"Kata Mamaku, tanggal sepuluh bulan ini, Namboruku akan datang ke rumah kalian di Siantar. Katanya mau berkenalan," kata Calon suamiku waktu kami bertemu sepulang kerja.
"Marhori-hori dingding?" tanyaku. Dia mengangkat bahu.
"Entahlah. Aku tak mengerti segala istilah itu."
Malamnya, aku menelepon ke orang tuaku di Siantar.
"Ya, sudah kalau begitu. Nanti Mamak ajak Bapa tua dan Bapa udamu untuk menerima mereka," kata Mamak.
Aku merasa sedih. Seandainya Bapakku masih ada, tentu dia sendiri yang akan menerima kedatangan keluarga calon suamiku.
"Apa di situ sudah dibicarakan soal mas kawin?" tanyaku ingin tahu.
"Ya. Mamak juga akan minta, supaya kita yang melaksanakan pesta."
"Oh, kalau tentang itu, sudah pernah kami bicarakan. Mereka juga setuju. Famili mereka semuanya di sana. Cuma mereka yang tinggal di sini," kataku. Sebenarnya, aku tetap belum faham, mengapa Mamakku sangat ingin menjadi pihak yang menyelenggarakan pesta.
"Apa kau sudah beli cincin kawin?" tanya Mamak lagi.
"Belum."
"Beli di sini saja. Emas di sini, warnanya lebih bagus dibanding di sana," saran Mamakku.
Usai bertelepon, aku merasa gembira luar biasa. Tak terasa, lima bulan lagi, aku sudah akan menjadi seorang istri.
.***.
Usiaku dua puluh sembilan tahun lewat beberapa bulan. Selama masa hidupku ini, tempat terjauh yang pernah kudatangi adalah Banyuwangi. Itupun karena aku diajak teman sekelasku waktu kuliah dulu, untuk berlibur di rumahnya di sana. Kami pergi mendaki Gunung Raung, lalu melihat-lihat pembuatan ikan kaleng di Muncar.
Abang calon suamiku, tinggal di Banyuwangi dan bekerja di salah satu perkebunan di sana. Dua setengah tahun yang lalu, dia menyunting perempuan dari sana. Aku belum pernah bertemu dengannya. Sebab setahun terakhir ini, dia belum pernah pulang. Jadi aku hanya mengenal orang tua calon suamiku dan ketiga adiknya. Sedangkan wajah Abang dan iparnya kukenal melalui foto keluarga mereka yang dipajang di ruang tamu.
"Nanti kalau kita jadi bulan madu ke Bali, kita singgah di Banyuwangi. Tiap hari kita berangkat ke Bali dari situ, jadi tidak perlu sewa hotel. Biar hemat," calon suamiku pernah berkata begitu untuk menggodaku.
Suatu pagi di hari minggu, calon suamiku meneleponku. Abangnya sakit, entah sakit apa. Rumah sakit di sana tak bisa mengenali penyakitnya dan dia kemudian meminta agar dirawat di rumah sakit di Jakarta.
Pulang gereja, aku bergegas menuju rumah sakit. Di tengah jalan, di atas bis yang sedang berhenti karena lampu merah, calon suamiku kembali menelepon. Abangnya sudah meninggal lima belas menit yang lalu.
Ketika aku tiba di teras ruangan ICU rumah sakit itu, kudapati seluruh keluarga mereka sedang menangis. Aku melihat seorang perempuan yang kukenali sebagai ipar calon suamiku, menangis menjerit-jerit dalam pelukan calon ibu mertuaku. Air mataku turut menetes ketika melihat kesedihannya. Dalam seluruh teriakannya, aku mendengar kesengsaraan dan keputus asaan. Aku tak mengerti, mengapa perempuan secantik dan semuda itu, harus menjadi janda. Apa masalahnya, kalau dia dan suaminya, bisa hidup bahagia sampai tua?
Calon suamiku juga terus-menerus menangis. Tapi dia harus mengurus administrasi rumah sakit. Kutemani dia mengurus segala sesuatunya. Dan setelah satu jam lewat, akhirnya semua urusan itu selesai.
.***.
Penyebab kematian Abang calon suamiku tetap tidak jelas. Dan keterangan yang dapat diberikan hanyalah, 'infeksi karena jamur diparu-paru.'
Empat minggu sudah berlalu. Acara penghiburan dilakukan silih berganti. Pertama dari keluarga dekat, kedua dari kumpulan marga, ketiga dari gereja. Ratusan kata indah dan menguatkan hati sudah dituturkan oleh orang-orang yang datang untuk menghibur. "Dia sudah pergi ke tempat yang senang. Dia sudah sembuh sekarang.", "Hidup ini terus berjalan. Tugas kita belum selesai, itu sebabnya kita masih di sini.", "Di balik segala kesedihan ini, pasti ada kebahagiaan, asal kita sabar dan percaya.".
Semua kata-kata itu indah, semuanya mungkin benar. Tapi, siapa yang dapat menggunakan kata-kata itu, untuk menyembuhkan luka hati seorang perempuan yang menjadi janda, ketika usianya masih dua puluh tujuh tahun dan sekarang ternyata sedang hamil dua bulan?
Tapi aku salah menduga. Perempuan yang malang itu ternyata tak serapuh yang kubayangkan. Dia memang sangat malang, sebenarnya lebih pas untukku bila itu disebut sangat sial. Tapi ternyata dia tak membiarkan dirinya terus menerus menangisi nasibnya. Setelah tiga bulan berlalu, akhirnya aku mendengar dari calon suamiku, bahwa iparnya itu sekarang sudah ikut memasak di dapur, berjalan-jalan bersama anggota keluarga lainnya dan mulai sibuk berbelanja kebutuhan calon anaknya.
Aku terharu melihat ketegarannya. Aku tak yakin, apakah jika aku yang mengalami apa yang dialaminya itu, aku bisa sekuat dirinya.
.****.

KAMU SEDANG MEMBACA
INTAN YANG KUCARI
General FictionPencarian 10 tahun yang tak membuahkan hasil, membuat dia akhirnya menyerah. Berhenti mengharapkan seseorang dari masa SMA, dan menjalin hubungan dengan orang lain. Ketika pernikahan di ambang pintu, satu demi satu peristiwa terjadi, membuat dia ter...