Nathan melangkahkan kakinya melewati gerbang sekolah dengan malas, setelah Jeno mengancamnya habis-habisan jika hari ini ia kembali bolos sekolah seperti beberapa hari kemarin. Ah, menyebalkan. Gerutuan itulah yang sedari tadi terucap di dalam hatinya.
Jika saja hari ini bukan hari yang di jadwalkan salah satu guru untuk melaksanakan ulangan, Nathan yakin Jeno tak akan memaksanya untuk berangkat sekolah dan ia bisa menemani Jeno pulang siang nanti. Ah iya, kabar gembiranya adalah, Jeno sudah di ijinkan pulang dari rumah sakit nanti siang.
"Nathan!"
Nathan menoleh begitu suara seseorang memanggil namanya dari kejauhan. Ia berbalik, lalu mengernyit heran saat Karina sedang berlari dari arah gerbang.
"Apa?" tanya Nathan dingin. Sedangkan yang di tanyai justru celingak-celinguk mencari seseorang.
"Loh abang lo belum sembuh Na? Dia gak masuk?"
"Apa peduli Lo?"
Karina merenggut tak suka dengan nada bicara juga kata-kata Nathan. ia tersinggung.
"Lo kok ketus banget sih sama gue? Emangnya salah kalo gue peduli sama kakak lo?"
Nathan berdecih. "Jangan lo kira gue gak tau lo cewe kaya apa, Karina. Lo inget kata-kata gue,"
"Sekali lo berani macem-macem sama abang gue, gue gak akan biarin lo bebas gitu aja. Dan gue gak punya toleransi buat siapapun yang nyakitin abang gue, meskipun itu cewek sekalipun!"
Karina hanya terdiam kaku begitu kata demi kata yang Nathan tekankan benar-benat membuatnya merinding ngeri.
Nathan pergi begitu saja setelah memberikan peringatan pada Karina. Sedari awal memang Nathan tak menyukai rumor yang pernah beredar mengenai Karina yang menyukai Jeno. Dan Nathan selalu memperhatrikan Karina sejak saat itu. Dan beberapa kali Nathan pernah tak sengaja melihat Karina akrab dengan Kevin. Tentu saja Nathan tak bisa berfikiran baik pada Karina sejak saat itu.
Karina meremat kain rok yang di kenakannya dengan kuat. dalam hati ia merutuki Kevin.
"Sialan si Kevin. Kakaknya emang bego tapi adeknya gak bisa di bodo-bodoin anjir!"
◆◆🥀◆◆
Jeno merenggut sambil memainkan ujung kemeja rumah sakitanya. Di saat ia sudah di berikan ijin untuk pulang ke rumah nanti siang, ia malah sendirian di ruangannya sekarang. Jeffrey tak bisa meninggalkan kuliahnya begitu juga dengan Nathan yang pagi tadi ia paksa untuk menghadiri ulangan. Sedangkan Sehun, sepuluh menit yang lalu Kai menelponnya dan mengatakan ada masalah di perusahaan yang mengharuskan Sehun turun tangan langsung.
"Selamat pagi anak ganteng."
Jeno mengalihkan padangannya ke pintu masuk, dan ia begitu terkejut begitu mendapati Yoona, neneknya sedang tersenyum sambil berjalan masuk. Dan yang lebih membuat Jeno terkejut adalah kehadiran David yang mengkuti Yoona dari belakang.
"Kakek? Nenek?"
Yoona tersenyum gemas lalu mencubit pipi Jeno pelan.
"Iya sayang."
"Gimana? Udah siap pulang sama Nenek sama Kakek?"
Mata Jeno membulat lucu.
"Kakek Nenek datang buat jemput Jeno?" tanyanya antusias. Seumur hidup, ini pertama kalinya ia pulang dari rumah sakit dengan Nenek dan Kakeknya.
"Iya sayang. gak papap kan?"
Jeno tentu saja mengangguk semangat. "Jeno seneng banget!"
Yoona tersenyum gemas. Ia memeluk Jeno beberapa saat. "Kalau gitu biar Nenek temuin Dokternya dulu ya. Nanti kita siap-siap pulang."

KAMU SEDANG MEMBACA
DANDELION (JENO JAEMIN BROTHERSHIP) (END)
Fanfiction"Kami saling terikat. Jika kau bertanya siapa yang paling aku takutkan tentang segalanya, maka aku akan menjawab, kakak ku Jeno dan juga keluarga ku." - Nathan "Berbahagialah. Kau harus menikmati hidup mu, Nana.." - Jevano. Bahasa Baku/Non Baku Ce...