Chapter 20: Kebetulan

1.7K 217 23
                                    

Hari minggu di rumah keluarga Sehun William Argadinata masih terlihat tenang. Belum nampak tanda-tanda kegaduhan dari para penghuninya, terutama dari si bungsu Nathan yang biasanya selalu mengusili Jeno dengan banyak tingkah randomnya.

Nathan masih tertidur di samping Jeno sambil memeluk boneka samoyed pemberian Sehun beberapa tahun lalu, sebagai hadiah ulang tahun untuknya.

Sedangkan Jeno, ia sudah terbangun sedari lima belas menit lalu. Ia hanya diam memandangi langit-langit kamarnya. Pikirannya sedang kembali mengingat percakapannya dengan ayah, abang dan juga adiknya semalam.

Semalam, ia baru saja menyetujui permintaan Sehun, Jeffrey dan juga Nathan untuk melakukan perawatan yang lebih intensif juga berhenti dari sekolahnya.

Jeno sebenarnya tak rela harus melepas salah satu hal yang ia suka. Sekolah adalah hal menyenangkan meskipun tak banyak yang ia dapat ataupun yang bisa ia lakukan di sana. Hanya di sekolah Jeno merasa ia hidup layaknya anak normal lain.

Namun Jeno tak ingin semakin membebani keluarganya. Ia sudah sangat beruntung di beri kasih sayang yang begitu melimpah dari Sehun, Jeffrey, Nathan, bahkan sekarang dari keluarga besar Argadinata. Belum lagi sang kakek juga yang secara langsung memintanya untuk menjalani serangkaian perawatan dan terapi.

Jeno hanya harus kembali berdamai dengan hatinya. Ini semua demi kebaikannya bukan?

Jeno menghela nafas. Ia melirik Nathan yang sepertinya mulai bangun dari tidur nyenyaknya.

Nathan merenggangkan badannya yang terasa kaku, sedangkan matanya masih tertutup rapat.

"Nana,"

"Hmm.." jawab Nathan tanpa membuka matanya sedikitpun.

"Abang pengen jalan-jalan ke taman pagi ini."

Mata Nathan mulai terbuka. Ia melirik ke arah Jeno dengan mata yang masih sayu dan terlihat memerah.

"Ngapain bang?"

"Ya jalan-jalan dong Nana."

Nathan menghela nafas. Ia bangun dari posisi nyamannya, berjalan ke samping ranjang Jeno.

"Oke deh. Yuk Nathan bantu siap-siap."

Nathan mendekatkan kursi roda Jeno lalu membantu Jeno duduk di kursi rodanya.

"Nyaman gak?"

Jeno mengangguk lucu beberapa kali.

Nathan tersenyum lalu mendorong kursi roda Jeno ke arah lemari untuk membantunya bersiap-siap.

◆◆🥀◆◆

Nathan mendorong kursi roda Jeno menuju sebuah taman yang tak jauh dari rumah mereka. Suasana minggu pagi yang sedikit ramai oleh anak-anak remaja yang berolahraga atau sekedar berjalan-jalan, sedikitnya membuat Nathan sedikit tak nyaman.

Mereka terus memandang Jeno dengan tatapan yang sulit Nathan artikan. Dan Nathan benci saat seseorang menatap kasihan pada Jeno. Nathan benci saat orang-orang menganggap Jeno lemah.

"Nana, abang lupa bawa air minum."

Nathan menghentikan langkahnya. "Abang haus?"

Jeno mengangguk.

"Ya udah abang tunggu dulu di sini bentar. Biar Nana beli minumnya."

Setelah Jeno menyetujui usulannya, Nathan membawa kursi roda Jeno dan menempatkannya di samping bangku taman yang tidak terlalu banyak orang berkerumum.

"Jangan kemana-mana!"

"Iyaaa.."

Begitu Nathan melenggang pergi, Jeno menatap ke atas langit. Begitu Indah, dan terlihat begitu luas tanpa batas. Jeno sering kali membayangkan, bagaimana jika ia memiliki dua sayap lebar di punggungnya, lalu terbang kemanapun yang ia mau. Melihat dunia dari jarak dan sudut yang berbeda. Melihat peradaban manusia di berbagai belahan dunia. Bukankah akan terasa luar biasa?

DANDELION (JENO JAEMIN BROTHERSHIP) (END)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang