Ancang-ancang

370 96 346
                                        

"Sampai sini, sudah ada yang tahu aku apa?"
-Aurelia-

*****

Tepat pukul enam pagi, Iel sudah berdiri di depan gerbang sekolah. Anak pra remaja itu berdiri menghadap ke jalan raya. Senyum manisnya setia terukir di wajah cantiknya. Entah siapa yang ia tunggu.

"Kakak sekolah dulu ya, Pak." Septi mencium punggung tangan pria paruh baya itu sesaat setelah turun dari motor.

Pria itu hanya mengangguk sambil tersenyum dan berlalu begitu saja.

Septi menoleh ke arah kiri dan kanan, setelah jalanan sedikit sepi barulah anak itu berlari kecil menyeberangi jalan.

Septi disambut oleh senyum manis Iel yang tentunya dibalas lagi olehnya dengan senyuman. Walaupun kalau boleh jujur, Septi tidak suka pada Iel. Jelaslah orang Septi normal.

Menurutnya Iel itu aneh. Bahkan sangat aneh. Beberapa kali Septi tak sengaja memperhatikan Iel, ia melihat anak itu bertingkah tak sewajarnya.

Selain aneh, Iel juga sangat tidak tahu sopan santun. Terlebih lagi saat ia berbicara. Ya ... walaupun terkadang, perkataan Iel itu sesuai fakta.

"Apa tante Winter gak ngajarin Iel sopan santun?" batinnya.

Melupakan hal itu, Septi sangat tahu betul cara beretika. Jadi meskipun ia tidak suka pada Iel, Septi akan tetap menyapanya sekarang.

"Pagi," sapa Septi sambil sedikit menganggukkan kepalanya kepada Iel.

Iel hanya menganggukkan kepalanya sebagai respon.

"Yang tadi itu Bapak kamu, ya?" tanya Iel ketika ia dan Septi sedang menaiki anak tangga menuju kelas.

"Iya," jawab Septi singkat.

"Beliau kerja di mana?" tanya Iel lagi mulai mencari tahu.

"Di salah satu proyek gak jauh dari sini. Beliau bekerja sebagai kuli bangunan," jawab Septi menjelaskan.

Iel mengerutkan keningnya, ia baru tahu kalau Septi adalah anak dari seorang kuli bangunan. Lalu bagaimana bisa ia bersekolah di sekolah ini? Mengingat SPP sekolahnya ini terbilang mahal. Ya ... walaupun tak semahal biaya sekolah Livy Renata.

Septi menyadari apa yang membuat Iel mengerutkan kening.

"Aku masuk ke sini jalur beasiswa," ucap Septi dan berjalan masuk ke dalam kelas, meninggalkan Iel yang lebih memilih menghentikan langkah.

Iel sebenarnya tahu bahwa Septi tidak menyukainya. Dan sebenarnya juga, Iel sudah berencana untuk bersenang-senang dengan Septi. Hanya saja, kemarin-kemarin Iel belum tahu bagaimana caranya. Tetapi sekarang, ia sudah tahu. Bahkan ia sudah sangat tidak sabar menantikan hal itu.

*****

Pagi ini Iel ada kelas mengukir, tetapi bukan mengukir di atas kayu atau batu, melainkan mengukir di atas sabun mandi batangan.

"Eh, Jef lo punya pisau ukir lagi gak? Kalo ada gue pinjem tiga ya," ucap Novan---salah satu teman Jhio kepada Jeffery---teman sekelasnya.

Genius | Misteri ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang