eta 🔞

10.1K 458 59
                                        

Di Minggu pagi ini, Naruto seperti biasa menjalankan rutinitas mingguan untuk berlibur dengan keluarganya.

Sesibuk apapun pekerjaannya, ia tak ingin Hinata atau Boruto merasa jauh dari sosoknya, sehingga ia selalu berusaha menyempatkan untuk menghabiskan waktu bersama walau hanya satu kali seminggu.

Mereka bertiga menaiki sedan hitam dengan suara kicauan burung dan hamparan sawah hijau yang memanjakan mata.

Boruto yang duduk sendiri di bangku belakang menatap pemandangan dari jendela. Sudah tiga bulan lamanya ia resmi menjadi bagian dari keluarga Uzumaki. Belum pernah sekalipun Naruto sebagai sosok ayah tak membuatnya bahagia.

Termasuk hari ini. Boruto kecil baru pertama kali mengunjungi pedesaan dengan udara sejuk minim polusi. Rasanya hatinya tenang sekali.

Tiba-tiba gerakan mobil Naruto terhenti. Boruto dan Hinata yang tak memahami kondisi menanyakan alasan pemberhentian pada Naruto.

"Aku melihat ada orang yang tenggelam di sungai itu." Tunjuk Naruto pada sungai deras yang cukup terjal untuk dijangkau.

Naruto melepaskan sabuk pengaman dan bersiap untuk turun, tetapi lengannya di tahan Boruto.

"Ayah kau gila? Sungai itu deras sekali, tubuhmu bahkan bisa menggelinding dan terbawa arus jika tak berhasil turun di lereng terjal itu. Kau akan mati!" Teriaknya panik.

Naruto melepaskan pegangan tangan Boruto. "Hanya aku yang ada di sini, berarti sudah tanggung jawabku untuk menolongnya. Tenanglah, aku akan segera kembali."

Boruto menggeleng tak percaya. Untuk apa ayahnya menolong orang yang bahkan namanya saja ia tak tahu?

Naruto bergegas membuka pintu mobil bersiap untuk turun, takut jika nyawa orang yang tenggelam itu terlambat diselamatkan. Tetapi Boruto lagi-lagi mengejarnya.

"Kau hanya punya satu nyawa ayah! Lihat sungai itu, kau tak akan bisa kembali dengan selamat. Untuk apa kau menolongnya, tak ada untungnya menyelamatkan nyawa orang itu."

Rasa khawatir membuat mulut Boruto mengucapkan hal tak manusiawi. Baginya dunia akan menggelap jika Naruto mati detik ini.

Wajah Naruto terlihat marah setelah mendengar kalimat Boruto yang terkesan apatis baginya. Ia menatap Hinata untuk memberinya isyarat dalam menjaga Boruto terlebih dahulu. Tanpa sepatah kata, Naruto bergegas turun untuk menyelamatkan pria itu.

Hinata yang mengusap kedua pundak Boruto berusaha menenangkan. "Tenanglah, Boruto. Ayahmu itu kuat."

Boruto berdecak kesal. Bukan pertama kali ia melihat Naruto berusaha keras menolong orang lain yang menurutnya tak akan berguna di masa depan.

"Tapi sungai itu terlalu deras, bu. Sekuat apapun ayah, tubuhnya pasti akan tetap terluka."

Hinata mengangguk. Bukan berarti hatinya tak khawatir melihat Naruto menolong orang sampai menantang maut. "Itulah ayahmu. Dia selalu berkata bahwa penting menjadi orang hebat dan kuat, agar bisa menyelamatkan lebih banyak orang."

Kaki Boruto dihentak-hentak tak tenang. Letak sungai yang berada di bawah cukup sulit untuk diamati. "Tapi kenapa ayah harus membahayakan nyawanya hanya untuk menolong orang, bu?"

"Ayahmu pernah berkata padaku, dia bukannya tidak takut mati, dia hanya merasa hidupnya tak akan berarti jika gagal menyelamatkan orang di sekitarnya."

Perkataan Hinata membuat Boruto tersadar, semua hal di dunia ini memiliki efek positif dan negatifnya tersendiri. Tergantung bagaimana seseorang memanfaatkan hal itu.

Kebaikan hati Naruto menurut Boruto adalah hal yang paling merugikannya. Jika kejahatan Boruto bisa membunuh orang lain, kebaikan Naruto justru akan membunuh dirinya sendiri.

Parasite [Borunaru]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang