Usai dari kediaman Jinxu cang, Xue luan kembali menuju kediaman kekaisaran. Di sana para tabib masih menyeka tubuh Li heeng. Ketika masuk, Xue luan terkejut dan lekas membalikkan badan, karena saat itu posisi tubuh Li heeng terlungkup dan hanya berbalut sehelai kain putih polos.
"Kau sedang menyeka tubuhnya?" tanya Xue luan.
Tabib wanita itu langsung bangkit dan membungkukkan badan memberi hormat.
"Iya, Yang mulia. Hamba membersihkan seluruh darah yang membercak di tubuhnya." jawab tabib itu.
"Baiklah, selesaikan segera." ujar Xue luan lalu keluar.
Jinhou mendekatinya dan melaporkan satu hal penting.
"Kaisar? masih ada satu wanita yang di tahan oleh pangeran Jinxu cang. Gadis itu ada di penjara, apa perlu di bebaskan? atau biarkan saja?" lapor Jinhou meminta solusi.
"Gadis? apa dia temannya Li heeng?" tanya Xue luan.
"Benar, Kaisar." jawab Jinhou.
"Bebaskan dia, dan biarkan dia kembali ke kediamannya. Katakan juga, jika Li heeng aman bersamaku." pinta Xue luan.
"Baik, Kaisar." Jinhou mengangguk, lalu lanjut pergi menuju penjara bawah tanah.
Xue luan menunggu di halaman depan kediamannya. Ia duduk di kursi sembari memijat lembut dahinya. Kasim yang menemaninya segera membawakan aroma terapi penenang, dan beberapa dayang sudah berdiri mengayunkan kipas besar.
"Kaisar? apakah anda membutuhkan air hangat untuk berendam kaki?" tanya Kasim
"Tidak perlu." jawab Xue luan.
"Mengapa anda menunggu di luar? bukankah ada kediaman kekaisaran yang lain, Kaisar bisa beristirahat di sana." ujar Kasim.
"Aku tetap menunggu di sini. Jika kalian lelah melayaniku, maka pergilah." ujar Xue luan dengan tempramen sensitif.
Kasim itu terkejut mendengar ucapan Kaisarnya, kemudian berlutut dan menyatukan kedua tangan di depan dada.
"Maafkan hamba, Kaisar. Hamba tidak bermaksud begitu. Kami semua khawatir dengan kondisi anda yang baru saja kembali dari pusat pembangunan." jelas Kasim.
"Sudahlah, aku sedang tidak ingin mendengar rengekan mu." ujar Xue luan terlihat sangat muak dengan keadaan.
Lama Xue Luan menunggu, tabib wanita itu pun keluar, dan menyampaikan padanya, jika semua sudah selesai. Xue luan sangat lega dan bergegas masuk ke kediamannya. Langkah kaki itu sangat pelan mendekati tempat tidur. Li heeng terlihat sangat lemah dan terbaring tak berdaya. Tentu timbul rasa penyesalan, mengapa ia tidak membawanya ke pusat pembangunan. Malahan membiarkannya berada di istana sendirian.
Tangan Xue luan meraih jemari Li heeng dan menggenggamnya erat. Tatapannya juga berkaca-kaca. Ia berpikir, bagaimana bisa gadis yang sangat di cintainya itu mendapatkan luka semacam ini, yang bahkan ia tidak tega untuk melihatnya.
"Li heeng, aku datang. Ayo buka matamu. Maaf, karena membiarkanmu sendirian di istana. Maafkan aku." ucap Xue luan lalu mengecup lembut tangan Li heeng.
Kasim istana terheran melihat sikap Kaisarnya, karena untuk pertama kalinya Kaisar Lu begitu tunduk di hadapan wanita. Bahkan sikap perhatian dan pedulinya itu belum pernah ia saksikan langsung. Dari sekian banyak wanita yang datang, tak ada satupun yang sanggup menggerakkan hati Kaisarnya. Semua hanyalah pelampiasan nafsu, tetapi gadis ini, adalah yang pertama.
"Mengapa kau tidak menjawabku? aku ada di sampingmu. Kau tidak akan meninggalkan aku kan? kau sudah berjanji." bisik Xue luan.
Langit mulai gelap, dan Xue luan selalu menemani Li heeng. Tak lupa setiap beberapa menit sekali, ia menyeka tubuh Li heeng dengan air hangat. Malam yang semakin larut, membuat Xue luan tak sanggup menahan kantuk, hingga akhirnya tertidur menyandarkan tubuh. Tetapi, tiba-tiba saja tangan Li heeng gemetar, dahinya penuh dengan bulir keringat di sertai demam tinggi. Xue luan terbangung dan panik, ia pun mendekap lembut tubuh Li heeng seraya mengusap rambut gadis yang ia cintai tersebut.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lotus Perak
Historical FictionGenre Romance Wuxia ❤ Murni karya imajinasi sendiri [BUKAN NOVEL TERJEMAHAN] *Wajib Follow terlebih dahulu! BIASAKAN VOTE SETELAH MEMBACA YAA.. :) Blurb 🍃 Seorang gadis dari klan kultivator berupaya membangkitkan kembali kejayaan dunia seni...
