Kejanggalan

418 101 406
                                        

•PART INI TIDAK BERMAKSUD MENYESATKAN

******

"Selamat makan semuanya!"
  -Keluarga Bunda Pluto-

******

Siang sudah berganti dengan malam, namun pikiran Winter tetap sama. Apa sebenarnya Iel? Dan bagaimana ia bisa seperti itu?

Sebenarnya, Winter sudah lama curiga pada anak bungsunya itu. Bagaimana tidak? Anak itu selalu berbicara yang tidak sewajarnya.

Seperti

"Kalo Mama kasian sama pengemisnya, kenapa Mama cuma ngasih makanan sama uang? Itu tuh cuma ngebantu mereka sementara. Kenapa Mama gak bunuh mereka aja?"

"Jangan racun tikusnya, yang mati hanya beberapa dan yang gak mati gak akan kapok. Cukup tangkap satu lalu, cabuti semua kukunya dan lepaskan. Praktis 'kan?"

"Harusnya lelaki lumpuh itu mati aja, kasian."

"Mama, andai ya ada yang jualam darah segar, pasti enak dicampur es batu."

Kalimat-kalimat itu terngiang-ngiang di telinga Winter

Ia lalu menyeruput kuah indomie yang candu itu, berharap ia menjadi tenang setelah itu. Namun, alih-alih merasa tenang, pertanyaan baru muncul di benaknya.

"Apa dia pernah melakukan sebuah pembunuhan?"

******

"Dedek, nanti jam sembilan atau jam sepuluh, kamu izin ya, temenin Mama bentar," ucap Winter ketika sedang menyiapkan sarapan untuk ketiga anaknya.

Tak cara lain bagi Winter untuk menjawab tiga pertanyaan itu, selain membawa Iel ke psikiater.

"Okay, Mam. Tapi nanti pulang sekolah aku izin mau kerja kelompok ya," sahut Iel yang dibalas anggukan oleh Winter.

"Oh iya, maaf Mama gak bisa kasih bekal makan siang yang lengkap," keluh Winter karena ia tidak membuat bekal makan siang dengan protein hewani untuk anak-anaknya.

"Gak apa-apa, Mam. Mas suka kok makan tahu isi sama   tempe orek buatan Mama," sahut Izam bermaksud menyenangkan Winter.

"Iya, Mam, Kakak juga kebetulan lagi diet. Jadi, punya Kakak kasih ke Dedek aja ya setengah," bohong Ina.

Sebenarnya ia sedang tidak diet, hanya saja, ketika melihat iel yang cemberut karena bekal hari ini tidak lengkap dan lebih sedikit dari hari biasanya Ina lebih memilih untuk mengalah.

*****

"Widih ... tumben jagoan Mama kita ini bawa bekel gak pake daging," ucap Vino, yang tiba-tiba datang lalu duduk di samping Izam.

Vino adalah teman sekelas Izam. Ralat, musuh sekelas maksudnya.

"Masalah buat lo?!" sinis Izam sambil menatap Vino manar.

"Masalah dong bestie, gue kan jadi gak bisa minta dagingnya. Kan bekalmu bekalku juga," ucap Vino sambil mencolek dagu Izam.

Vino memang seperti itu, suka memalak teman-temannya, termasuk Izam. Tetapi, Izam sebenarnya bukanlah anak yang cupu dan tak berani melawan. Hanya saja, Izam tak mau berurusan dengan orang seperti itu. Jadi, ia lebih memilih untuk memberikan apa yang Vino mau. Anggap saja amal.

Genius | Misteri ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang