12

1 0 0
                                    

Di ruang tamu kutemui adikku masih menonton TV.

"Woii, yang lagi jatuh cinta. Natal begini malah membiarkan adiknya kesepian," ledeknya sambil tersenyum-senyum memperhatikanku.

Kulempar dia dengan bantal kursi.

"Cerewet. Selamat natal, ya," kataku sambil duduk di sampingnya.

Dia masih sibuk memperhatikanku. Kurebut remot TV dari tangannya.

"Sudah'jadi' atau masih pendekatan juga?" tanyanya dengan wajah jenaka.

Aku tersenyum nakal. "Menurutmu?"

Dia pura-pura mengamatiku.

"Kalau melihat senyummu, juga sinar wajah dan pancaran matamu, sepertinya dia baru saja memproklamirkan isi hatinya."

Aku terbahak mendengar kata-katanya.

"Dan kesimpulan itu makin tak terbantahkan, setelah melihat fakta barusan, bahwa dia membelai rambutmu, dan kalian saling memegang tangan."

Aku mendelikkan mata. Kupukul kepalanya dengan bantal kursi.

"Dasar usil. Tukang intip."

Dia tertawa-tawa. Adikku yang nakal. Sudah dua puluh enam tahun, tapi kadang dia masih seperti remaja saja lagaknya.

"Mengintip itu kalau kalian ada di ruang tertutup. Tapi kalian tadi ada di teras. Jangankan aku, tetangga sebelah juga bisa melihat."

Aku tak menjawabnya lagi. Biar dia penasaran sendiri.

"Tapi, apa kakak serius dengan Pak Pendeta itu?"

Aku melihatnya jengkel. Si cerewet ini, apa salahnya kalau dia membiarkanku menonton TV dengan tenang?

"Namanya Tigor."

"Iya, iya. Apa Kakak serius?"

Ihh.. bawel, cerewet, usil...

Kumatikan TV. Daripada cuma membuang arus tapi tak ditonton.

"Iyalah, adikku sayang. Apa aku kelihatan main-main?" kataku kesal. Aku pindah ke karpet, mengambil bantal dan merebahkan badan.

"Kakak mau menikah dengan pendeta?" tanyanya lagi.

Pertanyaannya menyentak kesadaranku. Aku tahu bahwa Tigor seorang pendeta. Tapi baru kali ini aku disadarkan, apa arti jabatan itu, dan apa pengaruhnya bagiku, jika aku menikah dengannya.

Pikiranku jadi terganggu. Sampai ketika akan tidur, aku jadi tidak tenang.

Aku berdiri mengenakan kebaya pengantin berwarna kuning gading. Di sampingku berdiri Parulian. Kami berjalan perlahan menuju altar. Kami akan menikah. Tiba di altar, aku melihat pendeta yang akan memberkati pernikahan kami. Pendeta itu Tigor. Aku terkejut, bunga di tanganku terjatuh. Aku terbangun dengan nafas tersengal-sengal.

Lagi-lagi aku bermimpi...

.****.

Kalau ada yang mengatakan aku perempuan jahat, itu benar.

Kalau ada yang menyebutku tak punya pendirian, itu juga tidak salah.

Sederet sebutan lain juga masih cocok untukku: munafik, pembohong, tukang mempermainkan perasaan, penggoda suami orang... Silahkan cari lagi.

Sebab semuanya memang cocok untukku.

Makanya aku sekarang di sini, di salah satu bangku gerejaku yang dulu, yang sampai sekarang masih menjadi gereja yang juga dihadiri keluarga Parulian. Ini pagi hari tanggal dua puluh lima Desember. Ini hari natal.

Tapi jangan sangka kalau aku ke sini, demi sebuah niat luhur untuk merayakan natal dalam suasana damai, dalam kerelaan untuk memaafkan keluarga Parulian dan juga meminta maaf pada mereka. Tidak, aku tidak sesaleh itu.

Aku ke sini semata-mata untuk melihat Parulian. Aku yakin dia bergereja di sini hari ini, makanya aku ingin bertemu dengannya. Tadi malam setelah terjaga karena mimpi, aku merasa sangat rindu padanya. Aku sungguh-sungguh tak tahan ingin melihatnya.

Dia memang ada. Sejak dia baru masuk, aku sudah melihatnya. Berbaju hijau lembut dan celana hitam. Wajahnya bersih dengan rambut pendek dan rapi. Dia datang bersama istrinya yang menggendong bayi mereka, orang tua dan adik-adiknya. Ada Mario juga, tapi aku tak peduli. Aku tak ke sini untuk melihat dia.

Mereka duduk di baris ketiga dari depan.

Aku sendiri duduk di barisan paling belakang, selain menghindari dia, juga untuk menghindari kawan-kawan yang mengenalku. Jadi bisa kupastikan dia tak mungkin melihatku, sementara aku dapat sesuka hati melihat dia, meski cuma dari belakang saja.

Ibadah dimulai. Tapi aku tak bisa berkonsentrasi. Pikiranku sibuk merancang, apakah aku akan menyalaminya. Kalau ya, apa yang akan kukatakan. Kalau tidak, apakah aku tak akan menyesal.

Ibadah terasa panjang sekali. Duduk berdiri, duduk lagi, berdiri lagi. Lalu ada paduan suara gabungan, paduan suara ibu, paduan suara bapak, paduan suara anak, puisi anak-anak, Aduhhh.., banyak sekali, panjang sekali. Aku terkantuk-kantuk.

Usai kebaktian, aku bergegas melakukan rencanakau. Tanpa menyalam kanan kiri, aku segera pergi ke luar. Di tempat yang sudah kupilih, aku mengetik sebuah sms.

"Kalau kau mau, temui aku di halaman belakang. Sekarang."

Aku menunggu dengan berdebar. Dia ternyata datang.

Tahu-tahu kami sudah saling berpelukan. Aku tak tahu, apakah ada orang lain yang melihat. Tapi aku sadar, ada Satu Pribadi yang selalu melihat...

.****.

INTAN YANG KUCARITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang