Papa

212 22 2
                                        

"Gimana hari pertama balik kerja?" tanya ibu Chris.

Semua sedang berkumpul menikmati makan malam.

Hyunjin tersenyum. "Seneng. Soalnya kerjanya bareng sama Felix."

"Kalau ada yang jahatin kamu di tempat kerja, bilang sama Om! Biar Om kasih pelajaran," sahut ayah Chris semangat.

Chris tersenyum mengejek. "Pelajaran apaan, Yah? Math? Science?"

"Art! Mau Ayah ajarin gambar gunung nanti."

Hannah memutar mata malas. "Garing sumpah, Yah."

Hyunjin tertawa kecil, ibu Chris hanya menggelengkan kepala.

Lalu ponsel Hyunjin bergetar di saku.

"Hyunjin mau angkat telepon dulu," ujar Hyunjin pamit pergi.

Hyunjin mengangkat telepon seraya berjalan ke ruang tengah. "Halo."

Dari nomor yang tersimpan dia tahu Jeongin yang menelepon.

"Hai, Kak. Ngga ganggu, kan?"

"Ngga kok. Kenapa?"

"Bukan apa-apa sih, mau pamit aja. Lusa gue harus balik ke Aussie. Liburan gue udah hampir selesai soalnya."

"Lo mau balik ke Aussie? Jam berapa pesawatnya?"

"Jam 1 siang. Kalau lo sempet, bisa ngga kita ketemuan besok pagi?"

"Boleh banget lah, besok jam berapa?"

Dan begitulah bagaimana Hyunjin ada di bandara internasional Incheon esok hari sekitar pukul 10, duduk di café sembari menunggu Jeongin. Sekitar 15 menit kemudian, Jeongin pun muncul.

Keduanya mengobrol santai sebelum Jeongin membahas hal inti.

"Sebenernya, salah satu alasan gue balik buru-buru itu biar orang-orang ga tanya terus soal keberadaan lo ke gue. Mereka kayanya bisa nebak kalau gue masih komunikasi sama lo, ya dipikir-pikir ga mungkin gue ngga nyariin lo kalau kita lost contact."

Hyunjin langsung paham siapa Jeongin maksud waktu dia bilang mereka.

"Mama sama Papa tanya-tanya ke lo?"

"Lo tenang aja, Kak. Gue ngga bilang apa-apa kok. Bukan hak gue kan."

Hyunjin tersenyum. "Makasih."

"Ya paling habis ini pasti Kak Seungmin jadi sasaran, gue yakin Kak Seungmin juga ga akan bocorin soal lo, Kak. Kita berdua menghargai keputusan lo."

"Eum."

"Kapan-kapan gue main ke sini lagi, lo jaga diri baik-baik ya, Kak. Jangan lupa kabarin gue sering-sering."

Hyunjin mengangguk, sedikit emosional karena dia harus berpisah dengan salah satu keluarga yang masih menerimanya.

"Lo belajar yang bener, semoga bisa lulus tepat waktu."

"Gue seneng banyak yang jagain lo di tempat baru, tapi kalau lo mau lo boleh kok sekali-sekali main ke rumah gue, orang tua gue bakal seneng nerima lo. Pokoknya lo ga boleh sedih-sedih lagi ya."

Air mata Hyunjin jatuh juga akhirnya.

"Dih. Jangan nangis dong! Ikutan sedih nih jadinya. Gue bakal cepet lulus deh, biar cepet balik ke sini nemenin lo. Lo tungguin gue ya, Kak!"

Hyunjin mengangguk, dengan hidung merah dan pipi basah.

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Broken Beyond Repair - Hyunjin CentricCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang