Tinggal

222 32 2
                                        

Malam semakin larut, Hyunjin berbaring di kasur lantai yang Chris gelar tepat di sebelah tempat tidurnya. Pikiran Hyunjin melayang ke mana-mana, tentang hidupnya yang dalam sekejap berubah 180°.

"Chris... Kenapa lo mau-maunya bawa orang asing kaya gue ke rumah lo?"

"Karena feeling gue bilang itu hal yang harus gue lakuin."

"Makasih."

"Ngga perlu bilang makasih, cukup jalanin hidup lo yang masih panjang dengan bener."

"Hidup lo pasti lancar-lancar aja ya? Makanya pribadi lo sepositif ini."

"Ga juga, tiap orang pasti punya masalah, tapi gue percaya kalau Tuhan ga akan pernah kasih masalah yang gue ga sanggup untuk nanggungnya."

"Kenapa lo ga nanya alasan gue mau lompat?"

"Ya...gue ngga mau aja maksa lo buat cerita."

Dalam hati Hyunjin berterima kasih pada Tuhan, masih mempertemukannya dengan orang baik dan pengertian seperti Chan.

Knock knock

"Chris, kamu belum tidur ya? Ini udah jam berapa kok masih ngobrol."

Suara lembut ibu Chris terdengar dari luar.

"Ya, Bu. Ini juga mau tidur," balas Chris, kemudian lanjut berbisik pada Hyunjin. "Sorry. Nyokap gue emang agak cerewet soal jam tidur. Ngobrol gininya kita lanjutin besok aja, kalau kita ketauan belom tidur juga nanti nyokap gue berubah jadi godzilla."

Hyunjin tidak percaya rupanya masih bisa tidur dengan kasur yang empuk dan selimut hangat setelah kehilangan rumah, tapi Tuhan punya rencana.

#

Chris terbangun sekitar pukul 7 karena alarm yang dia pasang semalam, padahal biasanya dia baru bangun dua atau tiga jam lagi.

Karena ada orang lain, Chris merasa dia harus bangun sebelum tamunya.

Eh, ternyata tamunya malah bangun bahkan lebih pagi.

"Lah? Udah hilang aja, kemana tu anak?" gumam Chris waktu sadar kasur Hyunjin sudah dilipat rapi dan orangnya entah dimana.

Chris memutuskan mencari Hyunjin di bawah, sempat berpikir anak itu pergi diam-diam tengah malam, tapi suara obrolan dari dapur menepis pikiran itu.

"Makasih loh, Hyunjin. Chris sama Hannah mana pernah bantuin Ibu masak gini, malah ngancurin dapur."

Chris berdeham, memasang wajah (pura-pura) kesal.

"Hmm...ga Ibu ga Ayah seneng banget jelek-jelekin anak sendiri."

"Ih, tumben kamu jam segini udah bangun? Takut dituker beneran sama Hyunjin ya?"

"Jahat banget Ibu mah."

Ibu Chris tertawa, lalu mencubiti pipi anak sulungnya.

"Ututu, anak ibu paling ganteng ngambek. Udah cuci muka? Itu iler masih nempel."

Chris mengusap sudut bibirnya, untungnya tidak ada apa-apa, ibunya hanya jahil. Tapi Chris tetap melipir ke kamar mandi karena dia memang belum cuci muka apalagi gosok gigi.

"Hyunjin udah biasa masak ya? Pinter banget megang wajan sama motong-motongnya."

"Suka aja sih, Tan."

"Hyunjin tinggal di sini aja deh, enak Ibu jadi ada yang bantuin masak."

Mendengar obrolan ibunya dan Hyunjin, Chris menyahut dari kamar mandi. "Nah, itu udah ditawarin langsung sama nyokap. Lo tinggal di sini aja gimana?"

Hyunjin tidak langsung memberi jawaban.

"Kamu aslinya tinggal dimana? Sama siapa?"

Lalu wajah Hyunjin mendadak tampak sendu, itu tidak lolos dari tatapan ibu Chris.

"Hyunjin...baru diusir sih dari tempat tinggal yang lama."

Hyunjin tidak bilang kalau itu adalah rumahnya sendiri.

Ibu Chris pikir mungkin Hyunjin tinggal di tempat kos, umum untuk anak seumur Hyunjin.

"Ya ampun, kok bisa. Tuh kan, berarti Hyunjin emang harus tinggal di sini. Paling ngga sampai kamu dapet tempat baru. Mau ya?"

"Emang ngga apa-apa, Tan?"

"Loh ya ngga apa-apa, kan Ibu sendiri yang nawarin."

"Udah, ngga usah nolak. Gue sama keluarga gue seneng kok lo ada di sini," sahut Chris yang baru keluar dari kamar mandi.

Hyunjin hanya bisa mengucap banyak terima kasih.

'Gue sama keluarga gue seneng kok lo ada di sini'

Chris mungkin hanya bilang begitu supaya Hyunjin tidak sungkan, tapi bagi Hyunjin ucapannya adalah obat untuk hatinya yang sedang terluka.

Ternyata di dunia ini masih ada orang yang menginginkan keberadaan Hyunjin.

TBC

Broken Beyond Repair - Hyunjin CentricCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang