11

1 0 0
                                    

Sejak hari itu, Mario tak pernah menemuiku lagi. Untunglah perasaanku padanya tak sedalam cintaku pada Abangnya. Sehingga hanya perlu waktu dua bulan, untuk bisa benar-benar melupakannya.

Sekarang hanya tinggal Tigor.

Si Pendeta ini mendekatiku selambat keong mendekati daun keladi yang menjadi makanannya. Aku tahu dia memang agak sibuk, dengan jadwal yang 'tak beraturan'. Kunjungan ke panti jompolah, membesuk jemaat sakitlah, rapat pelayanlah...

Syukur juga dia selambat itu. Sebab aku jadi merasa tak didesak, seperti waktu Mario mendekatiku. Biarpun matanya menyerangku dengan binar-binar cinta, tapi belum pernah dia mengatakan secara langsung atau tersirat, bahwa dia mencintaiku.

Aku sempat curiga juga. Jangan-jangan sinar matanya memang begitu. Terlihat penuh cinta ke semua orang. Sebab kalau kulihat, dia memang baik dan lembut. Jangan-jangan aku yang terlalu percaya diri, menganggap dia jatuh cinta padaku. Tapi kuingat lagi pengakuannya di kantor gerejanya, bahwa sejak bertemu pertama kali denganku, dia tak pernah melupakanku. Jadi pasti dia cinta padaku.

Aku akhirnya menganalisis lagi, mengapa kalau dia mengatakan tak pernah melupakanku, dia tak bergerak cepat untuk mendapatkanku? Dia sudah tahu, bahwa Mario menyukaiku, tapi itu tak membuatnya bergegas menyatakan perasaannya. Apa dia tak takut, kalau untuk kedua kalinya, aku kembali pergi dari depannya?

Atau jangan-jangan dia sepertiku. Dulu aku tak mengenalnya, tapi mengaku mencintainya. Dia juga tak mengenalku, tapi mengaku tak bisa melupakanku. Karena itu, mungkin sekarang dia sedang berusaha mengenaliku. Supaya dia bisa memastikan, apakah aku pantas dicintai atau tidak.

Kuakui, sikapnya yang tenang dan tak mendesak, membuatku akhirnya yakin, bahwa cinta yang pernah kupertahankan selama sepuluh tahun, memang pantas untuk dihidupkan lagi. Aku memang sempat tergoda oleh Mario, tapi sudah kuputuskan sekarang, aku tak akan sanggup menjadi pacarnya, tanpa terus-menerus mengingat Abangnya.

Usiaku menjelang tiga puluh satu sekarang. Sudah saatnya mencari dermaga untuk melabuhkan hatiku. Itulah sebabnya sekarang aku jadi sering bertanya, Tigorkah pelabuhan itu, atau haruskah aku mencari lelaki lain?

.****.

"Kau kujemput jam lima sore."

Karena itu aku sekarang sibuk berdandan. Lipstik merah jambu lembut, perona pipih merah jambu segar, rambut setengah disanggul, gaun sebetis warna merah jambu lembut, sepatu tiga inci, dan tas hitam-kecil. Beres sudah. Tinggal menunggu di teras.

Adikku habis-habisan menggodaku. Cinta lama bersemi kembali, katanya. Aku tersipu-sipu, tak bisa menjawab kalau sudah dia yang mengganggu. Maka aku pura-pura tak peduli dan buru-buru berjalan ke teras. Lebih baik aku menunggu ke sana, daripada harus mendengar godaan si usil itu.

Jam lima kurang lima menit.

Sebuah pesan masuk. 0811556....... Aku terpana. Aku sungguh ingat nomor siapa itu.

"Selamat merayakan natal, Rian. Semoga sekarang kau sudah memaafkanku."

Semangatku langsung melorot ke titik nol. Aku duduk lemas di kursi. Hampir dua tahun berlalu, tanpa mendengar kabar apapun darinya. Sore ini, hanya sebaris pesan darinya, tiba-tiba membuatku merindukan dirinya.

Apakah di bawah sadarku, aku masih mencintainya?

Belum sempat berpikir lama, Tigor sudah tiba di depan pagar. Aku menegakkan tubuh yang tadi sempat lunglai, berharap dia tak melihat kegundahanku. Kupasang senyum terbaik yang bisa kubuat di saat seperti ini.

"Langsung berangkat, ya?" pintanya. Aku mengangguk. Kurasakan genggamannya di jemariku. Hatiku berdebar, malu-malu kupandang dia dan dengan gemetar balas menggenggam tangannya. Dia memandangku sambil tersenyum senang.

INTAN YANG KUCARITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang