"Disangka batu biasa, ternyata intan."
Ini sama sekali bukan tentang jual beli batu permata. Bukan! Tapi aku merasa bahwa aku seperti orang yang sedang menemukan dua bongkah batu dan sedang menimbang-nimbang, yang manakah di antara dua batu itu yang merupakan intan yang sebenarnya.
Manakah yang sungguh-sungguh intan? Tigor, atau calon suamiku? Aku tak mau salah bertindak, mengambil yang kusangka intan, tapi ternyata cuma batu biasa.
Belakangan ini, aku semakin lesu dan pucat. Biarpun calon suamiku berusaha menyenangkan hatiku, dengan mengajakku berekreasi ke sana sini, semuanya tak mampu mengembalikan gairah hidupku.
"Apa kau sudah tak mencintaiku lagi?" tanya calon suamiku suatu siang. Kami sedang berada di atas perahu kecil di sebuah danau.
Wajahnya terlihat muram. Kualihkan pandang ke tepi danau, agar tak melihat kesedihannya. Mataku mengamati pohon-pohon yang meski tumbuh rapat di pinggir danau, namun tak mampu mencegah mata hari menyusup di sela-sela dedaunan dan membuat air danau terlihat berkilauan. Alangkah miripnya dengan keadaanku saat ini, ketika 'pagar cinta' dari calon suamiku, tak sanggup membentengiku dari kehadiran Tigor, sehingga aku kembali jatuh cinta padanya dan lupa bahwa sebentar lagi, aku akan menikah.
"Apa yang ada padanya yang tak ada padaku? Apa keistimewaannya, sehingga kau menghabiskan sepuluh tahun untuk mencari dia? Dan sekarang begitu kau bertemu dia, kau berbuat seolah-olah tak pernah mencintaiku?!" Gugatnya lagi dengan suara tinggi.
Dia marah. Sekarang aku menundukkan pandang, mengamati air danau yang bergelombang kecil, karena dayung yang digerak-gerakkan oleh calon suamiku. Sebenarnya aku hampir menangis. Bagiku, ucapannya barusan menjadi ungkapan dari sakit hatinya, melihat perubahan sikapku. Aku pasti sudah membuatnya menderita. Tapi aku juga sedang merasa sangat menderita. Karena itu, kuputuskan untuk diam saja, mengabaikan keingintahuannya. Bukan saat ini aku akan menjawab, tapi nanti, setelah aku tahu pasti, yang mana intan yang kucari itu.
"Sekarang, terserahmulah semuanya. Aku tetap ingin menikah denganmu, tapi aku tak akan memaksamu. Aku tak mau menikahi orang yang tak mencintaiku," dia berbicara lambat dan pelan, tetapi justru mampu meruntuhkan benteng air mataku. Aku tersedu-sedu mendengar kata-katanya itu. Beberapa hari ini, diam-diam aku memang berharap agar dia 'melepaskanku'. Tapi nyatanya, ketika akhirnya dia mengatakan itu, aku tak sanggup untuk tak merasa bersalah.
.******.
Kelas konseling. Minggu pertama, bulan ketiga.
Tigor lagi...
Setelah menemui dia di kantor gereja ini, aku belum berjumpa dengannya lagi. Pertemuan waktu itu berakhir begitu saja. Tigor tetap diam bersandar dan aku akhirnya pergi setelah satu jam menangis di depannya. Tak ada tukar menukar nomor telepon atau alamat.
Calon suamiku memang orang baik. Meski waktu di danau dia sangat marah padaku, tapi ternyata dia tak mengabaikanku. Setiap hari dia tetap rutin menelepon, meski hanya sekedar mengatakan bahwa dia sedang capek, atau akan bermain bulu tangkis dengan temannya.
Ternyata ada juga gunanya aku menemui Tigor. Sebab sekarang, meski jantungku masih berdebar tak beraturan, aku sudah berani melihat ke arahnya.
Dia menyapa kami semua. Semua membalas sapaannya, termasuk aku- untuk yang pertama kali-. Calon suamiku sampai memalingkan wajah untuk melihatku. Pasti dia tak menyangka bahwa aku sekarang berani membalas sapaan Tigor.
Tigor membuka bukunya, lalu Alkitabnya. Kami juga membuka buku dan menunggu dia memberitahu kami ayat Alkitab yang harus kami baca.
"Sekarang kita akan berdiskusi tentang Perbedaan Antara Laki-laki dan Perempuan."
Dia berhenti setelah mengucapkan kalimat itu, mengambil pena dari saku bajunya, lalu menulis di bukunya.
Aku terperangah. Aku baru tahu dia menulis menggunakan tangan kiri...
Seperti ada yang membangunkanku dari tidur lelap. Aku tak mengerti menjelaskannya, tapi aku yang tadinya tertidur, sekarang sudah terbangun. Dunia yang tadi gelap, sekarang menjadi terang benderang.
Aku baru tahu dia kidal... Pengetahuan ini menyentakku. Sepuluh tahun mencarinya, sepuluh tahun merindukannya. Sore ini baru tersadar, aku mencintai apanya? Aku merindukan apanya? Aku tak mengenal dia sedikitpun. Aku tak tahu apakah dia bisa mengucapkan seluruh abjad tanpa cacat, aku tak tahu dia suka makan apa, hobinya apa, di mana rumahnya, apakah dia lebih suka memakai kaos dibandingkan kemeja, apa pekerjaan orang tuanya, apa yang membuat dia marah, apa yang dia lakukan di waktu senggangnya. Sungguh, aku tak tahu sedikitpun, sebab aku memang tak mengenal dia!
Sebaliknya, setahun bersama calon suamiku, membuatku sangat banyak tahu tentang dia. Aku tahu dia lebih suka makan telur dibandingkan daging, dia selalu merasa geli kalau telinganya dibisiki, dia pernah jatuh dari motor yang membuat tempurung lututnya retak, dia anak kedua dari lima bersaudara, dia bisa sangat senang hanya karena aku membuatkan kue bolu untuknya, dia marah kalau melihat orang bermalas-malasan, dia tak menganggap lelaki menangis sebagai tanda ketidakjantanan. Yah, aku mengenal dia, aku masih bisa menyebutkan deretan hal-hal lain, yang membuktikan bahwa aku mengenalnya.
Kesadaran itu ternyata bagai tangan yang mengangkat seluruh beban yang kupikul selama ini. Mendung yang selama ini menutupi cahaya wajahku, terusir oleh kuatnya dorongan angin kesadaran. Aku bisa tersenyum lepas, aku merasa bebas.
Aku tegak melihat Tigor, tapi tak ada lagi rasa berdebar. Tigor masih menghindari sering-sering melihat ke arahku, tapi bagiku itu sudah tak berarti apa-apa sekarang.
Ketika konseling usai dan orang-orang sudah pulang lebih dulu, aku tak tahan untuk tak memegang tangan calon suamiku. Dia terkejut.
"Ada apa, Rian?" suaranya lembut bernada senang. Aku terharu mendengarnya.
"Aku yakin sekarang, aku memang mencintaimu. Aku hanya mencintaimu," kataku sambil mempererat genggamanku.
Dia memandangku takjub. Pasti dia tak mengerti, bagaimana dalam satu setengah jam, aku tiba-tiba berubah.
Tapi dia tak bertanya apa-apa. Hanya tangannya mesra membelai rambutku.
Aku tahu, itu memang gayanya...
.****.

KAMU SEDANG MEMBACA
INTAN YANG KUCARI
General FictionPencarian 10 tahun yang tak membuahkan hasil, membuat dia akhirnya menyerah. Berhenti mengharapkan seseorang dari masa SMA, dan menjalin hubungan dengan orang lain. Ketika pernikahan di ambang pintu, satu demi satu peristiwa terjadi, membuat dia ter...