedari tadi Raga memperhatikan gerak-geriknya.
"Lo, bawa apa?" Tanya Radit.
"Oh ini, oleh-oleh buat Raga. Kemarin kakak gue baru datang dari Amerika." Ujarnya sembari menoleh dan tersenyum ke arah Raga.