Chapter 2 : Dunianya Argadinata

3.5K 310 8
                                    

"JENO LEE!!"

Jeffrey yang sedang memasukan buku-buku ke tasnya terdiam heran saat suara menggelegar Nathan terdengar hingga ke kamarnya. Di susul dengan ketukan pintu tak sabaran yang sudah di pastikan jika Jeno pelakunya.

Jeffrey menghela nafas. Akhirnya ia berjalan menuju pintu dan membukanya perlahan. Tubuhnya hampir oleng saat tiba-tiba Jeno masuk dan bersembunyi di balik tubuh tegapnya. Untung saja keseimbangannya cukup bagus.

"JENO LEE!" Teriak Nathan lagi, kali ini semakin dekat kearah kamarnya, membuat Jeno semakin beringsut bersembunyi.

"JEN-eh, abang.." kikuk Nathan saat mendapati Jeffrey yang menatapnya datar di pintu kamarnya.

"Kenapa lagi ini? Ini masih pagi tapi kalian udah teriak-teriak aja kaya di hutan."

Nathan menggaruk tengkuknya yang tak gatal, begitupun dengan Jeno yang tertunduk sambil memainkan jarinya, masih bersembunyi di balik tubuh Jeffrey.

"Hehe.. Maaf bang. Bang Jeno sih.." Adu Nathan.

"Sini lo bang! Jangan mentang-mentang badan lo lebih mini dari Bang Jeffrey, gue gak tau kalau lo sembunyi di belakang bang Jeff ya!" Ucap Nathan dengan nada kesalnya.

"Jen.." panggil Jeffrey pelan.

Jeno keluar dari persembunyiaannya sambil menunduk. Ia tak berani membantah jika Jeffrey sudah turun tangan.

"Kenapa? Jeno ngapain sampe Nana marah-marah?"

Jeno mendongkak, menatap Jeffrey dan Nana yang masih menatapnya tajam. Bibir Jeno mengerucut sedangkan matanya memelas. "Jeno ilangin kaos kaki Nana." Ucapnya lirih, kembali menunduk setelah selesai mengucapkan pengakuannya.

"Bener Na?"

Nathan mengangguk semangat, membenarkan. "Itu kaos kaki kesayangan Nana bang." Adunya pada kakak sulungnya.

"Tapi Jeno kan gak sengaja. Jeno lupa nyimpen dimana."

"Ya tapikan tetep aja kaos kaki Nana abang ilangin!"

Jeno menunduk lagi. Sedangkan Jeffrey menghela nafas entah untuk keberapa kalinya pagi ini. ia bahkan belum menyantap sarapan, tapi sudah di suguhi pertengkaran adik-adiknya.

"Jeno, kalo Jeno minjem barang orang lain, Jeno harus apa?"

"Harus di jaga" cicitnya.

"Kalo Jeno salah, Jeno harus apa?"

"Minta maaf."

Jeno menatap Nathan dengan mata memelasnya. Ia mendekat, lalu memegang tangan Nathan pelan.

"Nana, maafin abang."

Batin Nathan berperang dalam sana. Ia ingin sekali-kali untuk tak mengalah pada Jeno, namun lihat! Bagaimana ia bisa bertahan dengan acara marahnya jika Jeno malah menunjukan tampang seperti ini padanya?

 Ia ingin sekali-kali untuk tak mengalah pada Jeno, namun lihat! Bagaimana ia bisa bertahan dengan acara marahnya jika Jeno malah menunjukan tampang seperti ini padanya?

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
DANDELION (JENO JAEMIN BROTHERSHIP) (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang