Boruto kecil memejamkan mata dan menutup kedua telinga. Berusaha menghilangkan suara teriakan dan tangisan yang keluar dari bibir ibunya. Giginya menggigit lidah, berusaha menyalurkan ketakutan dan kekhawatiran pada rasa sakit di indra perasanya.
"Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku cinta sekali padamu." Sang ibu memegang kaki suaminya memohon.
"Aku tidak memiliki sedikitpun rasa cinta padamu. Aku mencintai orang lain dan kau tahu itu."
"Aku tidak peduli kalau kau ingin bersama wanita lain, asalkan jangan ceraikan aku!" Suaranya bergetar sambil menangis.
"Kau benar-benar wanita sialan!" Tangan yang seharusnya digunakan untuk melindungi justru terus melayangkan pukulan berkali-kali.
Boruto membuka matanya yang sudah memerah. Dia berlari di depan tubuh ibunya. "Hentikan, papa! Jangan sakiti mama lagi."
Mata sang ayah melotot marah. "Lihat! Beginilah hasil didikanmu. Dia berani melawanku. Kau sampah seperti ibumu."
Tangan sang ibu mendorong Boruto menjauh. "Sudah kubilang jangan ikut campur, Boruto! Jika ayahmu ingin memukulku, biarkan saja. Jika ia ingin mencaci makiku, diamkan saja!"
Boruto kecil berusaha menahan tangis. Ia tahu sang ibu akan kembali melarangnya. Tetapi Boruto tak tahan melihat badan memar sang ibu, atau mendengar tangisan ibunya ketika sang ayah membawa perempuan dari luar.
"Aku tidak peduli lagi. Mulai malam ini, kita cerai!" Sang ayah berteriak sambil menunjuk istrinya.
Boruto menatap pemandangan sang ibu yang menahan kaki ayahnya melangkah. Menangis meraung tak mengijinkan meskipun kebersamaan mereka menyiksa sang ibu.
Keputusan sang ayah tak dapat terelakkan. Ia melesat pergi jauh dari rumah dan tak akan kembali. Boruto kecil melangkah pelan menuju ibunya yang menangis histeris di depan pintu rumah.
Tangannya mengusap punggung sang ibu. "Mama, tenang saja. Boru di sini. Boru tidak akan membiarkan ayah memukul dan menghinamu lagi. Boru akan jadi anak baik dan pintar agar bisa membahagiakanmu saat Boru sudah besar."
Sang ibu tak mengindahkan ucapan anaknya. Ia bahkan menepis tangan sang anak dan berlalu meninggalkan bocah itu sendiri untuk pergi ke kamarnya.
Tak lama, Boruto mendengar suara barang yang dilempar dan teriakan ibunya. Manik birunya mengeluarkan tangis. Ia sangat lelah berada di rumah dengan semua kekacauan yang terjadi. Ia ingin penderitaan ini berakhir, semuanya begitu gelap. Seakan dunia ini sudah kehilangan cahaya.
.
"Mama, kita akan kemana?" Boruto kecil bertanya antusias.
Sudah lama sekali sejak terakhir kali ibunya mengajak Boruto jalan-jalan keluar. Tetapi sang ibu hanya terdiam menggandeng tangan Boruto sambil terus berjalan tergesa-gesa.
Boruto merasa kebingungan, tapi ia juga senang. Mungkin sang ibu akhirnya bisa mengikhlaskan kepergian suaminya.
"Mama, Boru senang sekali kita bisa pergi berdua. Boru tidak butuh ayah, Boru yang akan melindungimu." Teriak anak itu antusias.
Tetapi sang ibu masih membisu sejak semalam. Wajahnya pucat dengan mata yang sembab.
Langkah kaki keduanya terhenti. Di hadapan, terlihat sebuah bangunan megah dengan tulisan yang belum bisa Boruto pahami.
"Kita akan main ke sini, ma?"
Tak lama, seorang pria berambut ikal hijau neon sebahu menghampiri keduanya. "Ini anaknya?"
Sang ibu mengangguk dan menyerahkan pegangan tangan Boruto pada wanita tersebut.
Boruto yang kebingungan masih berusaha tersenyum. Ia pikir, ibunya akan memberinya kejutan. Sang ibu lalu berlutut dan mengusap wajah anaknya untuk terakhir kali.
KAMU SEDANG MEMBACA
Parasite [Borunaru]
Mystery / ThrillerPernikahan Naruto dan Hinata yang sudah terjalin bertahun-tahun tak membuat Tuhan mengkaruniyai mereka buah hati. Mereka pun memutuskan untuk mengadopsi seorang anak dari panti asuhan bernama Boruto. Pada awalnya kehadiran Boruto memberikan kehanga...
![Parasite [Borunaru]](https://img.wattpad.com/cover/303056200-64-k48410.jpg)