15

4 1 0
                                    

Adikku akan menikah. Dia terus-menerus merengek memintaku datang.

Maka aku akhirnya datang dan tiba di Jakarta, sehari sebelum pernikahannya. Dia masih tinggal di rumah yang kami sewa dulu, sekarang bersama dua orang sepupu kami.

Kulihat kebaya yang disiapkannya untukku. Cantik sekali, panjang sampai jauh melewati pinggul, dengan warna hijau lembut, berhias pita-pita berbentuk mawar merah di lingkaran leher. Bawahannya berwarna hijau lebih tua, dengan hiasan renda-renda kemerahan pada bagian bawahnya.

Kebaya sang pengantin berwarna putih penuh payet berkilauan. Warna yang membosankan, sebab dari dulu baju pengantin selalu berwarna itu. Songketnya berwarna merah-emas, seharga dua setengah juta.

Mamak sudah datang dari kampung, bersama dengan Bapa tua dan seorang Namboru kami. Pernikahannya memang dilangsungkan di tanah rantau ini, sebab adikku menikah dengan orang sesuku kami, yang sudah lahir dan dibesarkan di sini.

"Di gereja mana pemberkatan nikahmu?"

Adikku menjawab dengan menyebut nama gereja itu. Aku tidak tahu di mana itu.

Dia menyebut nama jalannya. Aku mengangguk-angguk, meski tak tahu itu di mana. Tidak apa-apa, yang penting bukan gereja tempat Tigor menjadi pendeta.

Pagi sebelum pernikahan adalah waktu paling sibuk. Adikku bangun jam empat pagi, dirias secantik yang bisa diusahakan oleh sang juru rias. Sanggulnya diberati melati yang menjuntai sampai hampir mencapai pinggangnya. Bunga tangannya mawar merah kecil-kecil, yang muncul satu-satu di antara lili putih dan rangkaian melati. Pendek kata, seluruh bagian rumah dipenuhi oleh harumnya bunga-bunga.

Aku juga turut dalam antrian untuk dirias. Senang juga melihat diriku didandani begitu, riasan berwarna lembut dengan sanggul mungil berhias tusuk konde manik-manik. Sambil mematut diri di cermin, aku merasa senang karena adikku pandai memilihkan model kebaya untukku.

Jam delapan pagi, semua sudah siap berangkat ke gereja.

Ada acara menjemput pengantin, sekaligus makan bersama. Acara itu dilangsungkan di aula milik gereja.

Dari tempatku duduk, sambil menanti pengantin memasuki ruangan gereja, aku mencari-cari seorang teman sekampung kami. Kemarin dia menelepon, mengatakan hendak menghadiri acara pemberkatan nikah adikku. Tapi sampai sekarang aku belum melihatnya. Bisa jadi dia duduk di belakang.

Aku melihat ke bangku di sebelah kanan, menyisir dengan pandang deretan itu mulai dari belakang. Ketika melihat ke deretan tengah, jantungku hampir melompat ke luar. Seseorang yang kukenal sedang duduk di sana.

Dia juga melihatku. Kami bertatap-tatapan. Aku hampir pingsan rasanya.

Kulihat dia tersenyum. Buru-buru kubuang pandang dan langsung terduduk lemas.

Bagaimana dia bisa ada di sini? Mengapa adikku mengundangnya?

Aku terserang panik.

Kupaksa diriku untuk tenang. Aku menekan-nekan kepalaku yang mulai berdenyut. Tiba-tiba aku merasa kepanasan, ruangan ini juga terasa pengap. Aku mulai merasa sesak.

Lagi-lagi jantungku hampir copot, ketika musik tiba-tiba berbunyi. Ternyata pengantin mulai memasuki ruangan.

Aku tak turut berdiri menghadap ke lorong di antara bangku gereja, yang akan dilalui pengantin. Sebab kalau aku menghadap ke sana, aku akan melihat dia lagi. Dia juga akan melihat aku lagi. Aku tak mau pingsan di sini.

Pengantin tiba di dekat altar. Musik berhenti dialunkan.

Pendeta mulai mengajak semua bernyanyi. Aku tak turut bernyanyi. Aku kepanasan, aku sesak nafas. Aku butuh udara segar.

INTAN YANG KUCARITempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang