Drama Keluarga

409 92 392
                                        

"Sayurnya asin banget, Mama."
-Aurelia-

*****

Sore ini seperti biasa Ina dijemput oleh kakaknya, Izam. Karena memang jarak sekolah mereka dekat. Dari jarak radius 5 meter, Izam bisa melihat raut wajah Ina yang berbeda dari biasanya.

"Tuh bocah ngapa?" batin Izam bertanya-tanya.

Izam menghentikan motor maticnya, lalu memberikan helm kepada Ina. Jika biasanya Ina ngomel-ngomel karena dirinya telat menjemputnya 30 menit---sebab Izam mengantarkan sang kekasih terlebih dahulu---tetapi kali ini adik perempuannya itu tidak mengomeli dirinya.


Ina naik ke atas jok motor tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. "Jalan, Mas," titah Ina sambil menepuk pundak Izam.

"Sesuai aplikasi ya, Kak?" tanya Izam sambil terkekeh, berniat untuk bercanda dan membuat Ina tertawa.

Namun candaannya tersebut tak mendapatkan respons apapun dari Ina. Padahal biasanya dia receh abis.

Sepuluh menit sudah Izam membelah jalanan Jakarta yang macet seperti biasanya. Dan sampai detik ini pun Ina masih diam. Bahkan ketika mereka melewati pedagang sempol, Ina masih diam tak bersuara. Padahal itu adalah jajanan favoritnya.

Izam mengerutkan keningnya, menebak-nebak apa yang membuat adiknya itu diam seperti ini.

"Dia putus cinta kah?" batinnya.

Izam tersenyum simpul, lalu melihat wajah Ina dari kaca spion.

"Wah bener ini mah dia putus cinta." Izam mati-matian menahan tawa.

"Adek, cinta tak selamanya indah Dek. Terkadang cinta juga membuat luka," ucap Izam bernada, sambil menepuk-nepuk kaki Ina.

"Ish! Apaan sih, Mas?" desis Ina sambil menepis tangan Izam.

"Kamu putus 'kan sama si Tatan?" tanya Izam sangat yakin, sambil terkekeh pelan.

"Nggak," jawab Ina singkat.

"Udah deh, gak usah boong. Kamu mau apa? Seblak? Rujak tumbuk? Atau mi setan?" tawar Izam, karena dirinya sangat yakin bahwa adiknya itu sedang putus cinta.

"Nggak, Mas. Aku gak putus," sahut Ina sedikit emosi.

Izam mengerutkan keningnya kembali. "Terus?"

Ina diam tak menjawab.

Bunyi klakson seakan bersahut-sahutan, asap kendaraan menerpa wajah, kendaraan merayap layaknya gerombolan semut. Itulah keadaan yang kini Izam dan Ina rasakan.

"Mas?" panggil Ina.

"Hm," gumam Izam sebagai respons.

Ina mendekatkan wajahnya ke telinga Izam yang tertutup helm. "Kalo Mama nikah lagi, gimana?"

"Ya kita punya Bapak lah," jawab Izam acuh tak acuh.

"Mas ikhlas?" tanya Ina.

"Ikhlas itu bohong. Yang ada hanya terpaksa lalu terbiasa," jawab Izam lagi.

"Jadi?"

Izam menarik napas panjang, lalu membelokan motornya ke jalan alternatif. Jalan ini dikelilingi oleh sawah, langit senja nampak begitu indah dilihat dari jalan ini.

"Mas?" panggil Ina lagi, karena kini malah Izam yang diam membisu.

"Jangan egois Dek," ucap Izam sambil menatap langit sore.

Genius | Misteri ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang