Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
--
Baru saja Sandy mengabari Dirga, bahwa Dara pingsan. Lagi. Dirga yang khawatir, lantas bergegas pergi ke sekolah Dara.
Dalam perjalanan, Ia terus saja mengumpat. Ia tau, Dara seperti ini karena Raga. Tadi, Sandy juga berkata, sebelum Dara pingsan, Ia sedang berdebat dengan seseorang, dan Sandy yakin orang itu adalah Raga.
Setelah mendengar penuturan Sandy, emosi Dirga memuncak. Tetapi tak sebanding dengan rasa khawatirnya terhadap Dara.
Saat sampai di sekolah Dara, dengan langkah panjang, Dirga melangkah ke arah ruang UKS.
Setelah pintu UKS terbuka, tampaklah Sandy sedang duduk di meja kerjanya. Di sebelah Sandy, disana terdapat brankar yang ditempati Dara berbaring.
Dirga menoleh sekilas ke arah Sandy. Kemudian Ia bergegas melangkah ke arah Dara.
Hatinya mencelos, melihat wajah pucat Dara. Bibir yang biasanya tersenyum manis dan tertawa terbahak-bahak itu, kini menjadi pucat pasi. Seperti tak ada kehidupan disana.
Perlahan tapi pasti, tangan Dirga terulur untuk mengelus puncak kepala sang adik. Mengecup kening Dara lama.
Tak sadar, cairan bening lolos tanpa seizinnya. Dirga tak kuat melihat kondisi Dara seperti ini. Ia ingin sekali dunia juga merasakan apa yang dirasakan oleh Dara, rasa sakit.
Ia juga ingin memberitahu pada dunia, bahwa adiknya kini, sedang tidak baik-baik saja. Namun, lagi dan lagi, Ia kalah dengan Dara. Ia tak bisa menolak apa yang Dara inginkan. Dara tak ingin dunia tau, bahwa dia merasakan sakit teramat dalam.
"Gue mau bawa Dara pulang gapapa, kan, Na?" Tanya Dirga terhadap Nana yang setia menemani Dara, sejak Ia pingsan tadi.
Nana mengangguk dan tersenyum, "gapapa bang. Nanti biar gue yang izinin ke guru."
Setelah memperoleh persetujuan dari Sandy dan Nana, Dirga kemudian membopong tubuh Dara untuk masuk ke dalam mobil, dan mengajaknya pulang.
Dara belum sadar. Maka dari itu, dengan segera, Dirga membawa Dara pulang. Jika saja Dara sudah sadar, mungkin Ia tak mau di bawa pulang. Ia akan kekeh ingin tetap bersekolah. Meskipun dengan kondisi yang tidak memungkinkan.
--
Jam sudah menunjukkan waktu pulang sekolah. Setelah menelpon Nana, Dirga bergegas untuk pergi ke sekolah Dara. Untuk apa? Untuk bertemu dengan Raga.
Saat sudah dekat dengan gerbang sekolah Dara, Ia melihat tiga orang mengendarai motor sportnya akan keluar gerbang, yang Ia yakini itu adalah Raga beserta teman-temannya.
Dengan kecepatan penuh, Dirga berhasil memberhentikan laju motor Raga dan teman-temannya.
Setelah berhasil, Dirga keluar dari mobil. Raga dkk masih bingung, siapa orang yang menghadang jalannya laju motor mereka.