•PART INI TIDAK BERMAKSUD MENGHINA, MENYINGGUNG DAN MENYESATKAN.
"Rasanya itu kaya ngemut yupi bentuk lope."
-Nizam-
*****
Sore itu, ketiga anak Winter sedang duduk di teras rumah, diiringi pembicaraan santai dan ditemani es cekek, serta backsound suara jentikkan cangkang kuaci yang terbuka. Entahlah makanan satu ini memang tidak mengenyangkan, namun membuat kecanduan.
"Dedek bosen jajan es cekek mulu, kangen jajan es krim deh," keluh Iel di sela-sela pembicaraan mereka.
Ina tersenyum lalu mengusap punggung sang adik. "Besok kita beli ya."
"Emang Kakak punya uang?" tanya Iel.
"Ada kok, tadi kebetulan ada yang pulsa sama Kakak, tapi uangnya besok," jawab Ina, tetap fokus kepada kuaci yang sedang ia kupas.
Semenjak Winter berhenti bekerja, Ina memang berjualan pulsa dan makanan ringan buatan Winter, atau terkadang ia membantu tetangganya untuk membersihkan taman, memang upahnya tak seberapa, tapi itu cukup untuk uang jajannya selama beberapa hari.
Tanpa Ina dan Iel sadari, kakak laki-laki mereka sedang tersenyum getir melihat interaksi mereka berdua. Entah mengapa hati Izam terasa seperti disayat-sayat, padahal adik-adiknya itu hanya membicarakan tentang es krim.
Bahkan ini terasa lebih menyakitkan daripada melihat Sasya---kekasihnya sedang duduk berdua dengan Nando---adik kelasnya di warung seblak kemarin.
Aiyaiya Bang Joni tukang jablay
"Bentar, Mas ada telepon," pamit Izam sambil menepuk pelan pundak Ina, lalu sedikit menjauh dari kedua adiknya.
"Halo, ini siapa?"
"Ini saya, yang menawarimu pekerjaan kemarin."
"Oh iya, ada apa Kak?"
"Malam ini adalah hari pertama kamu bekerja, datanglah ke gedung kosong yang ada di belakang SMP Nusa Bangsa dan rahasiakan kepergianmu."
Tuutt ....
Izam menelan salivanya, seketika bulu kuduknya berdiri. Pekerjaan apa yang sudah ia terima?
"Dedek bosen jajan es cekek mulu, kangen jajan es krim deh."
"Mama aku pamit mau bantuin Bu Inah bersihin taman ya."
"Oh iya kak, tolong potongin ini jadi empat ya."
Izam menggenggam lebih kuat ponselnya beberapa saat, lalu ia segera berjalan menuju adik-adiknya yang masih asyik bercengkrama.
"Mas mau pergi, nanti kalo Mama nanyain bilang aja ngopi di rumahnya si Indra." Izam mengecup puncak kepala Iel sekilas, lalu masuk ke dalam untuk mengambil kunci motor.
*****
Dua jam sudah Izam duduk termenung di lantai tujuh yang terbengkalai itu. Secangkir kopi yang ia beli tadi di perjalanan pun kini hanya tinggal ampasnya.
"Ini gue yang bego sih, disuruh dateng malem, malah sore." Izam merutuki dirinya sendiri.
"Nizam?" panggil seseorang dari belakang.
Jika dari suaranya barusan dan tadi saat di telepon dia seorang perempuan.
Izam menoleh cepat. "Iya?"
"Perkenalkan nama saya Bunda Pluto. Saya adalah yang menawarimu pekerjaan sekaligus atasan kamu. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik." Bunda Pluto memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Genius | Misteri ✔
Misterio / SuspensoWinter adalah seorang single parent, yang sedang dibuat bingung oleh putri bungsunya. Pasalnya, putri bungsunya itu, berperilaku seperti seorang psikopat. Namun, seperti yang kita tahu, ciri-ciri psikopat dan sosiopat itu hampir sama. Jadi apakah be...
