#01. Awal Pertumpahan Darah..

1K 87 12
                                        

Semuanya di mulai dari zaman kerajaan di bawah pemerintahan Kaisar Wang, yang mana kekuasaan demi kekuasaan adalah segalanya. Kehidupan yang abadi adalah tujuan utama..

Awalnya semua hidup dengan aman, damai dan tentram

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Awalnya semua hidup dengan aman, damai dan tentram. Seni bela diri menjadi salah satu daya tarik utama, begitu banyak para Kultivator yang mahir dan sangat berbakat. Setiap klan dari berbagai sekte begitu akur dan bersahabat. Di zaman itu, setiap perguruan akan menunjukkan kualitas terbaik yang mereka miliki.

Namun, 20 tahun kemudian....
Semua kedamaian itu sekejap berubah menjadi permusuhan.

Suasana berubah mencekam, langkah kaki kuda yang bising dan hentakan yang sangat kuat terdengar semakin mendekat. "Hyaaaa…t!!" suara teriakan dan setiap serangan yang di berikan, membuat telinga terasa tuli.

"Jduarrr!!! jdaarrr!!!" suara petir yang bersaut-sautan terdengar menyambar dengan nyaringnya sampai membuat permukaan tanah terasa bergetar. Hujan begitu deras mewakili kesedihan langit yang begitu gelap. Kegelapan terlihat menyelimuti tanpa adanya kehangatan. Kedua tangan terlihat mengepal kuat dengan rasa yang begitu ketakutan, menyaksikan setiap perbuatan yang begitu kejam dengan kedua mata. Hati dan jiwa yang seakan hancur membuat setiap tarikan nafas terasa sulit dan kaku.

"Buck!! blam!!" bunyi pukulan kuat yang menggema di telinga. Seorang gadis cantik berada di pelukan hangat ayahnya, hanya bisa terdiam tak dapat berbuat apa-apa. Tubuhnya gemetar dan kedua tangan pria tua itu berusaha menutupi penglihatannya, agar ia tak menyaksikan siksa pedih tersebut. Usaha untuk melindungi gadis itu begitu membuatnya ketakutan. Gadis polos tak tau apa-apa, kebingungan dengan tanda tanya yang memenuhi pikirannya.

"Habisi mereka semua!!!" suara lantang seorang pemuda yang sangat dingin dan kejam. Langkah kaki terdengar mulai mendekat ke arah tempat kami bersembunyi, dari sela jari tangan yang berusaha menutupi kedua mataku, kubiarkan melihat siapakah pemuda yang tak memiliki belas kasih tersebut.

Tubuh yang begitu tinggi, dada yang terlihat bidang, sorotan mata yang begitu tajam membuatku tertegun, seakan api amarah tengah merasuki dirinya. Tangan yang terlihat begitu kuat seakan mengepal dendam namun, satu hal yang membuatku tak menyangka, pemuda itu tanpa ragu memperlihatkan wajahnya. Rupa yang sangat tampan namun dingin tanpa cahaya.

Sejenak aku melamun menatap pemuda tersebut dari kejauhan. Tiba-tiba dengan berani salah satu pria yang merupakan pamanku itu langsung berdiri menghadang mereka yang hendak melukai kami namun, mereka dengan sadisnya menikam pamanku begitu saja. Jeritan dan darah seakan membentuk rasa trauma dalam benakku dan tiba-tiba tubuhku terhempas jauh ke tanah.

"Cepat pergi!!" ucap seseorang yang berharga bagiku.

"Tidak!!" jawab gadis itu menolak dengan berani.

"Pergilah sejauh yang kau bisa, selamatkan nyawamu nak!!" ucapnya dengan nada suara yang terdengar tegang dan khawatir.

Raut wajahnya yang panik membuatku menangis tertekan karenanya. Dia adalah ayahku yang selalu ada untukku dengan penuh cinta dan kasih sayang namun, suatu hal membuat kami harus berpisah. Gadis itu bingung dan terus berlari dengan langkah kaki yang terpincang-pincang. Arah yang tak tau harus di tuju, perasaan tak karuan membuatnya ingin berteriak pada dunia. "Aaaaa..!!!" teriakan gadis itu mencoba menentang langit, lalu terdiam lemas di permukaan rerumputan. Ia berlari kembali karena tak sanggup pergi meninggalkan keluarganya yang masih terjebak mempertaruhkan nyawa. Langkah kaki pemuda kejam itu semakin mendekat pada ayah dan semua keluargaku.

"Kumohon ampuni kami, apa kesalahan kami?!" ucap kakakku sembari berlutut di hadapannya namun, terlihat senyuman licik di bibir pemuda itu.

"Memaafkan kalian?? cih!! jangan pikir bisa merendah di hadapanku maka aku akan melepaskan kalian!" bentaknya dengan keras.

Pemuda itu mengangkat pedangnya namun, sejenak ia terdiam menatap keluargaku. Akan tetapi pemuda lain yang berdiri di belakangnya seakan membangkitkan kembali amarah dari dalam dirinya.

"Tunggu apa lagi!! cepat bunuh mereka!" ucap pemuda kejam tak berperasaan tersebut.

"Sruk!!" bunyi tusukan dan sayatan pedang yang di ayunkan tanpa rasa kasihan. Pedang yang begitu tajam dan terdapat tanda ukiran nama di ujung pedangnya kulihat dari kejauhan. Di balik pohon besar yang menjulang tinggi, gadis itu hanya bisa terduduk lemas dengan tubuh gemetar melihat pembantaian yang sekejap menghabisi semuanya. Setelah menghabisi, mereka semua pergi begitu saja tanpa rasa bersalah. "AYAAAH…!!!" teriakanku dengan kemampuan yang kumiliki.

Tangisan tak berdayaku membuatku bingung harus berbuat apa. "Ayaaaahh!!! hiks!! hiks!" jatuh dan bangun gadis itu berusaha berlari mendekat ke jasad ayahnya. Di hadapannya aku terduduk takut menatapnya yang kupikir sudah tak bernafas lagi. Semua keluarga gadis itu sudah tergeletak tak bernyawa di sekelilingnya. Ia duduk di atas genangan darah sembari menatap wajah ayahnya. "Ayah? buka matamu!" ucap gadis itu menangis tersendu-sendu.

"Putriku? pergilah.. kemanapun yang kau bisa, ja-jadilah anak yang baik" ucap ayahnya sembari memberikan benda ukir kecil terbuat dari kayu yang bertuliskan "LIN" kemudian menghembuskan nafas terakhir di atas pangkuan gadis manis yang malang itu.

"Tidaaaaak!!" teriakkannya menolak kenyataan pahit dalam hidupnya. Ia menoleh mencari jasad ibunya. Gadis itu memangku lembut kepala ibunya dan menangis histeris di hadapannya.

"Ibu? bangun!! siapa yang akan menemaniku tidur malam ini, hiks! aku ketakutan!!" ucap gadis itu.

Semalaman di tengah hujan yang deras, gadis tak berdaya dan lemah tersebut sedang mengubur jasad para keluarganya sendirian

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Semalaman di tengah hujan yang deras, gadis tak berdaya dan lemah tersebut sedang mengubur jasad para keluarganya sendirian. Ia membangun gundukan makam di sebuah hutan tertutup sebagai papan peringatan kematian keluarganya di sana.

"Ayah? ibu? kakak? sepupu? paman, aku sendirian.." ucap gadis malang itu terduduk tak berdaya di depan gundukan makam keluarganya.

............

Bayangkan, betapa malangnya gadis itu, dalam semalam semua nyawa keluarganya lenyap dan hanya tersisa diriya sendiri. Pikiran gadis itu sangat kacau dan bingung apa yang akan ia lakukan setelah matahari terbit di esok hari.

"Hiks!! aku harus kemana? katakan padaku, aku harus bagaimana? aku tidak punya siapa-siapa lagi, apa yang harus kulakukan?!" ucap gadis itu sangat terpukul.

"Kakak? besok kita masih bisa berlatih pedang bersamakan?" ucapnya. "Paman? jangan lupa setiap sore kau akan bercerita tentang seni bela diri padaku.." ucap gadis itu meremas dedaunan gugur yang ada di sekelilingnya.

Kilat yang membentang di langit dengan hujan yang tak ada henti, membuat udara jadi semakin dingin.

"Aku pasti sedang bermimpikan? aku pasti sedang berada di alam bawah sadarku kan? jangan tinggalkan aku sendiri, aku ingin ikut ayah.. ibu?" ucap gadis itu menangis tersendu-sendu dengan mata yang sembab dan sayup.

Ia mulai merasa sekelilingnya terlihat buram. Tak lama kemudian, tubuh lemasnya pun ia jatuhkan ke permukaan tanah.
.
.
.
.
.
.

Bersambung...
Jangan lupa Vote & follow ya..
Klik bintang di bawah ini
👇👇👇

Lotus PerakTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang