"Kami saling terikat. Jika kau bertanya siapa yang paling aku takutkan tentang segalanya, maka aku akan menjawab, kakak ku Jeno dan juga keluarga ku." - Nathan
"Berbahagialah. Kau harus menikmati hidup mu, Nana.." - Jevano.
Bahasa Baku/Non Baku
Ce...
Banyak yang bilang gue itu manusia datar yang cuma dikit aja pake perasaan. Banyak juga yang bilang gue, si Nathan yang gak pernah ngerasain gimana rasanya butuh seseorang buat jadi poros hidup. Bahkan ada yang bilang kalo gue itu si egois yang gak pernah mikirin orang lain.
Gue sih sebenernya bodo amat. Mereka mau ngebacot apapun semau mereka, gue ya gak peduli. Cuman gue mau ngingetin, kalian gak akan pernah bisa tau apa yang orang lain sembunyiin di hatinya. Kalian gak bisa ngejudge kalo seseorang itu gak pake perasaannya atau bahkan gak punya hati dari apa yang kalian liat dari penampilannya.
Gue buktinya. Si Nathan Jaemin Argadinata ini juga punya hati loh gengs. Bahkan saking seringnya gue pake hati gue, sampe rasanya kadang gue cape sendiri. Kalo kalian ngerasa sikap gue datar atau bahkan egois, itu karena kalian Cuma liat gue dari sisi luarnya aja. Coba kalo kalian tau segila apa gue kalo sama orang-orang berharga yang gue anggap sebagai 'poros hidup' gue, kalian pasti gak bakal percaya sama apa yang kalian liat.
Gue, Nathan Jaemin Argadinata punya hati, punya perasaan, dan punya orang-orang yang gue jadiin sebagai poros hidup gue sendiri.
Nathan POV end.
★★🥀★★
Seorang remaja yang masih asik bergelung dengan selimutnya yang hangat mulai mengerjapkan mata saat ia merasakan kehadiran seseorang yang membuka tirai jendelanya. Ia terusik saat cahaya matahari perlahan-lahan mengganggu acara tidurnya. Hingga akhirnya ia memaksakan matanya untuk terbuka. Alisnya sedikit bertaut saat silaunya matahari langsung menyapa matanya.
"Bangun dek."
Remaja itu mengerjapkan matanya saat sosok sang ayah berdiri di samping ranjang sambil menatapnya. Setelah pandangannya terasa jelas, dapat ia lihat senyum lembut sang ayah yang tersenyum padanya.
"Paa... Nana masih ngantuk" rengeknya.
Sehun, tersenyum gemas saat putra bungsunya ini malah kembali menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Gak boleh tidur lagi Na. Bang Jeno udah cemberut dari tadi karena nungguin kamu di meja makan."
Nathan berdecak kesal sambil membuka selimut yang menutupi tubuhnya hingga terlepas sepenuhnya. "Lagian abang ngapain sih pagi-pagi udah menclok di meja makan? Inikan Weekend!"
"Loh, kamu kan semalem udah janji mau nganterin abang kamu beli alat-alat lukis. Kamu sendiri loh yang bilang"
Mata Jaemin langsung melotot. Sial, ia melupakan janjinya pada Jeno. Dengan terburu-buru ia bangun dari kasurnya.
"Kenapa gak bilang dari tadi sih Pah?! Ah fix bang Jeno ngambek beneran ini mah.." protes Nathan sambil berlarian kesana kemari mencari handuk dan pakaiannya. Sedang Sehun hanya terkekeh kemudian berajalan pergi menuju ruang makan dimana dua putranya yang lain sudah menunggu dengan kesal.
Nathan mandi dan bersiap-siap dengan tergesa. Ia bahkan membawa sisirnya dan merapikan rambutnya di perjalanan menuju meja makan. Setelah sampai, Nathan mengusap tengkuknya begitu mendapati Jeno dengan wajah kesal. Ia berjalan ke pelan lalu duduk di kursi kosong di sebelah Jeno.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.