Calon suamiku bertanya apakah aku mengenal pendeta itu dan kujawab "Ya". Dia bertanya apakah aku pernah jatuh cinta pada pendeta itu, makanya aku terus-menerus pucat dan gelisah, juga kujawab "Ya". Dia gusar mendengarku.
"Mengapa kau tidak pernah cerita?" gugatnya.
"Aku tak merasa perlu menceritakan itu."
"Tapi aku menceritakan semua pacarku padamu."
"Ya, itu kalau pacar. Dia tak pernah menjadi pacarku."
Calon suamiku tercengang.
"Kupikir aku cinta pertamamu."
"Itu jelas tidak mungkin. Aku bertemu denganmu waktu umurku dua puluh delapan tahun. Sudah pasti sebelum itu, aku sudah pernah jatuh cinta pada pria. Dialah pria itu. Bedanya denganmu, aku hanya jatuh cinta, tapi tidak berpacaran dengannya."
"Lalu kalau kau tidak pernah berpacaran dengannya, mengapa biarpun sebelas tahun sudah berlalu, kau masih mengingat dia?!" suaranya jelas penuh cemburu.
Aku menggelengkan kepala. Tak ingin kujelaskan apa-apa tentang itu, sebab itu tentang perasaan yang bagi orang lain, akan terlihat sebagai konyol, aneh atau tolol. Lagipula, pertemuan kembaliku dengan cinta masa laluku, terasa begitu mengejukan bagiku.
.***.
Namanya Tigor. Tinggi, kurus, dengan wajah oval berhias kacamata. Begitulah selalu yang kuingat tentang dia, pujaan hatiku sejak masa SMA.
Kukenal dia melalui sepupuku, yang juga satu sekolah denganku. Suatu hari dia mengajak Tigor- teman sebangkunya-, berkunjung ke rumahku, untuk membantu memperbaiki radio, yang meski sudah berhari-hari diotak-atik, namun tak juga mengeluarkan bunyi. Ternyata dia hanya butuh waktu lima belasan menit, untuk membuat radio itu berbunyi. Entah bagaimana dia melakukannya, aku tak tahu. Yang jelas aku takjub setengah mati dan berulang-ulang mengucapkan terima kasih kepadanya. Dia membalasnya hanya dengan senyuman, tanpa menambahinya dengan kata-kata lain. Setelahnya, dia kembali menjadi pendengar sejati atas percakapan tak tentu arah yang berlangsung sekitar satu jam, antara aku dan sepupuku.
Aku sudah melupakan jasanya memperbaiki radioku, ketika beberapa minggu setelah itu, aku merasa ada orang yang sedang mengamat-amati aku di sekolah. Aku tidak ingat persis bagaimana aku bisa tahu. Yang jelas suatu hari aku tahu, bahwa dialah pelakunya.
Aku ingat, sejak menyadari bahwa dialah yang sering mencuri-curi pandang, aku selalu berdebar-debar, dan kakiku terasa berat untuk dilangkahkan, setiap kali melintasi kelasnya menuju kelasku. Biasanya aku akan menundukkan kepala dalam-dalam, sebab aku malu kalau sampai menegakkan wajah, dan mendapati dia sedang memandangiku. Pernah suatu pagi aku begitu gugup, ketika dari gerbang sekolah aku sudah melihat dia duduk di teras kelasnya. Hampir kutabrak sebuah tiang, hanya karena aku tak sanggup mengangkat kepala, pada saat melintasi kelasnya. Rasanya malu luar biasa. Kubayangkan dia terbahak melihat kegugupanku itu.
Lalu suatu hari, kami sama-sama lulus SMA.
Saat mengambil ijasah, itulah hari terakhir aku melihatnya. Dia berdiri sendirian di bawah Akasia, terlihat berani memandangku sambil tersenyum ragu-ragu. Aku sedang duduk bersama kawan-kawan, menanti nama kami dipanggil petugas tata usaha sekolah. Aku masih segugup biasanya, tapi hari itu mencoba berani membalas pandangannya. Waktu itu aku sangat berharap, bahwa sekali ini dia akan menghampiriku, walau hanya sekedar bertanya, "Kau akan melanjutkan ke mana?" Sayangnya itu tak pernah terjadi. Dia tetaplah hanya seorang pengagum dari jauh, yang tak pernah mencoba untuk berbuat yang lebih dari sekedar mencuri pandang. .
Saat itu aku tak tahu, bahwa aku juga berhak untuk lebih dulu menyapanya, lalu mengatakan bahwa aku jatuh cinta padanya. Didikan yang kuterima membuatku percaya, bahwa sebagai perempuan, aku hanya boleh diam dan menunggu dia menyapaku lebih dulu. Satu pilihan yang ternyata harus kubayar dengan air mata penyesalan selama bertahun-tahun.
Di depan sekolah, ketika sedang menunggu angkutan umum, aku melihatnya menaiki angkot. Dengan mata berair, kupandangi sosoknya yang kurus untuk terakhir kali. Ketika angkot itu berjalan perlahan, dia menoleh ke belakang melalui kaca dan mata kami saling bertatapan. Aku ingin sekali melambaikan tangan, menyuruh dia turun dari angkot, supaya kami bisa bicara. Tapi keberanianku tak cukup. Dan hasilnya hanyalah aku yang terus-menerus menangis setelah sampai di rumah. Malam itu, aku berdoa lama sekali, berharap agar suatu hari nanti kami bisa bertemu, dengan hati yang masih menyimpan perasaan yang sama. Siapa tahu kelak, ketika kami sudah sama-sama dewasa, kami menjadi lebih berani untuk saling mengungkapkan perasaan.
Ketika hari pengumuman ujian masuk universitas negeri tiba, aku sibuk mencari namanya juga di antara ribuan nama yang ada di koran itu. Mataku sampai berair dan letih sekali, karena huruf-huruf itu sangat banyak dan kecil-kecil. Sayangnya, kegigihanku mencari namanya berakhir sia-sia.
Aku lalu masuk universitas dan bertemu dengan lebih banyak lagi lelaki. Beberapa kali aku jatuh cinta. Sayangnya, kehadiran mereka tak mampu mengenyahkan ingatanku kepadanya. Jadilah, di saat aku jatuh cinta pada pria-pria itu, aku juga tetap terkenang-kenang kepadanya. Alhasil, aku tak juga berpacaran dengan seorang priapun. Sebab, ketika dibanding-bandingkan, hatiku tetap memilih untuk hanya mencintai dia, bukan pria lain. Bahkan walaupun sampai saat itu, dia tidak riil terlihat mataku, dan hanya hadir dalam angan dan pengharapanku saja.
Itulah awalnya mengapa akhirnya kuputuskan untuk menganggap diriku sebagai kekasihnya. Biarpun dia tak tahu, aku memutuskan untuk setia kepadanya dan menunggu dengan sabar, hari pertemuanku dengannya.
.***.

KAMU SEDANG MEMBACA
INTAN YANG KUCARI
General FictionPencarian 10 tahun yang tak membuahkan hasil, membuat dia akhirnya menyerah. Berhenti mengharapkan seseorang dari masa SMA, dan menjalin hubungan dengan orang lain. Ketika pernikahan di ambang pintu, satu demi satu peristiwa terjadi, membuat dia ter...