Chapter 15 : Permohonan tak Tersampaikan

2K 223 20
                                    

Nathan berjalan lesu menuju wastafel toilet untuk membasuh wajahnya yang sudah tak karuan. Jejak air mata, mata yang sembab juga rambut yang berantakan. Rasa sejuk air yang menyapa kulit wajahnya tak melegakan sedikitpun.

Nathan menatap bayangan dirinya di cermin. Sekelebat ingatan tentang percakapannya dengan Jeno siang tadi membuat rasa sesak di dadanya kembali menyeruak, di tambah dengan perkataan para dokter yang begitu terngiang di telinganya.

Jeno Koma, Hun

Detak jantungnya lemah

Cidera di kaki Jeno parah.”

Kemungkinan besar kakinya mengalami kelumpuhan, bahkan lumpuh permanen.”

BRAKK!!

“ARRGGHHHH!!”

Nathan memukul permukaan Wastafel itu dengan tangan yang mengepal kuat. matanya memejam erat begitu air matanya kembali memaksa menerobos pertahanannya.

Abang sayang Nana.”

Nathan menutup wajahnya, tak sanggup menahan isakan.

“Tega banget lo Bang. Lo bilang lo sayang sama gue tapi lo bikin gue sakit kaya gini.”

Tubuhnya luruh bertepatan dengan Jeffrey yang masuk ke toilet. Ia segera berlari, merengkuh tubuh bergetar si adik bungsu dalam pelukannya.

“Nana, jangan kaya gini dek.”

“Hikss.. Bang Jeff, Bang Jeno jahat. Dia gak mau buka matanya. Dia janji buat sembuh tapi dia malah masuk ke ruangan itu lagi bang.. hikss.”

Jeffrey mengeratkan pelukannya. Ia pun merasa begitu terpukul mendengar penjelasan dokter tentang kondisi Jeno. Andai ia datang lebih cepat, Jeno pasti akan pulang bersamanya dan baik-baik saja saat ini.

Tak ada yang bisa ia lakukan selain mengusap-usap punggung Nathan sembari mencoba memberinya kata-kata penenang.

“Bang Jeno lagi berjuang di sana Na. Kamu tau kan seberapa kuat nya bang Jeno kita? Dia pasti bangun lagi. Dia pasti kumpul lagi sama kita. Dia Cuma butuh waktu buat istirahat sebentar.”

Nathan mengangguk meskipun terasa berat rasanya.

“Sekarang kita cari makan dulu yuk sekalian buat Papa. Jeno gak bakalan suka kalo kita sakit karena telat makan.”

Perlahan, Jeffrey melepaskan pelukannya lalu membantu Nathan yang masih sesegukan untuk berdiri. Ia mengusap air mata di pipi Nathan.

“Adiknya abang sama Jeno.” ucapnya seraya tersenyum.

“Abang bahagia banget punya adik yang begitu penyayang kaya kamu Na. Abang yakin Jeno juga ngerasain hal yang sama.”

“Jadi bang Jeno bakal bangun lagi kan bang?”

“Iya dong! Kita jangan pernah putus harapan. Yuk kita ke kafetaria”

Nathan mengangguk. Beruntung ia juga punya Jeffrey dan Sehun yang selalu ada di sampingnya saat Jeno tak bisa melakukan hal yang sama untuknya. Ia masih punya orang yang menguatkannya, menyemangatinya.

◆◆🥀◆◆

Bulan tenggelam, berganti dengan mentari pagi yang mulai melepaskan sinarnya yang terasa hangat. Orang-orang kembali melanjutkan untuk mengerjar berbagai hal yang mereka kejar setelah semalaman beristirahat dan bercengkrama sejenak dengan orang-oran tersayang.

DANDELION (JENO JAEMIN BROTHERSHIP) (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang