"Pagi, Tan."
Hyunjin bangun pagi seperti biasa, langsung pergi ke dapur membantu nyonya Bang.
"Pagi Hyunjin."
Tanpa perlu tanya lagi, Hyunjin mengambil alih sayur mayur.
"Ini mau dipotong gimana Tan?" tanya Hyunjin menunjuk wortel.
"Potong besar-besar aja, mau Ibu sop."
Hyunjin mengangguk, lalu mulai memotong.
Suara berisik dari tangga disusul seruan Hannah terdengar. "Ibuuu, buku Bahasa Inggris aku mana ya? Kemarin perasaan aku taro di meja ruang tengah tapi ngga ada," rengek Hannah dari ruang tengah.
"Itu Kakak yang pindahin, takut kotor soalnya. Coba cek di meja belajar kamu," sahut Hyunjin dari dapur.
Ibu pun marah-marah. "Makanya kalo naro buku jangan sembarangan, udah berkali-kali juga Ibu bilangin."
"Makasih Kak Hyunjin!" Hannah mengabaikan omelan ibunya dan kembali ke kamar karena dia belum selesai pakai seragam.
Ibu hanya bisa geleng kepala.
"Hyunjin, kerjamu gimana?" tanya Ibu pada Hyunjin agar dapur tidak sepi.
"Lancar-lanjar aja sih. Rekan kerja aku baik-baik soalnya."
"Syukur deh kalau gitu. Jangan capek-capek, badanmu itu loh udah kurus nanti makin kurus."
"Ngga kok, aku seneng kerja di sana. Nanti gaji pertama aku, Tante sama Om mau dibeliin apa?"
"Heee, ngga usah ih. Uangnya dipake buat keperluan kamu aja."
"Kalau Om mau cukuran baru, yang electric," sahut tuan Bang yang baru muncul lalu langsung sibuk buat kopi sendiri.
"Dih, Ayah."
"Ibu, kebanggaan seorang anak itu salah satunya bisa beliin sesuatu untuk orang tuanya dari hasil jerih payahnya sendiri."
Hyunjin tersenyum. "Bener kata Om, seneng banget kalau bisa beliin sesuatu buat Om sama Tante. Seengganya aku bisa kasih sebagai rasa terima kasih karena Om sama Tante udah mau nerima aku di rumah ini."
"Kalau gitu, Ibu pasti seneng apapun yang kamu kasih. Jangan beli yang mahal-mahal tapinya!"
"Siap, Bos!"
Makanan siap diiringi obrolan hangat dan ringan. Hyunjin sampai tidak berhenti tersenyum. Dia bisa merasa kalau dia sudah dianggap anak ketiga di keluarga itu.
Begitu makanan siap, ibu menyuruh Chris dan Hannah turun.
Chris sudah tidak kaget lagi kalau Hyunjin tidak ada di kamar, pasti sedang memasak di dapur dengan ibunya.
"Enak nih sopnya," ujar Chris mencicip sop ayam pagi itu.
"Hyunjin yang buat," sahut Ibu.
"Kak Hyunjin kapan-kapan ajarin aku masak ya?" ujar Hannah.
Chris refleks mencibir. "Gaya-gayaan. Biasanya juga ga pernah mau belajar masak."
Hannah melotot. "Emang kenapa sih? Sirik aja."
Dua orang itu selalu membuat meja makan ramai, suasana jadi lebih hangat dipenuhi canda tawa.
Suara dering ponsel baru Hyunjin menginterupsi kehangatan pagi itu.
"Sebentar." Hyunjin pamit mengangkat telepon di ruangan tengah supaya tidak menganggu yang lain makan.
Hyunjin menatap nama di layar ponselnya, Im Soo Jung, itu nama orang kantor Felix yang bilang akan mengabarinya jika dia diterima kerja di agensi Felix.
Tiba-tiba Hyunjin jadi gugup.
"Halo."
"Selamat pagi. Dengan saudara Hwang Hyun Jin?"
"Ya, saya sendiri."
"Saya Im Soo Jung, minggu lalu kita ketemu karena Hyunjin-ssi melamar untuk posisi model di Bloom. Saya punya kabar baik nih, Hyunjin-ssi diterima. Mungkin hari ini jam 4 sore bisa datang ke kantor untuk tanda tangan kontrak dan atur jadwal?"
"Itu..t-terima kasih. Saya pasti dateng."
"Oke, saya tunggu di kantor ya. Selamat pagi dan selamat beraktivitas kembali."
Sambungan terputus. Hyunjin masih diterdiam di tempatnya.
Dia kembali ke dapur dengan wajah blank sampai ibu Chris bertanya.
"Kenapa, Hyun?"
"Hyunjin....diterima jadi model."
"Wah, puji syukur. Berarti sebentar lagi Ibu punya anak model nih?"
"Oh! Oh! Pokoknya aku mau ngoleksi tanda tangan Kak Hyunjin, nanti bisa kujualin ke fans!" ujar Hannah penuh semangat dan begitu yakin Hyunjin akan jadi model terkenal.
Ayah Chris tiba-tiba mengeluarkan ponselnya dan merangkul Hyunjin.
"Foto dulu, Hyun. Om pengen juga pamer punya anak model."
Semua tertawa melihat kelakuan sang kepala keluarga, apalagi pose fotonya kuno sekali--tapi lucu.
"Selamat ya, Hyun. Gue tau kok lo pasti diterima," ujar Chris.
Hyunjin tersenyum. "Makasih, Chris."
Hari itu juga begitu sampai restoran untuk bekerja Hyunjin melapor pada Jisung kalau dia diterima sebagai model di agensi Felix.
Biar bagaimanapun Hyunjin juga bekerja pada Jisung jadi dia perlu mengatur supaya jadwal kerja di dua tempat tidak bertabrakan.
"Santai aja, Hyun. Lo tinggal bilang aja sama gue gimana jadwal lo di sana, nanti di sini tinggal nyesuain."
"Makasih banyak ya, Jisung."
"Cie cieeee yang otw jadi model. Kalo terkenal jangan lupa sama gue."
Hyunjin hanya bisa tertawa malu-malu karena Jisung terus menggodanya.
Hyunjin baru sadar, sebelumnya dia tidak pernah punya teman sebanyak ini, meskipun sebenarnya mereka teman Chris dan Minho tapi sekarang mereka teman Hyunjin juga kan.
Rencana Tuhan benar-benar tidak bisa ditebak kan?
KAMU SEDANG MEMBACA
Broken Beyond Repair - Hyunjin Centric
Fan-FictionHyunjin pernah kecewa dan putus asa. Lalu Chris datang bagai pahlawan, menyelamatkan Hyunjin dari dunia abu-abu. Sejak itu, matahari Hyunjin bernama Chris. Lalu bagaimana jadinya jika matahari juga mengkhianati Hyunjin? Hyunjin pernah berdoa, agar...
