Prank

211 27 9
                                        

Hari ini Hyunjin datang ke restoran terlambat karena Bloom tiba-tiba menelepon memintanya datang ke kantor saat itu juga untuk foto profil.

Dia sudah izin pada Jisung dan Jisung dengan senang hati mengizinkan.

Makanya Hyunjin bingung sekali ketika tiba-tiba dia dimarahi saat sampai di restoran.

Itu aneh. Lebih aneh lagi sebab restoran tampak sepi karena belum buka, pun pagi-pagi begitu Felix dan Changbin sudah ada di restoran. Kebetulan?

"Lo masih niat ngga sih kerja di sini? Kalo ngga keluar aja deh!" omel Jisung.

"Kamu jangan kaya gini dong, Hyun. Kan aku jadi ngga enak sama Jisung soalnya aku yang ajakin kamu gabung di agensi aku. Kirain kamunya bisa professional bagi waktu, tapi kok malah begini?" ujar Felix menambahkan, kelihatannya sangat kecewa.

"Sorry, Hyun. Gue ga bisa belain lo, kalo gue jadi Jisung juga gue pasti kesel," tambah Changbin.

Hyunjin tiba-tiba merasa sangat familiar dengan suasana ini.

Berada di tengah banyak orang namun merasa sendiri, terpojokan.

Hyunjin membuka mulut, ingin sekali meminta maaf namun bibirnya kelu.

Dadanya tiba-tiba sesak nyaris tidak bisa bernapas, jantungnya terus berdebar kian cepat seperti bom hendak meledak.

Tidak ada yang tahu.

Sebab yang terlihat Hyunjin hanya terus menunduk dan mengepalkan tangan erat.

"Ngomong, Hyun. Jangan diem aja. Lo masih mau kerja di..."

Lama-lama suara di sekitarnya mulai sulit didengar. Suara di kepalanya semakin kencang.

Bisikan-bisikan jahat yang terus memojokkan Hyunjin seolah dia adalah manusia paling kotor di dunia ini.

"Ini ada apaan sih?"

Chris datang bersama Minho.

Sebenarnya keduanya diminta datang sejak satu jam lalu namun terlambat karena ban mobil Chris kempes.

Lalu begitu masuk, pemandangan yang tampak di dalam adalah Hyunjin dan semua temannya berdiri saling menghadap dalam suasana tegang.

Jelas Chris bingung.

Insting pertama Chris adalah mendekati Hyunjin sebab anak itulah yang tampak sedang dihakimi.

"Hyun, lo gapapa?" tanya Chris seraya memegang tangan Hyunjin.

Hal yang membuat Chris kaget adalah betapa dinginnya tangan Hyunjin saat itu.

"Hyun, ini tangan lo dingin banget," selagi bicara Chris baru menyadari kalau napas Hyunjin tidak normal, Chris menatap ketiga temannya nyalang.

"Kalian apain Hyunjin sih?!" seru Chris panik.

"Minggir!" Minho tiba-tiba menyuruh Chris menyingkir dan mengambil tempat tepat di depan Hyunjin, memegang wajah Hyunjin memastikan anak itu balik menatapnya.

"Shit--Hyun! Napas!"

Minho bisa tebak kalau Hyunjin ini terkena serangan panik, tapi Minho belum pernah bantu kasus begini.

Dia juga jadi bingung, tapi dia paham kalau dia ngga boleh ikutan panik.

"O-Oke. Hyun, lihat gue. Fokus sama suara gue. Lo bisa denger suara gue kan? Kalo gak bisa, lo ikutin aja deh mulut gue! Coba atur napas lo dulu, ikutin gue."

Minho menarik napasnya dalam-dalam lewat mulut lalu membuangnya juga dari mulut. Dia memastikan Hyunjin memperhatikannya.

Kemudian Hyunjin mulai mengikutinya dan pelan-pelan napas Hyunjin kembali normal.

Tapi Hyunjin kelihatan lemas dan bisa jatuh kapan saja jadi Minho buru-buru menuntunnya duduk di kursi paling dekat.

"It's okay. Semuanya aman. Lo baik-baik aja," ujar Minho pelan dan jelas.

Itu tadi pengalaman yang menyeramkan dan sangat menyiksa baik bagi Hyunjin maupun semua yang melihat.

Untungnya Minho secara ajaib mampu mengatasi kondisi tadi meski amatir.

"Sorry banget. Kita cuma mau prank Hyunjin karena dia baru keterima di agensi Felix," jawab Jisung penuh perasaan bersalah.

"Kita ngga tau kalau bakal begini," tambah Changbin.

Sementara Felix hanya bisa diam dengan wajah bersalah.

"Lain kali kalau mau bercanda jangan keterlaluan," tegur Chris.

"Udah, kalian kalo mau berantem cari tempat lain. Kasian Hyunjin," tegur Minho melerai.

"Lo semua ikut gue. Minho, gue titip Hyunjin bentar," ujar Chris lalu melipir pergi ke area belakang restoran.

Minho menatap ke empat temannya cuek, lagipula dia yakin Chris tidak akan bertindak kelewatan. Dia lebih baik fokus mengurus Hyunjin.

"Ngga usah pikirin mereka, Chris ngga akan apa-apain mereka kok. Paling diomelin dikit aja," ujar Minho tenang. 

Sementara itu di belakang, Felix, Jisung dan Changbin saling menatap dalam diam. Sejujurnya Chris itu sangat menyeramkan ketika marah.

"Chris, maafin kita." Changbin dengan berani memulai.

"Minta maafnya cukup ke Hyunjin aja. Ngga usah ke gue. Gue juga salah sih, gue ngga pernah cerita ke kalian kan tentang gimana gue bisa ketemu Hyunjin?"

Tiga orang menatap Chris kebingungan, tidak paham di mana korelasi kejadian hari ini dengan bagaimana pertemuan Chris dan Hyunjin pertama kali.

"Gue ga sengaja ketemu dia di jembatan, nyaris lompat."

Seketika raut bingung itu berubah jadi terkejut.

"Hyunjin...mau bunuh diri?" Felix tidak percaya dengan pendengarannya.

"Gue ga tau apa alasannya, bagi gue itu bukan hak gue untuk nanya kecuali Hyunjin sendiri yang mau cerita. But, apapun itu kalau udah sampai taraf mendorong orang untuk bunuh diri pasti bukan sesuatu yang mudah dilewati," jelas Chris.

"Padahal Hyunjin kelihatannya baik-baik aja," sahut Jisung, masih sulit percaya.

"Kita ga pernah tau apa isi hati orang," balas Changbin. Dari raut wajahnya tampak jelas kalau dia semakin merasa bersalah pada Hyunjin.

"Hyunjin lebih rapuh dari keliatannya, jadi gue mau lo semua lebih hati-hati. Dan tolong jangan bilang ke Hyunjin kalau gue cerita soal ini, jangan tanya apapun juga ke dia," lanjut Chris.

Ketiganya mengangguk mengiyakan.

Setelah hari itu, mereka disadarkan bahwa hanya karena seseorang tampak tersenyum belum tentu orang itu baik-baik saja.

Broken Beyond Repair - Hyunjin CentricCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang